Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

KOALISI>>AMBISI>>GALAGASI...??

Sekedar Berekspresi saja.
Berusaha tak banyak kata....
Karena beribu kata telah memenuhi ruang kita tiap harinya..."PENUH"
Tak tahu sebenarnya untuk siapa mereka bicara dan berbuat..
KOALISI atas Nama AMBISI..
GALAGASI politik kesana kemari, seperti tanpa Nurani..
Akhirnya semua seperti sebuah kesepakatan...Kita lihat saja nanti.
Tapi sepertinya telah terlanjur Basiii...


[+/-] Selengkapnya...

"Ritual Gunung Kemukus" di Gramedia Matraman

Mitos sepertinya menjadi satu sisi yang mengiringi realitas kehidupan masyarakat kita, entah dipercayai ataupun cukup berhenti pada posisi mitos belaka.
Sabtu kemarin sempet mengikuti Bedah Buku sebuah Novel berlatar Mitos (atau kenyataan sejarah?) dari penerbit medioker berjudul “Ritual Gunung Kemukus’ di Fuction Hall Gramedia Matraman lantai 2 Jakarta pusat. Dengan pembicara : Ahmad Sobary, Happy Salma dan F. Rahardi sebagai penulis, diskusi lumayan menarik diikuti. Tentu saja bercerita tentang mitos yang berkembang seputaran tempat wisata di sekitaran kampung halamanku di Sragen.
Ritual “srono” atau upaya meminta peningkatan kesejahteraan (kekayaan) dalam usaha mereka di Tempat Wisata Gunung kemukus ini sangat menarik diceritakan. Cerita tentang Pangeran (tokoh yang diziarahi) sendiri memang banyak sekali versi yang berkembang di masyarakat.
Cerita tentang Pangeran Samudra yang berkembang di masyarakat sendiri kurang lebih begini:
Pangeran Samudra sebagai anak Girindrawardhana atau Raja Brawijaya VI, dan Nyai Ontrowulan sebagai salah satu selir sang raja saling jatuh cinta. Sedangkan Prabu Brawijaya sendiri telah Moksa seiring dengan bubarnya majapahit. Mereke ke Demak untuk menikah, tetapi karena kecantikan Nyai ontrowulan, banyak petinggi Demak yang Jatuh cinta padanya dan mengejar-ngejar dia dan menggagalkan pernikahan mereka. Mereka Lari ke selatan untuk menyelamatkan diri. Di sebuah daerah hasrat keduanya tidak bisa ditahan lagi, sehingga mereka melakukanya di alam terbuka. Ketika itulah pasukan demak datang dan hubungan mereka terhenti. dan mereka dibunuh. Mereka dikubur dalam lubang yang sama. Tempat mereka erbunuh mengalir air yang jernih dan dinamai Sendang Ontrowulan. Dan Di makam mereka ada kukus (asap) dan adaa suara menggelegar; “wahai Manusia, barangsiapa ma datang ke tempat ini dan bisa menyelesaikan hubungan suami istri kami yang belum selesai, sebanyak tujuh kali, maka segala permintaan kalian, akan dikabulkan oleh Dewa Bathara yang Maha Agung.
Berbeda dengan versi yang berkembang di masyarakat, Pemerintah lewat Pemda Sragen mengubah cerita dengan tujuan memperbaiki citra kawasan wisata; Cerita yang berkisah tentang seorang tokoh penyebar agama Islam di sekitar daerah bukit ini (kelak dinamakan Kemukus). Pangeran Samudra meninggal dalam dakwah kemudian dikubur di atas bukit di bawah pohon nagasari. Ibu tiri pangeran yang bernama Nyai Ontrowulan sangat bersedih atas kematianya sehingga menyusul ke daerah ini hingga meninggal. Nyai Ontrowulan dikubur di sebelah kuburan anak tirinya ini.
Sebagaimana di Novel ini, aku juga tak tahu pasti alasan pemerintah punya versi lain dengan versi berkembang turun-temurun di masyarakat.
Sudut pandang Pemerintah daerah jelas sangat ambigu sebagai upaya membersihkan kesan negatif tempat ini dengan tujuan pragmatis, meningkatkan jumlah pengunjung dan pemasukan PAD.
Sejak kapan cerita ini diyakini oleh masyarakat dan Sejak kapan pastinya tradisi ziarah dan wisata ini berlangsung, aku kurang bisa memastikan. Sejak aku kecil dan masih hidup di sekitar Gunung Kemukus sampai proyek Waduk Kedung Ombo yang memisahkan area ini dengan kampungku sekarang.
Mungkin bagi yang belum mendengar tentang tempat ini pasti tidak percaya masih ada kepercayaan di masyarakat tentang ritual "berbau prostitusi" ini. Memohon diberi kemudahan dalam berusaha di Gunung Kemukus melalui perantara Pangeran Samudro da Nyai Ontrowulan secara nalar ketauhidan (sudut pandang agama) jelas sebuah kesyirikan tingkat tinggi. Mitos tujuh kali melakukan hubungan suami istri dengan pasangan yang sama namun bukan dengan istri atau suami kita sepertinya kok memang sebuah pemikiran “yang tak masuk akal. Tetapi terlepas dari semua itu, inilah kenyataan dan ironi di masyarakat kita.
Wujud perlawanan ketidakadilan?
Satu bagian di Novel “Ritual Gunung Kemukus’ juga menyitir tentang adanya bentuk perlawanan dari ketidakadilan yang dialami masyarakat miskin. Dalam novel yang diwakili oleh tokoh Sarmin seorang Penjual Bakso yang terlilit beban ekonomi. Atas desakan istri juga dia menjalani "srono" ini untuk meminta usahanya laris. Pada akhirnya tokoh ini tersadar dengan sebuah realitas manusiawi usaha yang berhasil harus dengan jalan dan usaha yang benar, bukan dengan tujuh kali ke Gunung Kemukus menjalani "ritual melenceng" dengan istri orang lain. Tokoh ini digambarkan berjuang untuk keluar dari ketidakadilan. Jika seorang penguasa dengan bebasnya melalukan segalanya tanpa rasa bersalah, tak ada yang salah dengan usahanya demi eksistensi hidup anak istrinya.
Sampai pada titik ini aku kurang sepakat dengan alasan perlawanan ketidakadilan. Ketidakadilan bisa jadi tantangan kehidupan untuk kita belajar menuju keadilan. Meskipun begitu kita tak sepenuhnya bisa menghakimi orang yang percaya akan ritual mencari pesugihan ini. Pemaksaan kebenaran kepada sesama adalah wujud ketidakdilan juga kata M. Sobary menanggapi hal ini.
Yang menjadi kunci adalah kepercayaan di dalam diri kita masing-masing. Kita harus menanamkan fundamentalisme ketauhidan dalam diri kita sendiri. Kepercayaan spiritual seseorang datang dari proses yang tak akan bisa dipahami orang lain. Melakukan ritual ini di Gunung kemukus adalah untuk yang percaya dan kita tak bisa memaksa untuk tidak percaya.
Bedah Buku dan launching Buku " Ritual Gunung Kemukus" di Gramedia Matraman sabtu kemarin sepertinya memberikan satu kenyataan yang sebelumnya jauh dari sudut pandang kita.

[+/-] Selengkapnya...

Satu Tahun dalam Satu Episode Kartun



Bisa jadi ini hal yang tak terlalu penting, bahkan terkesan remeh-temeh. Tetapi sindiran yang agak menggelitik, tak ada salahnya aku comot dari kartun si Beny n Mice Kompas minggu lalu sebagai bahan renungan kita.
Pertama kita akan pasti tertawa melihat cerita dalam adegan ini.
Tetapi sejenak kemudian pasti kita terhenti, bukankah kita menertawakan diri kita sendiri?

Rutinitas kaum urban yang mencari penghidupan di kota. Kerja keras dan rutinitas dalam keseharian, bisa jadi tanpa jeda. Di hari lebaran kita berhasrat merayakan perjuangan kita di kampung halaman. Bagi-bagi kebahagiaan dengan sesama, dan ini mungkin kebahagiaan tertinggi manusia ; “berbagi”. Puncak dari upaya menunjukkan pencapaian kita. Pada akhirnya jeda itu selesai dan kembali ke ritme semula, dan mulai dari nol..
Sesimple itukan hidup kita (khususnya kaum urban)? Saking simplenya hanya cukup diwakilkan dalam sebuah episode kartun.
Nyatanya hidup itu memang simple, kita saja yang membuat hidup ini rumit…

NB; Gambar diambil dari Kompas edisi e-paper

[+/-] Selengkapnya...

Akhirnya Kembali (lagi)..



Bila kehidupan punya jeda, Lebaran adalah satu dari jeda itu...
Bila kehidupan perlu Perayaan, Lebaranlah puncak perayaan itu.
Bila Kehidupan perlu Silaturahmi, lebaran-lah puncak selebrasi silaturahmi.
Bila Kehidupan adalah perjalanan menuju kampung akherat. Lebaran adalah pulang ke kampung halaman.
Bila Kehidupan perlu makan enak, Lebaranlah waktu makanan enak muncul bersamaan...(
mak nyuss)...
Lebaran adalah kehidupan, dan juga Perayaan kehidupan…
.


Tradisi mudik tahunan untuk merayakan lebaran tak lekang oleh waktu, bahkan semakin menunjukkan sebagai "tradisi abadi" bangsa ini. Toh di tengah semakin mudahnya orang bersilaturahmi dan bersapa dengan semakin luasnya jaringan informasi, belum afdol jika belum mudik bertemu sanak saudara.
Lebaran mempunyai banyak arti bagi banyak orang. Setelah satu bulan berpuasa, satu tahun beraktifitas (bisa jadi tanpa jeda). Bila dalam konteks agama puasa adalah menuju manusia bertaqwa , maka dalam konteks masyarakat lebaran merupakan akhir dari proses manusia yang “eling lan waspadha”. Selalu ingat dan waspada, adalah arti taqwa secara sederhana. Lebaran selalu saja mengingatkan segalanya.
Merayakan Kehidupan ?
Bila sebuah kehidupan layak dirayakan, kapan saat tepat merayakanya? Bagi sebagian orang (baca kaum urban) lebaran-lah waktu yang tepat. Kerja setahun tanpa henti, tanpa jeda, demi mendapatkan kehidupan layak. Lebaran waktu yang layak untuk menunjukkan keberhasilana pencapaian itu. Proses ini telah ter-Komodifikasi dalam bentuk pencapaian material. Seseorang yang berhasil maerantau dengan membawa capaian keberhasilan dalam bentuk-bentuk berwujud material. Kendaraan yang mewah, dandanan modern, kantong tebal, adalah beberapa contoh diantara parameter keberhasilan.
Bagiku lebaran adalah rehat sejenak dari rutinitas untuk kemudian berevaluasi menata kembali rencana masa depan. Bila orang beresolusi di awal tahun, aku berusaha punya resolusi di lebaran ini untuk minimal satu tahun ke depan untuk mewujudkan rencana yang belum tercapai. Banyak dan tak akan selesai tertulis dalam satu lebar kertas folio.
Mendadak Filosofis nih...
Akhirnya jeda itu berakhir juga…
Akhirnya kembali lagi menjejaki Jakarta dengan hiruk pikuknya....
Merayakan kehidupan sehari-hari yang sebenarnya…
"Ke Jakarta aku akan Kembali " kata Koes Plus....

[+/-] Selengkapnya...

Petruk Dadi Ratu


Gambar Kaos yang aku beli pekan lalu

Akhir Pekan lalu, aku mudik ke Sragen karena memperpanjang SIM yang sebentar lagi kadaluarsa. Di sela waktu mudik aku bareng temen kampung jalan-jalanke Solo dan maen ke PGS (Pusat Grosir Solo). Iseng nyari hem batik yang cocok (harga dan gaya), kali-kali cocok dipakai kerja hari Jum'at. Tetapi malah nemu kaos bergambar unik. Wayang bertajuk "Petruk Dadi Ratu" atau Petruk jadi raja aku temukan di sebuah kios di lantai dasar PGS. Wah ini dia kaos yang aku cari, tanpa pikir panjang aku membeli kaos ini.

Apa pesan dari lakon ini sebenarnya?.
Versi kaos ini, Petruk Dadi Ratu menggambarkan lakon wayang tentang ambisi seseorang untuk menjadi pemimpin.Tetapi setelah mendapati keinginannya dia lupa akan janjinya. Dpetruk jadi Jadi semena-mena. Tetapi pada akhirnya dia dikalahkan oleh seorang gareng yang menjadi simbol Rakyat biasa.

Abdul Munir Mulkan (lihat Kompas 28 Juni 2008) menggambarkan: Lakon "Petruk Dadi Ratu" sebagai lakon simbol pembangkangan terhadap kesewenangan penguasa.  Dijelaskan, saat penyimpangan para dewa meluas, para punakawan—Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong—mulai membangkang. Puncak pembangkangan terjadi ketika Petruk melabrak Kahyangan Jonggring Saloko (istana para dewa), mengobrak-abrik dan mendekonstruksi tatanan yang selama ini dipakai para dewa serta juragan (elite) untuk berselingkuh. Arjuna, sang juragan yang biasanya dilayani punakawan, dipaksa mematuhi titah Petruk, sang raja baru. Saat itulah Petruk membuka seluruh aib para dewa dan juragan, saat semua kekuatan pengontrol lumpuh oleh perselingkuhan kolektif. Geger kahyangan itu hanya bisa diredam Sang Semar, yang dalam mitos pewayangan dilukiskan sebagai dewa yang turun ke bumi menjadi pangawas kehidupan di mayapada.


Aku lupa-lupa ingat waktu kecil pernah liat lakon ini, karena aku paling suka Punakawan dengan lakon "Goro-goro"-nya. Tetapi akubener-benar lupa gimana jalan cerita sebenarnya. Tetapi yang paling penting cerita ini sangat aktual sebagai refleksi bersama menjelang Pemilu 2009.
Saat ini sepertinya lakon tersebut sangat relevan dengan apa yang terjadi di bangsa ini. secara gradual terjadi ketidakpercayaan rakyat terhadap pemimpin yang semakin menguat menjelang Pemiliu 2009.Kesewenganan dan penyelewengan pemimpin bangsa ini sepertinya telah memasuki wilayah yang sangat memuakkan.

Pembangkangan

Kita sudah terbiasa mendengar para wakil rakyat sangat biasa melakukan suap, perselingkuhan, dan penyimpangan moral. Disamping itu proses demokrasi berjalan penuh dengan "akal-akalan" semata. Kekuasaan semakin terlihat jelas sebagai upaya politik "bagi-bagi kekuasaan" semata.Pada akhirnya bukan tidak mungkin akan terjadi pembangkangan-dalam bahasa sekarang demonstrasi- rakyat terhadap penguasa. Sangat nyata demonstrasi akhir-akhir ini 
Kita sendiri mungkin bingung kemana ujung jalan bangsa ini melangkah. Sangat ngeri bila terjadi "pembangkangan-pembangkangan" di alam demokrasi ini. Bisa jadi ini adalah resiko demokrasi. tetapi sampai kapan kita akan menunggu?. Pemilu 2009 semoga saja akan menghasilkan pemimpin-pemimpin yang punya nurani dan kapabilitas. Jangan lagi kita akhirnya sampai memilih pemimpin seperti dalam lakon "Petruk Dadi Ratu".

[+/-] Selengkapnya...