Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

BOM Mengubah Segalanya.


Teror Bom di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton (Jum'at ,17 Juli 2009) di Kawasan Kuningan Jakarta seperti sentilan yang tiba-tiba membuyarkan segala skenario yang selama ini berjalan lancar. Bukan saja iklim keamanan negara kita, tetapi efek Domino di segala bidang. Batalnya klub sebesar MU adalah efek nyata yang langsung dari kejadian ini. Event ini sejatinya akan menjadi simbol aman dan kemampuan kita mengadakan pertandingan kelas dunia. Indonesia yang berencana mencalonkn diri sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 mundur teratur karena kejadian ini.
Satu Kejadian Berefek ke Berbagai Bidang.
Teror Bom kali ini seperti mengubah semua proses di berbagai bidang kita kembali mundur lagi. Proses Demokrasi dan Politik yang sangat dinamis dan teduh beberapa tahun ini kembali terusik.
Pernyataan SBY tentang ada sekelompok golongan tak puas dengan hasil pemilu dan dijadikanya dia sebagai sasaran teror seakan membuat ekskalasi perpolitikan menjadi panas setelah aman selama Pemilu dan Pilpres berlangsung. Entah apa maksud presiden membuat spektrum masalah menjadi melebar. Bisa jadi pernyataa SBY memang benar, tetapi bisa jadi terlalu dini menyimpulkan. Yang Jelas Iklim Politik ke depan mungkin tak semulus pasca Kesuksesan Pemilu 2009 beberapa hari kemarin.
Di bidang Pariwisata, jumlah wisatawan yang bergrafik meningkat beberapa tahun ini harus dimulai dengan kembali meyakinkan dunia akan keamanan Indonesia untuk mempertahankan iklim positif ini. Iklim pariwisata kembali ketar-ketir menghadapi kejadian ini. Traumatik Bom Bali I dan II kembali menghantui para pelaku jasa sektor ini.
Di bidang Sosial keagamaan tentunya akan kembali diliputi isu-isu lama yang selama ini telah hampir hilang. Kelompok Jama’ah Islamiyah yang notabene dicitrakan sebagai kelompok Islam radikal dan bercitra teroris ternyata belum mati, setidaknya itu analisa awal media atas kejadian ini. Gembong lama kelompok Nurdin M Top Cs tentu akan kembali di buru ke berbagai daerah secara intensif . Tentunya ujung-ujungnya berdampak pada Umat Islam yang selama ini selalu menerima getah atas kejadian teror yang berlangsung.
Semoga semua dugaan saya ini salah. Teror bom di Kuningan itu kita harapkan cuma upaya sekelompok masyarakat minoritas yang tak puas dengan keadaan Dunia, sehingga selalu cari gara-gara.
Pertanyaannya Kenapa masih saja ada segelintir orang yang senang menebar kedengkian. Satu Kedengkian akan menyulut kedengkian yang berkepanjangan, bahkan sangat susah untuk dihentikan.
Semoga Kita Semua Bisa bersatu dan saling menguatkan menghadapi semua Teror ini.
Satu kata kita harus tetap Optimis.

[+/-] Selengkapnya...

KOALISI>>AMBISI>>GALAGASI...??

Sekedar Berekspresi saja.
Berusaha tak banyak kata....
Karena beribu kata telah memenuhi ruang kita tiap harinya..."PENUH"
Tak tahu sebenarnya untuk siapa mereka bicara dan berbuat..
KOALISI atas Nama AMBISI..
GALAGASI politik kesana kemari, seperti tanpa Nurani..
Akhirnya semua seperti sebuah kesepakatan...Kita lihat saja nanti.
Tapi sepertinya telah terlanjur Basiii...


[+/-] Selengkapnya...

Berkurban

Hari ini masih terhitung Hari Tasyrik, dimana masih dalam suasana Idul Adha atau Idul Qurban. Makna kurban sendiri akan selalu aktual sebagai sarana refleksi kehidupan. Kurban adalah sesuatu sarana mengikhlaskan kepunyaan atau kesenangan untuk kesenangan dan kebahagiaan yang lebih hakiki.
Pengorbanan dalam kehidupan kita sehari-hari sering terwujud dari pemaksaan kita untuk sejenak merasakan sedikit ketidakenakan demi keenakan yang lebih di masa datang kita. Sacrifice atau pengorbanan sepertinya telah akrab di dalam kehidupan rutin kita. Misal kita harus merelakan sebagian penghasilan kita demi kepuasan (bermakna sepiritual mungkin) ataupun kepuasan lainnya di masa yang akan datang. Charity , zakat, Kurban itu sendiri adalah satu contoh kecil dari pengorbanan kecil itu untuk berbagi (share) dengan sesama. Satu hal yang juga penting adalah makna berbagi yang tampaknya akan selalu aktual dalam kehidupan kita. Seseorang yang mau berkurban dan berbagi untuk sesama adalah Pahlawan, demikian inti pesan sebuah iklan partai politik (Tapi kok jadi beda artinya jika menyangkut partai ya?...).
Makna Kurban yang lainnya adalah sifat keikhlasan yang selalu menjadi modal dan landasan hidup kita. Ke-Iklhasan Nabi Ibramahim AS dan putranya Ismail AS adalah wujud ke-ikhlasan yang nyata sebagai teladan. Sebagai seorang ayah dari seorang anak yang sangat dicintai, harus ikhlas mengorbankan anaknya demi satu perintah Allah SWT. Keikhlasan dan keyakinan telah melandasi peikiran Ibrahim AS untuk kebahagiaan dan keridloan Allah yang bersifat keniscayaan.Demikian juga keikhlasan melandas jiwa Ismail AS untuk mempercayai (trust) meskipun hanya sebuah perintah, lewat mimpi malah, ayahanda tercintanya.
Ajaran Kurban mencerminkan keunggulan manusia dibanding makhluk lain. Sifat agung manusia yang harus punya ; Pemikiran, Keyakinan, dan Keikhlasan telah secara menyatakan kita bukan bangsa binatang yang secara keji tega memangsa kawan seiring, menggunting dalam lipatan atau sifat liar dan menghalalkan segala cara lainya.
Ajaran Kurban adalah wujud ikrar kita untuk menjadi manusia yang iksan yang selalu berusaha membunuh sifat kebinatangan dalam diri kita yang sering tidak kita sadari. Beringas dan sering tak sabar menghadapi keadaan sekitar kita.

[+/-] Selengkapnya...

Jakarta, 21 Februari 2012 (J-21022012)

Tanggal ini sekitar tiga puluh delapan bulan lagi, akan terjadi sebuah kejadian yang tak akan dilupakan oleh warga kota ini;
Hari ini tanggal 21 Februari 2012 -hari yang unik secara kalender- Jam menunjukkan pukul 13.13 WIB. Entah kebetulan atau tidak seluruh kendaraan di kota ini mengalami macet total di hampir seluruh kota Jabodetabek sampi ke gang kecil sekalipun. Kejadian berawal dari pemadaman listrik kota Jakarta dan sekitarnya (biasa kan pemadaman bergilir). Semua aktifitas kantor dan kegiatan lain berhenti dan karyawan terpaksa pulang berbarengan. Berbarengan dengan pemadaman listrik, sistem Traffick manajemen Lalu lintas secara tiba-tiba mengalami kerusakan hampir menyeluruh di penjuru kota. Kemacetan benar-benar menunjukkan titik puncak dari "Keadaan stagnasi" Lalu lintas Kota Jakarta.
Siang ini adalah siang tersial dari warga kota. Secara kebetulan Cuaca menunjukkan titik kulminasi tertinggi walau Februari masih dalam hitungan musim penghujan. Anomali iklim membuat cuaca benar-benar panas sampai hampir menyentuh angka 40 derajat Celcius. AC kendaraan tidak banyak menolong suasana panas pengendara. Suasana sangat membuat kesal bahkan berlangsung sangat lama hingga berjam-jam.
Suasana yang sangat kacau ini berpuncak pada satu kejadian : Seluruh pengendara tanpa kecuali keluar dari mobil (untuk yang bermobil) dan meninggalkannya di tengah jalan menuju tempat lebih nyaman (Mall tentunya). Bagi pengendara motor menaruh seketika sepeda motornya di tengah kemacetan. Secara spontan mereka mengumpat terhadap kotanya
"Oh Benar-Benar Kota Yang Memuakkan"...(maaf sekedar Ilustrasi saja)....
Tentunya Kejadian ini memang khayalan dan rekaanku belaka. Tanggal rekaan biar keren, keadaan rekaan(dan serba kebetulan ) biar tambah ilmiah. Spontan saja punya ide cerita gila ini. Di tengah banyaknya prediksi kejadian di masa datang, tema stagnasi lalu lintas jakarta menjadi tema yang selalu menarik. Benang kusut lalu lintas Jakarta sangat menujukkan kegagapan pemegang kebijakan kota ini membuat lebih baik. Isu teranyar adalah usulan kenaikan tarif parkir. Di tengah masih acak-acakanya perpakiran Jakarta, tampaknya usulan ini dianggap upaya tangan panjang oknum menambah setoran (baca; premanisme) yang justru digaungkan oleh Kapolri Baru.
Pembenahan Pola Transportasi Makro (PTM) Jakarta bukan tanpa upaya solusi serius dari Pemerintah. Simak saja program ke depan Pemerintah:
1.Transjakarta ( TiJe atau Busway)
Dimulai oleh Transjakarta (dikenal dengan Busway) sebagai moda angkut massal dengan memakai sebagaian badan Jalan untuk jalur khusus Bus berdaya angkut besar. Hasilnya bisa kita lihat setelah diluncurkan empat-lima tahun silam nampaknya sebagian masyarakat berpendapat Dengan jumlah saat ini sekitar 10 koridor (rencananya 15 koridor, Kompas 17-11-08) Transjakarta justru menambah kemacetan dimana-mana. Keberhasilan Transmilenio sebagai proyek acuan TiJe di Bogota Kolombia nampaknya sangat beda karakter lalu lintas maupun habit bertrasportasi warga Indonesia dan Kolombia.
2.Waterway.
Proyek selajutnya yang lebih dibilang kurang terencana (baca :gagal) adalah Waterway. Proyek yang hanya bertahan seumur jagung terkendali elevasi sungai di Jakarta yang tak mundukung.

Yang direncanakan
Proyek trasportasi massal selanjutnya memang menunjukkan langkah lebih serius. Moda yang lebih modern dan dengan daya angkut massal seperti;
1.Proyek Monorail
Proyek yang direncakan untuk angkutan Massal di lingkar District Bisnis dan sudetan arus tengah kota memang berpotensi mengurangi beban jalan oleh kendaraan umum. Bila Proyek ini macet, lebih karena kurang cakapnya skenario pemerintah bekerjasama dengan pihak Investor sebagai proyek yang menguntungkan.
2.Proyek Mass Rapid Transit (MRT)
Proyek angkutan Mahal ini direncanakan memotong jalur lewat bawah tanah dari daerah pinggiran ke tengah kota. Direncanakan proyek awalnya adalah Lebak Bulus sampai Dukuh atas (Jl. Sudirman) Proyek ini yang paling potensial sekaligu super mahal. Jika ini terlaksana Jakarta akan jadi kota super modern dan lebih bergerak cepat.
3.Kereta Api Bandara
Kereta ini sebagai pintu penjemput penumpang Pesawat di tengah kota. Dengan sistem City Check In di stasiun keberangkatan akan mengurangi "waktu sia-sia" kita menunggu Pesawat di Bandara. Rencananya Kereta ini mengurangi penumpukan kendaraan di satu-satunya jalur (Jalan Tol) yang banjir besar tahunlalu.
Disamping proyek utama dari PTM tersebut masih ada proyek pendukung lainnya yang menurutku lebih murah untuk difokuskan di awal. Jalur Kereta Api Jabotabek sangat potensial dikembangkan lebih bagus (sekarang?, mungkin lumayan saja). Jalur kereta dari Hinterland Jakarta semacam Double Track Serpong, Bekasi dan Bogor sangat menunjukkan moda yang potensial mengurai penumpukan kendaraan pribadi di jalan raya. Selain adanya kereta reguler sebagai moda trasportasi murah. Jalur ini sangat minim resiko gesekan kepentingan masyarakat bila dikembangkan lebih intensif.
Bila program PTM ini berjalan seperti rencana kejadian ilustrasi di awal tulisan kemungkinan besar tak terjadi. Melihat keadaan sekarang kita diberi dua kaca mata melihatnya. Kacamata buram yang selalu melihat keadaan serba tak menentu atau kacamata Baca yang jernih yang melihat segala sesuatu dengan optimisme.
J-21022012 adalah angka yang indah, namun akan menjadi angka sial sejarah kota ini. Ayo kita dukung dari hal yang paling kecil. Semampunya kita berapresiasi saja.Nuwun....

NB:
Gambar Diambil dari sini
Ditulis karena Saat timku lagi pusing dengan Proyek Sayembara "Stasiun Kereta Api Interchange Dukuh Atas" Jakarta.

[+/-] Selengkapnya...

Titah Raja Jawa & Fenomena Demokrasi Kita.


”Dengan mohon petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Esa dan dengan niat yang tulus memenuhi panggilan kepada Ibu Pertiwi, dengan ini saya menyatakan siap maju menjadi Presiden 2009”
Ucapan singkat Sang Sultan (Sri Hamengku Buwana X) yang serta merta diikuti gemuruh ratusan ribu warga Jogja dan sekitarnya. Perhelatan Pisowanan agung sebagai wujud demokratisasai warga dan wujud uniknya demokrasi Indonesia. Pisowanan Agung bisa jadi wujud peninggalan budaya jaman Feodalisme -yang masih kuat di dalam hati rakyat.

Pisowanan Agung yang berasal dari budaya “Tapa Pepe” sebagian rakyat untuk berkeluh kesah kepada rajanya untuk meminta petunjuk solusi (lebih lengkapnya lihat disini). Seiring berjalan jaman Tapa pepe berkembang menjadi pisowanan agung sebagai wujud demokrasi rakyat. Sesuatu yang tak bisa kita pungkiri sebagai satu wujud demokratisasi rakyat yang simpel dan tanpa berbelit-belit.
“Kesengsem pada Sultan” demikian ungkapan Pengamat politik Ikrar Nusa Bhakti di Kompas (01/11/08) sebagai wujud eforia warga Jawa (Jogja khususnya) mendamba datangnya pemimpin baru bangsa ini. Tak mudah memang menebak gerak gerik Sultan beberapa bulan ini menghadapi dilema sang Raja Jawa yang tesisa ini (sekarang satu-satunya raja yang punya kuasa di struktur pemerintah). Posisi dilematis yang justru dilihat langkah politik yang “Malu-Malu Mau” oleh berbagai kalangan. Dilematisnya posis dia bile kelak jadi presiden. Tak mungkin di jaman demokrasi yang sedang dibangun bangsa ini merangkap tiga posisi sekaligus; Presiden, Raja dan Gubernur DIY. Meskipun kasus ini juga dialami ayahanda beliau. di Jaman Orde baru. Tetapi sekarang tak mudah membiaskan demokrasi disaat rakyat tau segala bias sang pemimpin mereka. Kegagapan Negara menghadapi dilema ini ditambah oleh ungkapan abadi perpolitikan;” Tak ada lawan atau kawan yang abadi, yang abadi adalah kepentingan". Sultan datang ancaman datang. Partai Golkar sebagai payung Sultan dalam berpolitik terlihat gugup melihat gejala ini. Terbaca sebagai Kemunduran berdemokrasi saat Jurus “Konvensi Partai” yang ditiadakan adalah rabaan yang sah menurutku terhadap gerak partai beringin ini. Ketakutan tokoh sentral yang sangat ambisius akan munculnya kuda hitam di partai ini diupayakan dibendung sejak awal oleh tokoh-tokoh ini. Ini adalah gejala ketakutan menghadapi kenyataan demokrasi.

Satrio Piningit dan Kerinduan Datangnya Pemimpin Sejati
Kembali ke persoalan Sultan, di luar permasalahan Sultan yang akhirnya “naik gunung” untuk meramaikan bursa Capres. Kasus Sultan sangat unik, di luar dia sebagai raja dan gubernuh daerah Istimewa. Apakah ini wujud demokrasi kita gagal? Bisa ya bisa jadi tidak. Eforia dukungan kepada Sultan bisa jadi menggelinding, tetapi bisa juga akan surut oleh sistem demokrasi yang pelan-pelan “dinikmati” juga oleh rakyat. Raja Jawa kembali adalah wujud kerinduan sosok pemimpin yang tak kunjung datang. Demokrasi tanggung dan instant yang diterapkan para birokrat saat ini pelan tapi pasti mengikis roh demokrasi yang justru mau kita tuju. Jawaban Feodalisme datang atau belum hilang bisa jadi adalah justifikasi yang prematur. Tetapi aku yakin Sebuah tesis akan selalu muncul antitesisnya. Sepertinya kerinduan akan “Satrio Piningit” yang datang untuk menyelamatkan rakyat tetap menghiasi mimpi-mimpi kita. Di saat sistem demokrasi yang kita gadang justru terseok menuju senjakala. Sang Raja siap bertitah menjadi kesatria penyelamat. Ironi demokrasi yang selalu menghiasi keunikan bangsa ini.

NB:Gambar diambil dari sini

[+/-] Selengkapnya...

Sumpah "Pemuda", Udah Basi?



Sumpah tulisan ini agak basi, tapi biar tidak basi mohon sejenak membaca.Jika kita masih merasa basi, Berusahalah untuk memperbaiki diri dan bergerak cepat untuk tidak semakin basi.
Saat ini Bangsa kita tak butuh sumpah , hanya butuh kita tak jadi "generasi basi" untuk memajukan bangsa ini. Bangsa kita akan semakin bete bila kita semakin basi...
Sumpah, basi banget ya kita....?


Sebenarnya Tulisan ini kutulis tiga hari lalu saat negeri ini memperingati 80 tahun ikrar pemuda dari berbagai penjuru nusantara. Mungkin basi membicarakan tema ini saat begitu cepatnya berita silih berganti . Saking basinya aku coba untuk "Ngeles" tema ini menjadi sebuah opini tentang peran Pemuda Indonesia. Terlepas ini  masih berhubungan dengan Sumpah Pemuda atau tidak.
Sumpah 80 tahun lalu wujud integritas pemuda terhadap bangsanya waktu itu. Pertanyaan selanjutnya, apa wujud integritas saat ini secara nyata? Berbagai kalangan memandang semangat kaum muda terhadap nilai-nila kebangsaan mulai luntur. Berbagai kenakalan yang timbul oleh Pemuda bisa dijadikan contoh. Tawuran pelajar dan mahasiswa, meningkatnya kasus narkoba dan berbagai stigma miring lengkap melekat di baju pemuda.
Dalam sebuah kolom opini di sebuah surat kabar disebutkan;
Apakah bisa pemuda saat mengambil posisi dan berperan seperti generasi muda tahun 1908, 1928, 1945, 1966, 1978, dan 1997. Tantangan itu didasari kenyataan bahwa di permukaan generasi muda saat ini kelihatan santai dan lebih memilih nongkrong di kafe atau pinggir jalan daripada serius memikirkan bangsa.
Wajar saja sih, di saat gempuran budaya global saat ini justru pemuda mempunyai tugas ganda. Satu sisi sebagai individu dan satu sisi dituntut peran sosialnya terhadap masyarakat dan bangsa. Mungkin tantangan ini tak sebesar masa tahun-tahun di atas tadi. Permasalahan saat ini pemuda kebanyakan kehilangan panutan. Panutan yang lebih menonjol justru bukan lahir dari mainstream kebutuhan pokok bangsa. Artis lebih terkenal dari tokoh masyarakat, penyanyi lebih didengar dari pada pemimpin masyarakat. Akhirnya orientasi pemuda seakan kabur, dan semakin lama terbentuk mental yang pragmatis di antara kaum muda.
Di Satu sisi Perubahan Bangsa menjadi sebuah deadline perjalanan bangsa. Kepemimpinan Nasional diragukan, kehausan tokoh pembaharu demikian besar. Saat demam "Saatnya Yang Muda Memimpin", gerak tokoh muda yang melatar dan membumi  seakan kering. Disilah letak kosongnya peran Pemuda satu dasawarsa ini.
Seperti apa Peran Pemuda saat ini?
Pertanyaan yang cukup luas. Tapi aku berpikir tak ada beda Muda atau Tua. Muda lebih pada harapan yang panjang untuk kelanjutan negeri ini. Bila Pemuda Tahun 1928 bersumpah untuk: Bertanah Satu,Berbangsa Satu, dan Berbahasa satu, seperti apa Aktualisasi peran itu saat ini?
Kembali ke tema basi di awal. Peran terbaik adalah melakukan hal terbaik yang kita jalani saat ini. Pelajar tekunlah belajar, Pekerja tekunlah bekerja. Pejabat tunjukkan pengabdian sebagai abdi bangsa. Saat satu sisi telah berjalan pada jalur yang benar, bangsa ini akan kembali ke jalur yang benar.
Gampang amat solusinya?
Siapa bilang susah. Bila kita menganggap susah berarti tanda-tanda kita menuju ke'basi"-an ada dalam diri kita. Ah basi bangetpostingan-ku kali ini. Yah Setidaknya masih berusaha untuk tidak selalu basi.....

NB :Gambar diambil dari pemuda masa kini

[+/-] Selengkapnya...

Selamat Hari Blogger Nasional 2008



Ternyata hari ini adalah hari Blogger Nasional.
Meskipun aku termasuk Newbi dan kacangan dalam urusan nge-blog tak apalah aku ikut menyemarakkan ruang sosialita yang semakin menyebar di masyarakat dunia maya ini. Budaya Nge-Blog sendiri di Indonesia jika tak salah telah berkembang di awal tahun 2000an. Sekarang menurut Wicaksono sebagai Chairman Pestablogger 2008, saat ini blogger di Indonesia berjumlah tak kurang dari 500.000 pe-blogger.

Hari Blogger Nasional
Hari Bolgger Nasional sendiri dedeklarasikan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Mohammad Nuh tanggal 27 Oktober 2007. Deklarasi bersamaan dengan penyelenggaraan acara Pesta Blogger 2007 di Blitz Megaplex Grand Indonesia, Jakarta.
Pesta Blogger 2007 sendiri adalah sebuah acara gathering para blogger Indonesia yang dihadiri hampir 500 orang perwakilan dari banyak komunitas blogger Indonesia. Acara tahun pertama itu mengusung tema “Suara Baru Indonesia” dan didukung oleh Departmen Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia.
Pesta Blogger 2008 sendiri akan bertema “Blogging for Society” yang rencananya akan digelar pada hari Sabtu, 22 November 2008, di Gedung BPPT II, Lantai 3, Jl. MH Thamrin no. 8, Jakarta (seberang Hotel Sari Pan Pacific). Acara Ini diperkirakan dihadiri sekitar 1000 blogger se-Indonesia.
Akhirnya Selamat Hari Blogger Nsional  untuk semua Blogger di Indonesia.
Semoga membuat Indonesia lebih semarak lagi . Salam Hangat...

NB: Bagi yang ingin berpatisipasi di Pesta Blogger 2008
Bisa melihat Info lengkap Pesta Blogger 2008 ada di : pestablogger.com

[+/-] Selengkapnya...

Memilih "Kaca Mata" dalam Melihat Krisis



Kehidupan bukan soal kepada peristiwa apa yang sedang terjadi, tetapi soal bagaimana kita menghadapi peristiwa itu. Atau lebih jauh mengutip Randy Pausch ( Last Lecture); “Kita tidak bisa mengubah kartu-kartu yang dibagikan kepada kita, kecuali bagaimana cara kita memainkannya”. Perlu kacamata yang tepat untuk melihat segala peristiwa yang terjadi. dalam bahasa lebih awam cara pandang kita. Terus kacamata apa yang tepat untuk melihat kondisi  krisis global saat ini?

Krisis global yang bermula dari macetnya kredit perumahan Subprime Mortgage di Amerika. Rontoknya lembaga keuangan raksasa Lehman Brother disusul anjloknya pasar bursa dikhawatirkan akan menjadi resesi dunia berkepanjangan. Rontoknya Imperium Ekonomi Amerika membuat banyak analisis berpendapat ini pertanda akhir Ekonomi Liberal Kapitalis. Setauku ekonomi Amerika dan kebanyakan Negara maju banyak disokong oleh sektor keuangan (dengan segala macam pembiayaan) yang biasa disebut “ekonomi lipstick”. Ekonomi didasarkan pada “optimisme berlebih”, sehingga menimbulkan gelembung kosong pertumbuhan yang akan meledak suatu waktu.
Melihat Posisi Ekonomi Indonesia.
Sebagai salah satu anggota ekonomi global, pastilah Indonesia kena getahnya. Indeks Bursa anjlok, Rupiah melemah dan akhirnya kepanikan yang tak perlu dimanfaatkan pihak tak bertanggung jawab (baca para spekulan).
Sebenarnya kita harus melihat krisis ini dengan kacamata yang berbeda. Secara riil bursa saham di Indonesia masih sedikit kontribusinya dalam ekonomi dalam negeri.Menurut para ekonom cuma sekitar 5% saja. Ekonomi kita banyak bergerak di sektor riil dan terbukti lebih tahan krisis seperti usaha di bidang UKM. Memang dampak krisis keuangan di AS menjadikan efek domino kepada kita. Kepanikan para investor –yang kebanyakan asing- banyak menjual saham yang berakibat turunnya indeks. Para investor asing mengalihkan dananya ke luar yang berakibat nilai Dolar AS naik. Ironisnya ekonomi kita memakai kondisi psikologis yang didasarkan nilai Dolar. Dolar naik ekonomi panik ditandai harga yang semua naik karena kita telah kebanyakan barang import.
Singkatnya kita harus melihat kondisi sekarang dari sudut padang peluang. Mengambil hikmah dari “Gelas Setengan Isi atau setengah kosong”, ini adalah turning point kita untuk bangkit. Contoh sederhana adalah:
1. Kita harus menguatkan kekuatan ekonomi dalam negeri dalam bentuk: “ Kemandirian”.
Simpel tetapi susah karena kita sudah masuk dalam pusaran kapitalisme global.
Satu contoh ; Ekonomi riil nonformal adalah wujud kemandirian rakyat. Sudah saatnya fokus kita adalah menguatkan pertumbuhan sektor ini dengan semakin memudahkan kredit UMKM.
2. “Cinta Produk dalam negeri” sudah saaatnya bukan sebatas slogan tetapi menjadi kebutuhan bersama.
Iklan Politik Prabowo mungkin agak relevan dengan kasus ini, produk kita tidak kalah dengan luar negeri dan sudah saatnya porsi konsumsi -bentuk maupun cara - dalam negeri kita tingkatkan. Kalau bukan kita, siapa lagi?
3. Produk Ekspor berbahan baku lokal haruslah punya “Added Value”
Pengolahan hasil pertanian atau sumber daya alam lainnya akan membuka lapangan kerja dalam negeri dengan adanya industri pengolahanya. Sekali lagi kemandirian
4. Percaya kepada Kebijakan Pemerintah .
Kepanikan yang terjadi selama ini karena ekonomi fundamental Indonesia kurang kuat dan sering termakan oleh isu tak bertanggung jawab, bukan percaya sepenuhnya pada kebijakan dan advice dari pemerintah.

Melihat peristiwa memang harus jelas dan tau posisi kita sebenarnya. Bila kita kurang jelas melihatnya, ambillah "kaca mata" yang tepat untuk membantu dengan jelas melihat. Salah Kaca mata akan berakibat salah baca yang berujung salah keputusan.

NB: Gambar ilustrasi diambil dari  sini dan diolah seperlunya

[+/-] Selengkapnya...

Dari Laskar Pelangi untuk Kita…



Setelah beberapa kali gagal mendapatkan tiket “Laskar Pelangi”, sabtu kemarin kesampaian juga menonton film ini. Sejenak mengikuti santainya para birokrat kita melupakan hantu krisis yang menghantui dunia ini. Bila dunia sedang membuka aib “kebobrokan” Ekonomi Amerika karena keserakahanya. Film ini sederhana saja membantu menemukan satu hal yang hilang dari negeri ini. Kesejanakan yang menghibur dan menginspirasi…


Secara teknik pratis film ini memang di atas rata-rata kualitas film Indonesia. Gambar yang indah yang menggambarkan Belitong yang memang indah. Kasting pemain yang dikhawatirkan banyak pengamat justru dijungkirbalikkan. Akting ke sepuluh anak sangat alami, karena mereka sepeti melakoni keseharian mereka. Logat melayu belitong yang khas menambah film ini terasa enak untuk diikuti.
Plot cerita yang setia dengan novel membuat setiap adegan mencoba menjawab imajinasi kita akan cerita dalam novel.Memang sih pasti ada yang belum sepenuhnya terjawab karena memang visulaisai tak akan menjawab 100 persen imajinasi kita.
Memori semangat masa kecil dan pentingnya kita mempunyai mimpi masa depan menjadi tema yang ditegaskan oleh Riri Riza. Ironi sebuah sekolah dasar Muhammadiyah yang berhasrat eksis untuk sebuah tujuan mulia; mengajarkan nilai pendidikan secara utuh. Dalam sebuah adegan Pak Harfan menegaskan bahwa sekolah ini bukan bertujuan menilai kepandaian anak-nakanya hanya dengan nilai-nilai, tetapi kecerdasan dan kepribadian yang berasal dari hati. Akhlakul karimah, bisa jadi satu kata untuk menjelaskan tujuan itu atau dalam istilah umum “manusia unggul”. Terselip juga pesan kehidupan tentang makna memberi sebanyak-banyaknya bukan menerima sebanyak-banyaknya. Jadi ingat postingan beberapa bulan lalu tentang memberi dan menerima. Kembali ke Ironi pendidikan, ini memang jamak kita temui di seluruh negeri ini, bahkan di pelosok pulau jawa pun saat ini masih saja terjadi.Semangat mengajar “pahlawan tanpa tanda jasa” tak diimbangi hasrat besar penguasa dalam kebijakan.
Kekuatan mimpi dengan tantanganya, mau tidak mau mengingatkan kita semua akan sesuatu yang hilang dalam bangsa ini. Inilah Indonesia yang sesungguhnya kata Presiden SBY setelah menonton film ini. Tokoh Lintang yang justru terlihat lebih dominan dibanding Ikal menunjukkan semangat itu. Sayang adegan akhir dari ironi ini menurutku kurang tergarap lebih dramatis oleh Riri Reza.
Sebagai sedikit kritikanku; mungkin banyak adegan yang tak dieksekusi secara tuntas. Mungkin saking banyaknya adegan penting dan terimajinasi kuat di benak penonton - tentunya bagi yang sudah baca novelnya- dia harus relistis memilahnya.
Setidaknya, tema dan pesan yang akan disampaikan telah tercapai oleh film ini. Secara sederhana film ini sekedar merenung sejenak akan ;
Satu kepastian diantara berbagai ketidakpastian negeri ini
Satu optimisme diantara berbagai ketidakoptimisme negeri ini.
Dan mengingatkan satu yang hilang diantara banyak yang hilang dari negeri ini…


NB:gambar diambil dari sini

[+/-] Selengkapnya...

Akhirnya Kembali (lagi)..



Bila kehidupan punya jeda, Lebaran adalah satu dari jeda itu...
Bila kehidupan perlu Perayaan, Lebaranlah puncak perayaan itu.
Bila Kehidupan perlu Silaturahmi, lebaran-lah puncak selebrasi silaturahmi.
Bila Kehidupan adalah perjalanan menuju kampung akherat. Lebaran adalah pulang ke kampung halaman.
Bila Kehidupan perlu makan enak, Lebaranlah waktu makanan enak muncul bersamaan...(
mak nyuss)...
Lebaran adalah kehidupan, dan juga Perayaan kehidupan…
.


Tradisi mudik tahunan untuk merayakan lebaran tak lekang oleh waktu, bahkan semakin menunjukkan sebagai "tradisi abadi" bangsa ini. Toh di tengah semakin mudahnya orang bersilaturahmi dan bersapa dengan semakin luasnya jaringan informasi, belum afdol jika belum mudik bertemu sanak saudara.
Lebaran mempunyai banyak arti bagi banyak orang. Setelah satu bulan berpuasa, satu tahun beraktifitas (bisa jadi tanpa jeda). Bila dalam konteks agama puasa adalah menuju manusia bertaqwa , maka dalam konteks masyarakat lebaran merupakan akhir dari proses manusia yang “eling lan waspadha”. Selalu ingat dan waspada, adalah arti taqwa secara sederhana. Lebaran selalu saja mengingatkan segalanya.
Merayakan Kehidupan ?
Bila sebuah kehidupan layak dirayakan, kapan saat tepat merayakanya? Bagi sebagian orang (baca kaum urban) lebaran-lah waktu yang tepat. Kerja setahun tanpa henti, tanpa jeda, demi mendapatkan kehidupan layak. Lebaran waktu yang layak untuk menunjukkan keberhasilana pencapaian itu. Proses ini telah ter-Komodifikasi dalam bentuk pencapaian material. Seseorang yang berhasil maerantau dengan membawa capaian keberhasilan dalam bentuk-bentuk berwujud material. Kendaraan yang mewah, dandanan modern, kantong tebal, adalah beberapa contoh diantara parameter keberhasilan.
Bagiku lebaran adalah rehat sejenak dari rutinitas untuk kemudian berevaluasi menata kembali rencana masa depan. Bila orang beresolusi di awal tahun, aku berusaha punya resolusi di lebaran ini untuk minimal satu tahun ke depan untuk mewujudkan rencana yang belum tercapai. Banyak dan tak akan selesai tertulis dalam satu lebar kertas folio.
Mendadak Filosofis nih...
Akhirnya jeda itu berakhir juga…
Akhirnya kembali lagi menjejaki Jakarta dengan hiruk pikuknya....
Merayakan kehidupan sehari-hari yang sebenarnya…
"Ke Jakarta aku akan Kembali " kata Koes Plus....

[+/-] Selengkapnya...

Ironi Kemiskinan


Kemiskinan barangkali akan selalu berjalan beriringan dengan kemajuan peradaban manusia. Dimanapun sebuah kemajuan tentu akan menyimpan kemiskinan di bawah alas kakinya. Bilapun ini hilang maka tak lebih dari sebuah angka statistik penguasa dan kaum kuasa.
Senin lalu (15/09/08) 21 orang wanita meninggal dunia saat mengantri zakat dari seorang dermawan di Pasuruan Jawa Timur. Tragedi Pasuruan ini mungkin adalah contoh kecil diantara fenomena kemiskinan yang terjadi di negeri ini. Karena masih banyak kejadian serupa sebagai wujud gagalnya negara memberi perlindungan dan penghidupan layak bagi rakyatnya. Begitu akut dan mengerikankah kemiskinan di negeri ini?
Pandangan awam selalu berpendapat bahwa pemerintahlah yang bertanggung jawab. Kemiskinan di Indonesia lebih karena kesalahan sistemik yang berkelanjutan. Birokrasi yang korup, kapaitalisasi dan liberalisasi yang "tak bisa dilogika" adalah contoh sahih kita men-judge pemerintah.
Kemiskinan memang menyesakkan bagi rakyat, tetapi bisa jadi tidak bagi penguasa. Kemiskinan di pundak rakyat adalah realitas hitam yang harus dilunturkan perlahan dengan cucuran keringat dan regangan nyawa. Bagi penguasa kemiskinan tak lebih dari sebuah sampah dan omong kosong angka statistik yang lebih berorientasi pasar dan investasi. Laporan tahunan, keberhasilan ekonomi dan kemajuan tak berarti apa-apa bila dibenturkan dengan kelaparan akibat kemiskinan. Kelaparan adalah hari ini, sedangkan statistik adalah laporan yang moga-moga benar adanya.
Dalam sudut pandang agamapun, kemiskinan adalah musuh utama. Karena kemiskinan selalu selaras dengan keterbelakangan, yang menjadi spirit Iqra dalam kehidupan. Kemiskinan adalah wujud pelemahan dan proses kematian.
Tak tahu arah dan sebab letupan ini sepontan muncul. Kemiskinan bisa jadi wujud ketidakadilan, karena tak akan menjadi pilihan bagi kita semua. Tetapi kemiskinan adalah ujian bagi kita untuk selalu berusaha melihat ke bawah dan menariknya ke atas menjadi sebuah narasi indah bernama kemakmuran. Masyarakat madani adalah cita-cita bersama. Wujud kebebasan kita, salah satunya tentu bebas dari kemiskinan dan keterbelakangan.
Malam ini nampaknya bayangan kemiskinan masih menjadi teman mimpi-mimpi negeri ini...huff..

[+/-] Selengkapnya...

Iklan dan Ramadhan


Iklan produk di berbagai media (khususnya TV) seakan sudah menjadi senjata utama produsen untuk mengambil hati penonton. Sambil lalu, sekedar dan sejenak menikmati berita ataupun acara yang kita menikmati, kita tak lepas dari iklan. Iklan kadangkala menjadi panduan keaktualan informasi ataupun fenomena sosialitas masyarakat.

Tak jarang dari iklan  muncul kata-kata yang sangat populer. Baru- baru ini banyak orang berkata "Cumi...= cuma minjem..." yang berasal dari iklan sebuah provider Operator sellular. Atau istilah semacam Ok's banget beberapa waktu lalu sangat latah diucapkan, juga tagline produk lain tak sedikit yang sangat membenak di hati penonton. Bahasa iklan kadang mengalahkan bahasa populer lainnya di masyarakat. Iklan adalah bahasa gampang yang gampang menarik minat orang.

Iklan di Bulan Ramadhan
Bulan Ramadhan tak lepas dari incaran produsen untuk lebih gencar menawarkan produknya dengan kretifitas iklannya. Tak sebatas an sich   menawarkan Produk tetapi bisa berwujud iklan masyarakat sebagai wujud aware,berbagi ataupun rasa peduli  sebuah produk kepada konsumen.
Aku memandang positif hal ini sebagai sebuah kepekaan produsen untuk senantiasa dekat dengan konsumen. Suatu saat sepontan diriku haru melihat Iklan sebuah Provider Operator Seluler. Makna puasa secara halus dibawa ke arah saling berbagi dan berbuat kebaikan. " Tak  Pernah Putus Berbagi kebaikan" seperti terngiang di hati kita. Atapun sebuah iklan perusahaan pemerintah yang juga menyentil tentang makna berbagi di bulan suci ini dengan montir bengkel yang tidak mudik untuk tetap berbagi dengan sesama.
Iklan memang menjadi urat nadi media untuk tetap hidup. Saking kuatnya peran iklan, dia bisa masuk sebagi subyek utama atau peran penting di sebuah acara. Bila anda menyukai Sinetron pengantar sahur "Para Pencari Tuhan 2", tentu akan merasa hal berbeda dengan tayangan tahun lalu. Bahasa dakwah yang sederhana dan menyentuh memang masih tetap layak menjadi acungan jempol untuk Deddy Mizwar. Yang agak lucu adalah masuknya iklan dalam jalinan cerita yang kadang kala terlihat sangat vulgar. Ambil contoh kasus Tokoh Pak RW yang sering bersendawa tanda masuk angin, secara sepontan tokoh lain menyodorkan sebuah obat anti masuk angin. Dalam adegan lain tokoh Azam yang bertengkar dengan pacarnya di mobilnya, tiba-tiba Azam memaksa memasang kunci mobil. Adegan berikutnya kamera sepontan terfokus beberapa detik ke gantungan kunci yang merupakan merk Oli Sintetis. Cerdas tetapi terlalu vulgar, tak jarang mengganggu konsentrasi kita. Kita telah menyediakan waktu lama buat porsi iklan yang mau lewat, ternyata dalam acarapun kita tak boleh lepas dari jerat iklan.
Terlepas dari semuanya, sah-sah saja memang iklan dengan cara kreatifnya mencengkeram kita.  Dalam hal kasus sinetron PPT2 aku melihat dilematisnya memang tontonan bagus dan sarat tuntunan bila berhadapan dengan iklan sebagai kaki tangan kapitalisme. Bahasa dakwah tak selamanya sejalan dengan bahasa iklan.
Ada perbedaan tajam diantara keduanya.Keberhasilan dakwah tak melulu berhasil bila dilihat dari banyaknya pengikut, bahasa iklan sebaliknya. Iklan sebagai fenomena produk kapitalisme memang tak pernah sadar dengan dengan usaha tanpa batas dan tanpa kenal ampun.
Kapitalisme memang tidak sepenuhnya salah dengan segala perilakunya, Tetapi akan salah bila kita Memuja-nya seperti halnya kita mendewakan keduniaan yang fana ini.....

[+/-] Selengkapnya...

Ramadhan Bulan Perenungan


Alhamdulillah empat hari sudah kita menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan ini. Banyak ragam suka , cita dan keantusiasan umat muslim menyambutnya. Tetapi satu sisi kita lihat rutinitas kita membingkai Ramadhan kita kali ini menjadi bulan yang biasa-biasa saja. Keduniaan kita seakan melihat Ramadhan adalah bulan yang sejenak lewat. Kerugian besar yang mungkin baru kita sadari bila bulan ini telah lewat.

Sesungguhnya, bulan Ramadhan ini bisa menjadi media perenungan dan evaluasi perjalanan hidup kita. Kesempatan kita bermuhasabah kepada yang Maha Pemberi dan Tempat segala  keluh kesah kita. Dalam hal kehidupan dunia kita, Ramadhan kadang kala menjadi puncak dari proses keagamaan kita. Kesucian bulan ini akan membuat siapapun orang yang merasa beriman untuk sejenak berkhidmad dalam ibadah kepada Azza Wa Jalla. Bila pada bulan-bulan lainnya kita seperti lepas -setidaknya bingkai kita menjalani hidup-, di bulan ini kita mencoba berlatih menahan segala bentuk nafsu demi sebuah kemengangan indah.
Ramadhan adalah ajang "Madrasah Ruhaniah" kita. Kita mencoba melakukan yang terbaik. Dalam hal ibadah bila awal-awal ibadah puasa kita seperti terbebani, bisa jadi kita perlahan-lahan terlatih menahan segala godaan nafsu. Inilah adalah analogi proses kehidupan ini. Segala perjuangan kita akan kita akhiri dengan sebuah kemenangan besar di hari Idul Fitri.
Tawazun (keseimbangan)
Bulan Ramadhan ini memang menjadi kesempatan terbesar kita untuk sekedar menyeimbangkan dikotomisnya pikiran kita dalam beraktifitas. Kehidupan dunia yang semakin hedonis secara perlahan menggerogoti benteng keimanan setiap insan tanpa kecuali. Ramadhan adalah bulan kita mencoba menakar timbangan amalan kita. Bulan ini sekedar menengok sebelas bulan sebelumnya akan segala tindak-tanduk kita. Keduniaan kita secara perlahan tanpa kita sadari memercikkan air asam di hati kita, akhirnya perlahan hati kita akan berkarat. Bila karat telah hinggap di hati kita, entah kapan dan cara radikal apa untuk bisa membersihkanya. Ramadhan inilah kesempatan besar kita untuk membersihkan karat di hati kita.
Tiga puluh hari bisa jadi waktu yang lama, bila kita melihat ibadah di bulan ini sebagai beban. Tiga puluh hari bisa jadi waktu yang singkat bila kita selalu rindu kedatangannya karena sadar banyaknya berkah dan Karunia-Nya. Bulan seribu bulan, kesempatan terbesar kita untuk merenung.
Perenungan adalah kesempatan terbesar bagi manusia untuk sejenak menyadari eksistensinya sebagai manusia yang beriman, untuk berproses menjadi insan Muttaqin,pada akhirnya menuju Insan Kamil.
Semoga kita tetap Istiqomah beribadah di Bulan Ramadhan ini...

[+/-] Selengkapnya...

Andai Obama Calon Presiden Indonesia.



Begitu pentingnya seorang pemimpin bagi sebuah bangsa. Begitu gempita- nya sekelompok rakyat menyambut pemimpin baru dengan segudang harapan. Barack Obama belum juga terpilih sebagai Presiden Amerika. Tetapi apa yang masyarakat Amerika dan dunia nantikan seperti layaknya pemimpin baru yang akan mengubah semuanya.
Pagi tadi kiblat berita dunia ada di Amerika dengan adanya konvensi Partai Demokrat di Denver, Colorado, Amerika.
Pengukuhan Obama sebagai calaon dari Demokrat seperti perayaan kemenangan rakyat Amerika. Obama layaknya cahaya terang untuk masa depan Amerika. Amerika dinilai salah arah di bawah pimpinan George Walker Bush. Memang tak lebih dari sebuah harapan. Tetapi bukankah harapan adalah awal dari sebuah jalan. Jalan terang karena kita berpikiran terang. Keyakinan karena kita memulai dengan keyakinan. Obama adalah sebuah keyakinan akan harapan baru Amerika.Obama adalah sebuah Tokoh tepat di waktu yang tepat bagi masa depan Amerika.
Bagaimana dengan Indonesia?
Bukan maksud membandingkan langsung Indonesia dengan Amerika. Karena pengalaman peradaban kita jauhlah berbeda. Tetapi perlu dicatat bahwa kita ada di waktu yang sama. Tak salahlah kita belajar dari mereka.
Sebagaimana telah kita ketahui, Obama bukan hanya tokoh citra dan rekayasa media semata. Dalam kampanye program-programnya, begitu detailnya seorang Obama menyampaikan kebutuhan dan harapan rakyat Amerika.
Amerika seperti tampak kecil dengan pengharapan mereka kepada perubahan. Bangsa sebesar Amerika-pun menanti pemimpin yang membawa perubahan. Amerika sedang menanti "Sang Satria Piningit" dalam istilah perpolitikan kita.
Membandingkan kita dengan Amerika mungkin sebuah guyonan. Tetapi membicarakan topik serupa dengan kasus berbeda adalah kewajaran. Berandai Obama Presiden kita bukanlah kebijakan. Tetapi berharap kita punya pemimpin sebesar Obama adalah sebuah keoptimisan. Pasca Sukarno-Hatta kita memang sepi pemimpin Inspiratif. Kita masih terus setia menanti..
Pidato dan Orasi pemimpin berkharisma sangat memberi kekuatan pada rakyatnya. Memang janji harapan hanyalah sebuah awal, karena akan berhutang dengan pembuktian. Tetapi ibarat langkah, kita berada di jalan yang benar dan arah yang benar. Andaikan Obama Calon Presiden Indonesia, kita mungkin juga punya harapan sebesar Amerika. Bilapun masih sebuah harapan, harapan yang berarti Doa kita bersama...

[+/-] Selengkapnya...

Makna Kemerdekaan yang "Tercecer"...


Kemerdekaan, sebuah anugerah setiap insan manusia. Di dalam sebuah bangunan masyarakat dan negara sekalipun kemerdekaan adalah sebuah keniscayan untuk membangun. Makna hari kemerdekaan adalah sebuah puncak evaluasi kita dalam bergerak.
Faktanya Kita sudah merdeka sejak tanggal 17 Agustus 1945, artinya kita sudah 63 tahun merdeka. Analogi sebuah kehidupan adalah satu generasi merajut kehidupan utuh satu generasi manusia. Tetapi sudahkah kita merdeka?...
Di media, menjelang perayaan Hari Kemerdekaan ke-63 banyak opini tentang makna hakekat kemerdekaan yang sesungguhnya. Kita merasa belum merdeka kata sebuah media, karena kita masih dibelit bermacam permasalahan rakyat. Kemiskinan, pengangguran, kesempatan pendidikan rakyat salah satu parameter belum merdekanya kita secara harfiah. Kita sudah merdeka, tetapi belum sepenuhnya merdeka. Benarkah?
Makna kemerdekaan seakan tercecer ke sana kemari dari sekedar pendapat sederhana 220-an juta rakyat. Kemerdekaan  bernada "Pesimis" menjadi makna Merdeka yang tercerai berai.
Bagiku kemerdekaan adalah sebuah sikap. Kenyataan bisa jadi lain, tetapi bukan pada sikap kita. Setiap tanggal 17 Agustus dan hari-hari kita adalah kesempatan untuk merdeka. Bila pun bangsa belum merdeka dalam menentukan arah dan tujuan. Sikap merdeka harus ada di setiap jiwa kita.
Kenapa takut berteriak "Merdeka"?
Merdeka ada setiap hati dan jiwa kita.
Merdeka sebagai manusia...
"Kita"...adalah "Kemerdekaan" itu sendiri...

[+/-] Selengkapnya...

Presiden Tua vs Presiden Muda


Pro-kontra tentang umur calon presiden seperti jadi tema usang dengan cover baru menjelang pesta demokrasi Indonesia delapan bulan lagi. Tetapi belakangan tema ini semakin menggelinding menjadi sebuah narasi besar diskusi masa depan kepemimpinan Indonesia. Bila dalam tulisanku tentang "kepemimpinan" sebelumnya aku bercerita tentang karakter pemimpin yang kita butuhkan. Sekarang aku lebih tertarik bicara sudut pandang Calon Presiden Indonesia di 2009 nanti.

Perdebatan Presiden Tua-Muda ini seakan menjadi obrolan yang ngalor ngidul yang berpotensi adanya distorsi wacana tentang kepemimpinan itu sendiri. Kasus pancingan Presiden PKS di Musykernas di Makassar tentang saatnya kaum tua minggir untuk memberi kesempatan muda meminggir dihadapi sinis oleh kaum muda (dalam hal ini Megawati yang digambarkan berang oleh Media). Sebetulnya urusan tua-muda bukan esensi utama dari president kita, tetapi esensi "perubahan dalam kepemimpinan" yang seharusnya jadi narasi utama yang terus menggelinding mendekati pergantian RI1.

Dalam Debat dan diskusi tua-muda ini di beberapa TV ("Debat" di TVOne dan Today's Dialog" di MetroTV) beberapa hari lalu, nampak sekali benturan ini rentan masuk pada perdebatan yang tidak cerdas dan elegan dan akhirnya menimbulkan kedengkian antar elemen masyarakat. Dalam pandanganku wacana yang seharusnya adalah tema perubahan itu sendiri, dan akan terjadi blunder politik jika isu ini tidak dikemas dengan baik, misal dikotomi tua muda itu sendiri. Tema akan lebih menarik jika Muda diartikan dalam pemikiran yang inovasi dan punya visi ke depan memperbaiki bangsa. 

Demam Obama dan angin perubahan dari Kaum Muda
Demam Obama sepertinya turut membawa optimisme angin perubahan politik Amerika dan Dunia. Tokoh "Balita" dari partai demokrat AS ini seakan menginspirasi Kaum muda untuk maju memimpin, tak terkecuali Indonesia. Beberapa tokoh muda mulai berani mencitrakan diri sebagai calon, walaupun sebagian masih belum secara terang-terangan. Fadjroel Rahman, mantan aktivis mahasiswa yang pernah jadi tahanan politik, Prabowo ketua HKTI dan mantan Komandan Kopassus, Tifatul ketua umum PKS (belum jelas juga maksudnya), Sutrisno Bachir ketua umum PAN (belum jelas juga arah iklannya), dan Rizal Mallarangeng  yang Kita Kenal sebagai host di "Save Our Nation" di MetroTV) adalah sebagian tokoh yang mengemuka. Semua sadar Pencitraan adalah modal penting seorang tokoh politik di era Informasi ini. Salah satunya lewat Iklan Politik untuk perkenalan diri ke masyarakat. Seberapa besar efektifnya harus kita lihat perkembangan ke depan. Tetapi sejauh yang aku aku lihat, apa yang mereka tawarkan belum terlihat jelas dan belum benyak beda dari sebelumnya.

Pemimpin Muda : Kenapa tidak?

Intinya sih aku tak mau mengkotakkan capres harus tua atau Muda.
Tetapi Negeri ini perlu perubahan...
Perlu digarisbawahi, jikalau masih berharap  pada yang tua sampai kapan kita harus berharap?
Dalam pandangan Yasraf Amir Piliang ;Bangsa-bangsa tak lagi dapat dipimpin generasi lama. Diperlukan pemimpin "Generasi Kuantum, "Pemimpin Muda"yang mampu secara cepat mengelola elemen sosial, ekonomi, politik, budaya dengan cepat dan adaptif terhadap perubahan yang terjadi (baca opini Kompas 22 Juli 2008). Pertanyaannya selanjutnya tentu kembali lagi ke kemampuan pemimpin. Satu dasawarsa cukup untuk yang tua berkuasa, bukan maksud mencela tetapi lebih ke evaluasi.
Kepemimpinan butuh perubahan, jika satu gagal kenapa tak coba yang lain?.
Jika yang tua gagal, kenapa tak coba yang muda?

[+/-] Selengkapnya...

Mencari Pemimpin


Hakekat pemimpin bukan terletak pada sebuah sosok individu semata. Tetapi lebih jauh lagi sebuah makna seseorang yang mampu meng-empower segala sendi dan bagian dari yang dia pimpin. Diskusi dan kajian kepemimpinan sekan menyeruak kembali seiring semakin dekatnya kita memilih wakil dan Presiden kita di Pemilu 2009.
Kehausan seorang pemimpin impian seakan semakin menemui batas tipis antara sebuah harapan rasional dan irasional, Hal ini ditandai dengan tidak semakin hilangya mitos “Ratu Adil” di tengah masyarakat, justru semakin menguat di tengah harapan masyarakat. Dalam ranah kajian ilmiah tentu perlu dibuktikan.
Tetapi dalam tataran wacana kehidupan berdemokrasi hal ini nyata tergambar dalam beberapa “pilkada” di beberapa daerah. Tingkat Golput yang cenderung tinggi yang oleh sebagian pengamat dijadikan gambaran kepercayaan publik terhadap pemimpinnya meskipun itu sangat tergantung iklim politik  lokal di setiap pilkada.
10 tahun Reformasi, tiga kali pergantian Presiden tampaknya harapan rakyat tentang datangnya Presiden yang menyejahterakan seakan semakin jauh panggang daripada api. Kesejahteraan rakyat yang terlihat dari indikasi dasar semakin terlihat memrihatinkan. Kita seakan terjebak dalam “kemunduran peradaban” jika boleh dikatakan dengan kata-kata ekstrim itu. Kelangkaan BBM, krisis energi dan menurunnya kualitas pemenuhan kebutuhan pokok sangat sahih dijadikan beberapa.
Pada titik ini aku berani mengatakan Kita butuh Pemimpin yang “Membebaskan”. Merevolusi segala kemunduran ini dengan sebuah tangan yang kuat. Indonesia sudah terjebak dalam permainan ekonomi dunia dalam omong kosong bernama “globalisasi”. Inonesia dipaksa dan dengan senang hati menikmati pasar “neoliberalime” yang nyata-nya menggerogoti identitas negara dan menyengsarakan rakyat. Kita seakan berada di dunia yang sebenarnya kita belum saatnya memasukinya. Dan perlu dicatat ini adalah kebijakan pemimpin kita. Kita butuh seorang pemimpin yang berani mengobarkan semangat antitesis terhadap tesis yang nyata salah oleh pemimpin sebelumnya.
Siapa sebenarnya yang pantas melihat tokoh yang muncul di Iklan Politik di sepanjang hari. Kita tunggu komitmen mereka dalam dimensi “ruang dan waktu” ke delapan bulan depan.

[+/-] Selengkapnya...

Banyak Partai Bingung | Bingung Partai Banyak


Akhirnya nomor urut Partai Peserta Pemilu 2009 telah diumumkan KPU Pusat, setelah sehari sebelumnya diumumkan partai yang lolos verifikasi faktual. Semalam (9 Juli 2008) Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pusat  melakukan undian nomor urut partai politik yang akan digunakan dalam Pemilu 2009 di jalan Imam Bonjol

Urutanya sebagai berikut ;
1. Partai Hati Nurani Rakyat
2. Partai Karya Peduli Bangsa
3. Partai Pengusaha dan Pekerja Indonesia
4. Partai Peduli Rakyat Nasional.
5. Partai Gerakan Indonesia Raya
6. Partai Barisan Nasional
7. Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia
8. Partai Keadilan Sejahtera
9. Partai Amanat Nasional

10. Partai Perjuangan Indonesia Baru
11. Partai Kedaulatan
12. Partai Persatuan Daerah
13. Partai Kebangkitan Bangsa
14. Partai Pemuda Indonesia
15. Partai Nasional Indonesia Marhaenisme
16. Partai Demokrasi Pembaruan
17. Partai Karya Perjuangan
18. Partai Matahari Bangsa
19 Partai Penegak Demokrasi Indonesia
20. Partai Demokrasi Kebangsaan
21. Partai Republika Nusantara
22. Partai Pelopor
23. Partai Golongan Karya
24. Partai Persatuan Pembangunan
25. Partai Damai Sejahtera
26. Partai Nasional Benteng Kerakyatan Indonesia
27. Partai Bulan Bintang
28. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
29. Partai Bintang Reformasi
30. Partai Patriot
31. Partai Demokrat
32. Partai Kasih Demokrasi Indonesia
33. Partai Indonesia Sejahtera
34. Partai Kebangkitan Nasional Ulama.

Yang aku tulis tebal adalah partai 10 Besar, yang rata-rata telah mempunyai kursi di DPR. Bukan maksud menyepelekan Partai lain, tetapi melihat dua Pemilu sebelumnya Partai gurem memang terlihat dari nama yang kurang populer.

Nomor Partai adalah pertanda?
Pertanyaanya akankah nomor tersebut memberi pengaruh besar terhadap nasib Partai tersebut?. Golkar bernomor 23, PDIP bernomor 33, PPP bernomor 24, Demokrat bernomor 31. Nomor-nomor yang kurang gampang diingat. Terakhir PKB sebagai "Pecinta Kisruh Bersama"yang bernomor sial 13 (mitosnya begitu-pen)yang diambil dua kubu yaang rebutan amplop nomor urut.
Partai besar lain mungkin agak tersenyum dengan keberuntungan bernomor pendek. PKS misal di nomor 8, PAN di belakangnya 9 . Yang paling tersenyum kayaknya Pak Wiranto dengan nomor wahid alias nomor 1. Di sistem banyak partai konsekuensi partai bernomor tak populer harus dipahami dan dimaklumi. Ini cuma satu masalah kecil yang diahadapi partai menjelang Pemilu 2009. Karena yang paling utama tentunya kerja keras dan kesolidan partai itu sendiri.
Pertanyaannya mengapa masih banyak Parpol di Pemilu 2009?
Mungkin bangsa ini memang majemuk, yang bisa jadi sebatas potensi...
Tetapi pertanyaan miring adalah; apakah selalu akan jadi potensi tanpa bukti...??
Aduh banyak partai bingung, bingung partai banyak.....

[+/-] Selengkapnya...

Petruk Dadi Ratu


Gambar Kaos yang aku beli pekan lalu

Akhir Pekan lalu, aku mudik ke Sragen karena memperpanjang SIM yang sebentar lagi kadaluarsa. Di sela waktu mudik aku bareng temen kampung jalan-jalanke Solo dan maen ke PGS (Pusat Grosir Solo). Iseng nyari hem batik yang cocok (harga dan gaya), kali-kali cocok dipakai kerja hari Jum'at. Tetapi malah nemu kaos bergambar unik. Wayang bertajuk "Petruk Dadi Ratu" atau Petruk jadi raja aku temukan di sebuah kios di lantai dasar PGS. Wah ini dia kaos yang aku cari, tanpa pikir panjang aku membeli kaos ini.

Apa pesan dari lakon ini sebenarnya?.
Versi kaos ini, Petruk Dadi Ratu menggambarkan lakon wayang tentang ambisi seseorang untuk menjadi pemimpin.Tetapi setelah mendapati keinginannya dia lupa akan janjinya. Dpetruk jadi Jadi semena-mena. Tetapi pada akhirnya dia dikalahkan oleh seorang gareng yang menjadi simbol Rakyat biasa.

Abdul Munir Mulkan (lihat Kompas 28 Juni 2008) menggambarkan: Lakon "Petruk Dadi Ratu" sebagai lakon simbol pembangkangan terhadap kesewenangan penguasa.  Dijelaskan, saat penyimpangan para dewa meluas, para punakawan—Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong—mulai membangkang. Puncak pembangkangan terjadi ketika Petruk melabrak Kahyangan Jonggring Saloko (istana para dewa), mengobrak-abrik dan mendekonstruksi tatanan yang selama ini dipakai para dewa serta juragan (elite) untuk berselingkuh. Arjuna, sang juragan yang biasanya dilayani punakawan, dipaksa mematuhi titah Petruk, sang raja baru. Saat itulah Petruk membuka seluruh aib para dewa dan juragan, saat semua kekuatan pengontrol lumpuh oleh perselingkuhan kolektif. Geger kahyangan itu hanya bisa diredam Sang Semar, yang dalam mitos pewayangan dilukiskan sebagai dewa yang turun ke bumi menjadi pangawas kehidupan di mayapada.


Aku lupa-lupa ingat waktu kecil pernah liat lakon ini, karena aku paling suka Punakawan dengan lakon "Goro-goro"-nya. Tetapi akubener-benar lupa gimana jalan cerita sebenarnya. Tetapi yang paling penting cerita ini sangat aktual sebagai refleksi bersama menjelang Pemilu 2009.
Saat ini sepertinya lakon tersebut sangat relevan dengan apa yang terjadi di bangsa ini. secara gradual terjadi ketidakpercayaan rakyat terhadap pemimpin yang semakin menguat menjelang Pemiliu 2009.Kesewenganan dan penyelewengan pemimpin bangsa ini sepertinya telah memasuki wilayah yang sangat memuakkan.

Pembangkangan

Kita sudah terbiasa mendengar para wakil rakyat sangat biasa melakukan suap, perselingkuhan, dan penyimpangan moral. Disamping itu proses demokrasi berjalan penuh dengan "akal-akalan" semata. Kekuasaan semakin terlihat jelas sebagai upaya politik "bagi-bagi kekuasaan" semata.Pada akhirnya bukan tidak mungkin akan terjadi pembangkangan-dalam bahasa sekarang demonstrasi- rakyat terhadap penguasa. Sangat nyata demonstrasi akhir-akhir ini 
Kita sendiri mungkin bingung kemana ujung jalan bangsa ini melangkah. Sangat ngeri bila terjadi "pembangkangan-pembangkangan" di alam demokrasi ini. Bisa jadi ini adalah resiko demokrasi. tetapi sampai kapan kita akan menunggu?. Pemilu 2009 semoga saja akan menghasilkan pemimpin-pemimpin yang punya nurani dan kapabilitas. Jangan lagi kita akhirnya sampai memilih pemimpin seperti dalam lakon "Petruk Dadi Ratu".

[+/-] Selengkapnya...

Akhir sebuah Perjalanan



Selesai sudah event sepakbola terbesar kedua-setelah Piala Dunia- di Swiss dan Austria tahun 2008 ini. Spanyol menutup segala kemungkinan, prasangka, dan  mitos yang berkembang dengan sebuah hasil yang sempurna. Juara setelah 44 tahun menunggu dengan predikat Juara sejati selama Euro 2008 digelar hampir sebulan lamanya.
Tim ini tak pernah mengalami kekalahan ataupun seri sekaligus. Menang telak 4-1 atas rusia, 2-1 atas swedia, dan 2-1 atas juara bertahan Yunani di penyisihan. Selanjutnya berturut-turut menang 4-2 lewat adu penalti atas Juara Dunia 2006 Italia di Perempat Final. Perjuangan terasa lengkap dengan menang gemilang 3-0 melawan Rusia dan 1-0 dengan jerman di parati puncak.
Spanyol memang seperti datang menjadi tim yang favorit sejak menghajar 4-1 Rusia di laga pertama. Selanjutnya konsistensi yang kekompakan kumpulan generasi emas didikan Liga Eropa menunjukkan janji Aragones yang awalnya banyak mendapat cibiran karena tak membawa pemain yang  dianggap layak. Raul yang jadi pangeran di negerinya secara mengejetkan tidak dibawa sang Opa Aragones.
Sepakbola  dan Universalitas.
Selain gempita Euro 2008 yang sudah berakhir, banyak pesan yang secara langsung ataupun tidak dapat kita ambil bersama. Secara jamak dapat dimaklumi Sepabola adalah bahasa paling universal untuk menarik emosi semua manusia di bumi ini. Ekstrim-nya kita dapat mengatakan sepakbola dapat menjadi simpul dari kompleksnya persoalan global yang semakin rumit dengan satu rasa dalam sepakbola. Bundarnya bola yang bergulir akan menyatukan tatapan manusia di seluruh penjuru bumi. Luapan Kegembiraan gol yang tercipta akan sekejap saja memecah rasa senang dan sedih. Selanjutnya rasa berikutnya adalah wujud asli penyatuan rasa dari sebuah sportifitas. Juara sejati adalah pemenang dari sebuah perjuangan. Selamat "El Matador "

[+/-] Selengkapnya...