Menulis Lagi
Setelah Sekian Purnama
Bukan maksud mendramatisir keadaan, karena kata itu akan tepat digunakan dalam untuk mendamaikan sebuah persoalan- semisal konflik-. Sekedar meminjam kata sebagai langkah awal diri ini kembali menggairahkan rasa yang sempat terjerembab karena berbagai hal. Kesibukan dan rutinitas memang secara perlahan memandulkan hasrat menulis yang sebenarnya masih perlu banyak nutrisi melanjutkanya.
Kecil tapi tak mudah, sekedar mengungkapkan apa yang berkelindan di otak setiap harinya. Ditambah virus M yang semakin menjadi-jadi menambah stamina menulis semakin melayu.
Banyak peristiwa yang pastinya aku lewatkan. Pemilu dan gempita perpolitikan adalah tema begitu-begitu saja namun tak akan pernah membosankan. Peristiwa lainnya yang tak kalah seru juga sepertinya aku sia-siakan. Weekend seru dan segala rutinitas pengisi "jeda" kehidupan tak kalah berbobot sebenarnya bila sempat merekamnya dalam tulisan. Tapi akhirnya "Ya Sudahlah", kata terakhirku bila tak lagi diri ini punya argumen menghindar.
Makna rekonsiliasi sebenarnya cuma upaya pemantik diri kembali ke "hasrat semula" yang sejenak pulas terbuai dunia rutinitas. Kucoba untuk berekonsiliasi dengan waktu, dengan sejenak yang berbekas bernama tulisan. Sejenak memaksa diri menitipkan ungkapan ringan di ruangan ini. Rekonsiliasi?...entah pas atau tidak aku meminjam istilah ini, tapi yang pasti saat ini aku merasa kata ini terasa "dahsyat"sebagai upaya bangun dari tidur panjangku, hehe...
Sejenak saja bikin poster anti tesis iklan politik Caleg.
Sekedar berujar melawan arus..., untuk meyentil iklan kampanye yang seragam ....
Iklan Kampanye yang saling klaim keberhasilan dan pengabdian....
Iklan Kampanye yang Narsistik....
Iklan Kampanye yang memanipulasi keadaan..
Iklan kampanye yang segala sesuatu nampak indah.
Bisakah Anda lebih Peka...?
Cerita yang terlambat. Sambutan pergantian tahun baru yang sederhana saja, dan Awal tahun yang tak punya resolusi tertulis (yakin saja dengan resolusi di hati). Segalanya seperti kereta cepat yang sekejap lalu melintas sebuah stasiun kecil. Tahun baru datang lagi sedang catatan tahun lalu belum selesai kucatat sepenuhnya.Toh semua memang harus kita lewati.Sekedar selebrasi kuhabiskan pergantian tahun di dalam kota saja. Liburan akhir tahun memang sudah jauh kurencanakan tak melakukan perjalanan jauh ke luar kota. Panjangnya hari libur tahun ini sengaja akan kulalui dengan aktifitas memanjakan kesenangan yang tertunda. Inilah rentetan kebebasan hidup yang kadang langka di tengah rutinitas.
Setumpuk buku yang semoga selesai terbaca, bersepeda ke tempat-tempat seru dan berekreasi di obyek dalam kota setidaknya cukup untuk mengasah otak dan perasaan kita yang tumpul oleh rutinitas hidup. “Gelap Mata” di Gramedia karena diskon Grand Opening gerai-nya adalah satu tugas akhir tahun ini. Tak sadar stok buku menumpuk untuk antre dinikmati sembari merasakan sepoi angin pnggir empang belakang kontrakan.


Sayangnya kontrakanku di Ciputat harus aku tinggalkan. Demi efisiensi jarak dan waktu, aku harus pindah kos. Walhasil pindahan menjadi agenda besar juga di libur akhir tahun. Menyortir koran bekas setinggi lebih satu meter adalah tugas terberat sebelum menjualnya ke tukang loakan.

Tetapi aku merasa enjoy degan liburan ini. Aku masih sempat kok bersepeda ke jalur seru para “Goweser”. Selain menikmati Jalur Pipa Gas (JPG), aku juga nekat ikut rombongan yang baru aku kenal untuk menyusuri jalur Cihuni. Jalur yang lumayan variatif; dari jalan kampung, perumahan dan menyebrangi sungai dengan Rakit adalah liburan tak kalah seru di pinggiran Kota. Di sela jalur yang sebentar lagi akan berdiri perumahan BSD cluster terbaru, kita bisa sedikit beranalisis tentang realitas pertumbuhan kota yang semakin menggurita mencengkeram daerah pinggiran. Siapa sangka BSD yang dulunya “hutan karet” tempat pembuangan mayat yang angker akan menjadi sebuah kota satelit yang kinclong dan selalu diburu konsumen.
Sepenuhnya juga aku tak “nongkrong di kos” selama liburan. Kegiatan “asah gergaji” masa liburan ini bisa aku habiskan dengan berkange-ria dengan ortu dan keluarga di jakarta. Sebagai ganti tak mudik ke kampung, kedua ortu akan bersilaturahmi di Jakarta. Selain menikmati malam pergantian tahun di Jakarta, jalan-jalan keluarga di Jakarta adalah hal baru selama jadi orang rantau di Jakarta. Belanja ke Pasar Tanah Abang sekedar menikmati nuansa belanja ala ibukota. Dilanjutkan mengunjungi Monas di kala senja di akhir 2008, sampai akhirnya menghabiskan tahun 2008 bersama anggota keluarga lengkap di Jakarta.
Lebih lengkap kebersamaan, bersama handai taulan merayakan tahun baru dengan rekreasi ke Taman Mini di sisa libur awal tahun. Kebersamaan yang seakan membasahi dahaga kerinduan yang bermuara kebahagiaan. Kebahagiaan kecil yang kadang tak kita syukuri.
Demikianlah, bagaimanapun liburan itu berjalan, tak terpengaruh dimana akan kita habiskan. Mengutip kembali SMS yang kukirim ke seorang temanku;
Tak perlu harus selalu ke Pantai untuk lapangkan hati kita , yang penting menjaga perasaan Hati kita seluas samudera.
Tak perlu harus selalu naik ke gunung , yang penting kita bisa menjaga mimpi dan Cita kita setinggi gunung…Ungkapan dari seorang Pujangga amatiran imbuhku.
Oh Liburan…kapan datang Lagi?...
Secuil doa hanya bisa kuucap menyambut tahun yang baru:"Semoga tahun ini lebih baik lagi....."
Wah saking pusingnya mikir kerjaan (sok sibuk ceritanya). Aku numpuk beberapa PR dari beberapa teman. PR ini terdiri tiga, inilah rapelan PR yang numpuk itu.
A.Tentang Latar Belakang Arti Blog "Ruang Tetirah"
Ini PR dari kang addienk tentang latar belakang dan arti dari blog ini. Begini ceritanya;
1. Latar Belakang Ngeblog, ya ingin supaya lebih pinter dan tidak gaptek. Informasi jadi lebih kaya lagi yang masuk ke otak. Mikir juga jadi lebih bisa ter-struktur.
2. Tentang Blog ini. Mulainya baru April 2008 ini. Ya mumpung ada waktu dan fasilitas di kantor dimanfaatin untuk Hal Positif.
3. Arti nama "Ruang Tetirah", menurutku tempat beristirahat dan "ongkang-ongkang" di sela kesibukan dan Rutinitas. Harapanya tempat ini sebagai tempat untuk sejenak melepas kepenatan. Nulis apa aja dan Apa adanya (yang sering ngawur).Tujuan sederhanya mencoba memahami hidup ini dan "Menyederhanakan Kompleksitas Hidup"seperti tagline judul blog.
B.10 Kalau Aku Jadi, maka
PR Kalau 10 Hal aku menjadi dari Kang Blogger Addicter ini juga lumayan Pusing. Tapi tidak usah dibikin pusing.Dikasih kesempatan berandai yaharus dimanfaatin to?
Inilah 10 Hal Kalau aku jadi :
1. Kalau aku jadi Arsitek dan Konsultan Sendiri, aku akan pilih-pilih Job yang sesaui idealisku (duitnya lumayan tapi). Yang tidak sesuai idealisku mikir-mikir dulu duitnya gede tidak?? (he-he sama saja ya).
2. Kalau aku Jadi Punya Rumah Sendiri. RTH (ruang terbuka hijaunya harus 60 % dari lahan. wuih alangkah ijonya pekaranganya
3. Kalau aku jadi Penulis sebagai selingan hidup,aku ingin seperti Gede Prama yang bisa selalu Ngikutin "Lentera Hati"-ku
4. Kalau aku jadi Pengusaha, aku pengen buka usaha "warung angkringan (warung hik)" untuk tempat sosialisasi warga dan tempat yang paling egaliter di dunia.
5. Kalau aku jadi Presiden.Wakilku adalah wanita. Partner yang cantik adalah Inspirasi...
6. Kalau aku jadi wartawan saya pengen jadi wartawan Politik Internasional yang bisa keliling dunia, terutama Timur Tengah dan Eropa
7. Kalau aku jadi pemain bola ,aku pengen main di Inter berpasangan dengan Ibrahimovic.
8. Kalau saya jadi direktur suatu perusahaan saya pengen buat program CSR yang terbuka untuk siapapun.
9. Kalau saya jadi Cendekiawan, sayaakan buka sebuah Learning center. amin...
10. Kalau saya jadi orang sukses di bidang apapun, saya tidak akan sombong.Dunia ini fana...halah...
Namanya juga jikalau, jadi ya kudu yang baik dan diniatkan dengan ikhlas.Kesempatan Narsis kali
C. What "Arif Rahmat Basuki" Means....
PR tentang "Arti dari Nama"dari mBak Noeqiah. Hasilnya arti namaku silahkan diartikan sendiri:What Arifrahmatbasuki Means You are usually the best at everything ... you strive for perfection.
You are confident, authoritative, and aggressive.
You have the classic “Type A” personality.
You are wild, crazy, and a huge rebel. You're always up to something.
You have a ton of energy, and most people can't handle you. You're very intense.
You definitely are a handful, and you're likely to get in trouble. But your kind of trouble is a lot of fun.
You tend to be pretty tightly wound. It's easy to get you excited... which can be a good or bad thing.
You have a lot of enthusiasm, but it fades rather quickly. You don't stick with any one thing for very long.
You have the drive to accomplish a lot in a short amount of time. Your biggest problem is making sure you finish the projects you start.
You are loving, compassionate, and ruled by your feelings.
You are able to be a foundation for other people... but you still know how to have fun.
Sometimes your emotions weigh you down, but you generally feel free from them.
You are truly an original person. You have amazing ideas, and the power to carry them out.
Success comes rather easily for you... especially in business and academia.
Some people find you to be selfish and a bit overbearing. You're a strong person.
You are confident, self assured, and capable. You are not easily intimidated.
You master any and all skills easily. You don't have to work hard for what you want.
You make your life out to be exactly how you want it. And you'll knock down anyone who gets in your way!
You are a seeker. You often find yourself restless - and you have a lot of questions about life.
You tend to travel often, to fairly random locations. You're most comfortable when you're far away from home.
You are quite passionate and easily tempted. Your impulses sometimes get you into trouble.
You are full of energy. You are spirited and boisterous.
You are bold and daring. You are willing to do some pretty outrageous things.
Your high energy sometimes gets you in trouble. You can have a pretty bad temper at times.
You are the total package - suave, sexy, smart, and strong.
You have the whole world under your spell, and you can influence almost everyone you know.
You don't always resist your urges to crush the weak. Just remember, they don't have as much going for them as you do.
You are a very lucky person. Things just always seem to go your way.
And because you're so lucky, you don't really have a lot of worries. You just hope for the best in life.
You're sometimes a little guilty of being greedy. Spread your luck around a little to people who need it.
You are a seeker of knowledge, and you have learned many things in your life.
You are also a keeper of knowledge - meaning you don't spill secrets or spread gossip.
People sometimes think you're snobby or aloof, but you're just too deep in thought to pay attention to them.
Selesai juga tugas PR ini. Untuk PR kali ini untuk diriku saja ah.Selain numpuk dan banyak Mau ngasih ke Teman kok masih malu nanti jadi ngrepotin. lain Kali Aku akan bikin PR untuk teman-teman juga.
Salam...
Rentang sembilan belas tahun bukan waktu yang sebentar. Memori akan sebuah tanah kelahiran selalu memjadikan cerita indah untuk masa depan kita. Di tempat sama dalam waktu berbeda kucoba rangkai sebuah memori masa lalu. Kisah yang tak akan terhapus hanya oleh sebuah kebijakan tangan besi penguasa kala itu. Penguasa bisa menghapus sebuah peta , tapi tak bisa menghapus sebuah memori yang selalu mendasari impian kita.
Cerita ini seharusnya aku tulis sebagai cerita mudik lebaran lalu. Karena kesibukan dan ritunitas baru kali ini bisa kurangkai cerita ini. Bermula untuk mengenang kisah masa lalu, aku datang ke bekas desa masa laluku yang kini menjadi sabuk hijau genangan “Waduk Kedung Ombo”. Di sudut jembatan indah yang membentang di sungai desa, terlukis ingatan masa kecil. Masih seperti dulu, begitulah wujud jembatan ini. Masih kokoh walau terlihat kusam karena silih berganti terendam air waduk di tiap pergantian musim. Masa kecil saat mandi di kali sebagai wujud kebahagiaan anak-anak desa. Menangkap udang dan ikan dan beragam jenis mainan yang lahir dari penghargaan alam warga desa.
Sampai saat inipun, disela obrolan masa lalu dengan kerabat masih berandai bahagianya jika masih bisa berkumpul di desa kita yang sangat guyup dan makmur. Bukan tidak mungkin kita tak terimbas budaya “urbanisasi”. Kesadaran untuk berani menyatakan kata “cukup” saat itu membuat warga merasa tentram dan rukun. Esensi kemakmuran yang mustahil kita dapatkan saat ini. Aku lahir di rumah kakek-nenekku, masa kecilku juga sempat merasakan keindahan itu sampai kita pindah ke daerah lebih tinggi yang bebas dari genangan waduk (tidak jauh dari dusun kita yang tergenang). Segalanya seperti berjalan apa adanya, sebelum Sebuah Proyek Raksasa mengubah jalan hidup kita semua. Ribuan Desa tergusur Proyek Waduk Kedung Ombo. Warga yang semula terikat dalam satu dusun yang nyaman harus bepisah membuat berpuluh dusun baru karena jadi korban gusuran. Meski sebagian besar warga pindah ke daerah yang tak begitu jauh, tetap saja mengubah cerita bersama. Meskipun tak lebih dari 6 tahun aku melewati masa itu, setidaknya aku merasakan sisa memori itu.
Saat ini bisa jadi aku merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang tua sebelum aku apa artinya mempertahankan tanah kelahiran. Bagaimana penolakan dianggap sebagai tindakan pembangkangan Negara kala itu. Masih aku ingat saat pagi buta harus bersembunyi-sembunyi menghindaari intimidasi aparat desa untuk sekedar berkeluh kesah ke Gedung DPR di ibukota berjarak tak kurang 600 km. Aku mewakili satu generasi yang tak tahu menahu masalah utama kala itu. Generasi yang lebih beruntung dari adik dan keponakanku kini yang hanya bisa melihat sisa itu tanpa melihat cerita di balik itu.
Insya Allah Bersambung……
NB: Cerita Ini sempat tertahan di USB-ku beberapa minggu.
Tak pede dengan dengan isinya yang sentimentil. Akhirnya ku-posting setelah Kudapatkan Novel tentang "Ritual Gunung Kemukus" yang aku temukan di Indonesia Book Fair 2008 di JCC, Jakarta. Mencoba untuk menjadikan cerita dari awal dari rangkaian cerita.

Dunia bersorak bersama menyambut Kemenangan Barrack Obama.Seorang keturunan Afro-Amerika pertama akhirnya terpilih menjadi Presiden Amerika ke -44. "Perubahan Telah datang", satu inti kata yang diucapkannya dalam pidato kemenangan dia. Ucapan yang akan ditunggu-tunggu oleh publik dunia di empat tahun ke depan.
Obama telah membawa harapan baru bagi Amerika dan dunia, dan ketinggalan Indonesia menjadi bagian eforia itu. Tiga tahun pernah tinggal di Indonesia (sekolah di SD Menteng 01), banyak membawa perasaan sentimentil kita tentang kenangan sosok Barry kecil hingga sekarang menggapai impian terbesarnya. Teman dan juga orang terdekat Obama mendadak menjadi orang penting karena media antri menanyakan serba-serbi sosok si Barry. Cerita Anak Menteng yang menembus Gedung Putih menjadi berita yang sangat renyah bagi media. Andai Obama memakai nama belakang bapak tirinya; Lolo Sutoro di belakang nama Barrack menjadi Barrack Sutoro , alangkah semakin sentimentilnya kita berkata bahwa : Obama mesti wong Jowo..., hahaha...
Menunggu Kiprah "Super OBAMA"
Terlepas sentimentil semua eforia kemenangan Obama. Beban dia sebagai penerus Amerika sangat berat. Kebrobokan dunia sudah sangat parah akibat ulah Presiden Bush. Krisis Timur Tengah dan paling anyar Krisis Finansial sebagai wujud meletusnya gelembung kosong pertumbuhan ekonomi Amerika adalah sederet tugas Obama ke depan.
Tetapi langkah dunia telah bergerak bersama menyambut harapan baru. Satu kata untuk mengatakan Percaya Obama akan membawa perubahan itu. Obama mungkin bukan Superman, tetapi Obamamempunyai kesempatan besar mengubah masa depan dunia. Satu tangan Obama telah menenteng satu keranjang berisi "Harapan Dunia" kemudian satu tangan lagi adalah kuasa Obama untuk melakukannya.
Selamat buat Obama yang benar-benar menghipnotis dunia.
Semoga Menjadi benar-benar "Super Obama" bagi dunia.
NB:Gambar diambil dari sini

Bila kehidupan punya jeda, Lebaran adalah satu dari jeda itu...
Bila kehidupan perlu Perayaan, Lebaranlah puncak perayaan itu.
Bila Kehidupan perlu Silaturahmi, lebaran-lah puncak selebrasi silaturahmi.
Bila Kehidupan adalah perjalanan menuju kampung akherat. Lebaran adalah pulang ke kampung halaman.
Bila Kehidupan perlu makan enak, Lebaranlah waktu makanan enak muncul bersamaan...(mak nyuss)...
Lebaran adalah kehidupan, dan juga Perayaan kehidupan….
Tradisi mudik tahunan untuk merayakan lebaran tak lekang oleh waktu, bahkan semakin menunjukkan sebagai "tradisi abadi" bangsa ini. Toh di tengah semakin mudahnya orang bersilaturahmi dan bersapa dengan semakin luasnya jaringan informasi, belum afdol jika belum mudik bertemu sanak saudara.
Lebaran mempunyai banyak arti bagi banyak orang. Setelah satu bulan berpuasa, satu tahun beraktifitas (bisa jadi tanpa jeda). Bila dalam konteks agama puasa adalah menuju manusia bertaqwa , maka dalam konteks masyarakat lebaran merupakan akhir dari proses manusia yang “eling lan waspadha”. Selalu ingat dan waspada, adalah arti taqwa secara sederhana. Lebaran selalu saja mengingatkan segalanya.
Merayakan Kehidupan ?
Bila sebuah kehidupan layak dirayakan, kapan saat tepat merayakanya? Bagi sebagian orang (baca kaum urban) lebaran-lah waktu yang tepat. Kerja setahun tanpa henti, tanpa jeda, demi mendapatkan kehidupan layak. Lebaran waktu yang layak untuk menunjukkan keberhasilana pencapaian itu. Proses ini telah ter-Komodifikasi dalam bentuk pencapaian material. Seseorang yang berhasil maerantau dengan membawa capaian keberhasilan dalam bentuk-bentuk berwujud material. Kendaraan yang mewah, dandanan modern, kantong tebal, adalah beberapa contoh diantara parameter keberhasilan.
Bagiku lebaran adalah rehat sejenak dari rutinitas untuk kemudian berevaluasi menata kembali rencana masa depan. Bila orang beresolusi di awal tahun, aku berusaha punya resolusi di lebaran ini untuk minimal satu tahun ke depan untuk mewujudkan rencana yang belum tercapai. Banyak dan tak akan selesai tertulis dalam satu lebar kertas folio.
Mendadak Filosofis nih...
Akhirnya jeda itu berakhir juga…
Akhirnya kembali lagi menjejaki Jakarta dengan hiruk pikuknya....
Merayakan kehidupan sehari-hari yang sebenarnya…
"Ke Jakarta aku akan Kembali " kata Koes Plus....

Begitu pentingnya seorang pemimpin bagi sebuah bangsa. Begitu gempita- nya sekelompok rakyat menyambut pemimpin baru dengan segudang harapan. Barack Obama belum juga terpilih sebagai Presiden Amerika. Tetapi apa yang masyarakat Amerika dan dunia nantikan seperti layaknya pemimpin baru yang akan mengubah semuanya.
Pagi tadi kiblat berita dunia ada di Amerika dengan adanya konvensi Partai Demokrat di Denver, Colorado, Amerika.
Pengukuhan Obama sebagai calaon dari Demokrat seperti perayaan kemenangan rakyat Amerika. Obama layaknya cahaya terang untuk masa depan Amerika. Amerika dinilai salah arah di bawah pimpinan George Walker Bush. Memang tak lebih dari sebuah harapan. Tetapi bukankah harapan adalah awal dari sebuah jalan. Jalan terang karena kita berpikiran terang. Keyakinan karena kita memulai dengan keyakinan. Obama adalah sebuah keyakinan akan harapan baru Amerika.Obama adalah sebuah Tokoh tepat di waktu yang tepat bagi masa depan Amerika.
Bagaimana dengan Indonesia?
Bukan maksud membandingkan langsung Indonesia dengan Amerika. Karena pengalaman peradaban kita jauhlah berbeda. Tetapi perlu dicatat bahwa kita ada di waktu yang sama. Tak salahlah kita belajar dari mereka.
Sebagaimana telah kita ketahui, Obama bukan hanya tokoh citra dan rekayasa media semata. Dalam kampanye program-programnya, begitu detailnya seorang Obama menyampaikan kebutuhan dan harapan rakyat Amerika.
Amerika seperti tampak kecil dengan pengharapan mereka kepada perubahan. Bangsa sebesar Amerika-pun menanti pemimpin yang membawa perubahan. Amerika sedang menanti "Sang Satria Piningit" dalam istilah perpolitikan kita.
Membandingkan kita dengan Amerika mungkin sebuah guyonan. Tetapi membicarakan topik serupa dengan kasus berbeda adalah kewajaran. Berandai Obama Presiden kita bukanlah kebijakan. Tetapi berharap kita punya pemimpin sebesar Obama adalah sebuah keoptimisan. Pasca Sukarno-Hatta kita memang sepi pemimpin Inspiratif. Kita masih terus setia menanti..
Pidato dan Orasi pemimpin berkharisma sangat memberi kekuatan pada rakyatnya. Memang janji harapan hanyalah sebuah awal, karena akan berhutang dengan pembuktian. Tetapi ibarat langkah, kita berada di jalan yang benar dan arah yang benar. Andaikan Obama Calon Presiden Indonesia, kita mungkin juga punya harapan sebesar Amerika. Bilapun masih sebuah harapan, harapan yang berarti Doa kita bersama...

Petualangan, kenekatan dan sensasi keindahan alam yang menyatu dalam satu ungkapan; Hari tak terlupakan. Berkali-kali kuhapus ungkapan dan kata di tulisan ini, hanya untuk mendapatkan gambaran perjalalan Minggu 24 Agustus 2008 lalu dalam rangkaian cerita yang lengkap dan mewakili semuanya. Tapi tetap saja gambaran sebenarnya tak bisa kuungkapkan.
Empat luka, kelelahan luar biasa, bersepeda di alam liar sejauh total tak kurang 20-an km antara Puncak turun ke Bogor adalah serpihan cerita yang bisa aku tuliskan. Perjalanan dimulai seperti minggu lalu -waktu mencoba trek hutan UI- dari stasiun Kalibata. Tiket KRL super ekonomi setara sebotol Aqua dingin mengantar kami ke Stasiun Bogor. Tiba di kota hujan sekitar pukul 07.15 WIB. Selepas "Nyabu" rombongan yang berjumlah 13 orang memulai petualangan ke Puncak Pass. Karena realitas jarak dan waktu (dan tanjakan tentunya) kami menyarter tiga buah angkot mengangkut sepeda kami ke lokasi start petualangan. Baranangsiang-Puncak seharga Rp.100.000,- per angkot, harga yang sepadan dengan jauhnya dan tingginya lokasi. Angkot carteran kami berhenti di sekitar gapura perbatasan Kabupaten Cianjur,tepatnya di sekitar rumah makan "Rindu Alam".Itulah kenapa jalur ini dinamakan jalur Rindu Alam.
Pukul 10.00 WIB setelah istirahat dan merakit kembali sepeda kami, perjalanan panjang dan sangat melelahkan dimulai. Menyusuri jalur perkebunan teh yang berbatu dan berkontur naik turun tak beraturan membuat nyali sedikit surut. Faktor pengalaman tentunya yang menentukan bagaimana perjalanan ini dilalui. Keberanian mungkin modal utama yang harus kita punyai untuk menghapus semua keraguan.
Sensasi Keindahan alam yang silih berganti menyapa kami.
Rute perkebunan teh memang mempunyai porsi paling banyak disamping perkebunan sayur-sayuran, sawah, bukit ilalang dan hutan lindung. Perjalanan seperti membaca sebuah buku petualangan dalam satu hari tanpa henti, jalur Perkebunan teh berbatu terjal, sungai kecil yang licin, hutan lindung yang suram seperti silih berganti menyapa kita. Belum lagi tempat-tempat yang sebelumnya belum sempat aku kunjungi seperti; Pabrik Teh "Gunung Mas",Taman Safari Cisarua. Sensasi alam yang berganti- ganti tak hentinya membuat kita merasa kecil di alam ini. Inilah sebagian kecil Ciptaan Allah SWT yang baru bisa kita rasakan. Subhanallah...
Selepas Makan siang, shalat dan istirahat sejenak setelah dihajar hujan, perjalanan ternyata belum usai juga. Selepas Taman Safari Cisarua perjalanan justru didominasi tanjakan. Tanjakan "ngehek" yang bener-bener kita tersengal-sengal karena panjang dan tak putus-putus adalah cuma awal perjalanan . Tanjakan tak putus-putusnya menantang kami sampai dengan klimaksanya di "Puncak Pyramid". Selepas Ashar disaat tenaga telah terkuras akhirnya sebuah lintasan turunan menjadi hadiah kelelahan kita. Turunan aspal halus mengantar kami sampai ke Depan RM. Sederhana Gadog.
Rute yang tak terbayangkan sebelumnya.
Perjalanan sesi terakhir dengan sisa tenaga kami menelusuri sisi sungai Ciliwung sampai ke kota Bogor. Bendung Katulampa, jalanan aspal biasa nan halus, perkampungan kerajinan Tas Tajur menjadi hiburan visual perjalanan akhir kami. Kelelahan luar biasa aku rasakan sempat agak membuat aku terluka. Terjatuh karena tak melihat polisi tidur yang melintang menyisakan empat luka di lutut dan lenganku. Wow oleh oleh yang lengkap yang menyisakan kenangan yang tak terlupa.
Tak apalah aku terluka
Bukankah sebuah peristiwa akan selalu teringan bila kita tergores oleh luka .
Ah sedap...
NB: Photo perjalanan lebih lengkap ada di Multiply

Apa yang menjadi hikmah dari sebuah peringatan ulang tahun di setiap tanggal kelahiran kita. Hari ini aku tepat bertambah lagi usiaku. Bersyukur karena diri ini telah dikaruniai umur dan kesehatan.Tetapi bilakah kita tengok lebh jauh banyak hal yang harus kita benahi yang seakan semakin jelas terlihat di hari ulang tahun kita.
Makna peringatan hari jadi bisa jadi hal biasa dalam hidup ini. Aku pun tak menganggap ini sangat special, tetapi harus dijadikan “peringatan” atau warning atas hidup kita di dunia. Menilih tulisan “jenuh”-ku beberapa har lalu, ini seakan mempertegas peringatan itu. Umur telah nyata bertambah, adakah kedewasaan diri ini bertamabah menghadarpi ujian hdup yang seamakin banyak.
Pada saat kita memperingati ulang tahun, nampak beberapa lampu pringatan tentang pencapaian hidup kita silih berganti menyala pertanda memberi “reminder” kepada kita. Lampu kuning tentang karir menyala, lampu lain tentang jodoh, harapan dan pendapaian silih berganti mengingatkan. Diri kita seakan tersentak melihat semua hal ini bersamaan menyala. Inilah cara indah Tuhan mengingatkan hamba-Nya dalam semua keadaan. Bertambah umur kita, dan semakin berkurangnya jatah hidup kita di dunia ini. Kita seakan tahut akan hal ini, justru ini bisa jadi “Peringatan” positif dari sang Maha Pencipta untuk selalu diberi harapan untuk selalu Istiqomah di Jalan-Nya.
Jadi teringat sebuah ungkapan “Hidup tidak terletak pada persoaalan bagaimana megawalinya, justru terletak bagaimana cara mengakhirinya”.Kita diingatkan oleh sebuah tanggal di setiap tahunya. Belum tentu kita selalu ingat akan pesan di tanggal itu.

Pernah tidak dalam sebuah perjalanan hidup anda mengalami Jenuh?Mungkin pernah, bahkan sangat sering sekali. Dalam kerjaan yang mengharuskan ide-ide mengalir deras dan butuh segera ditumpahkan tetapi pikiran kita seakan buntu. Perjalanan hidup yang penuh dengan cobaan dan kegagalan (walau sementara) sering membuat kita terbelenggu dengan beban-beban.
>Kenapa kau tanyakan hal ini secara tiba-tiba?
Tak tahu juga kenapa tiba-tiba hal ini muncul begitu saja. Jenuh itu sendiri yang menjadi permasalahan.
>Jangan kau kira ini sesuatu yang rumit, sebenarnya masalahmu adalah kau sendiri penyebabnya..
Maksudnya?
> Jika bosan, jangan-jangan dirimu ini memang membosankan. Jika kau jenuh, kelakuanmu sendiri yang bikin jenuh.
Terus..
>Kau jawab sendiri dengan kesendirianmu. Sudahkan kau kerjakan aktifitasmu dengan kegiatan yang bervariasi? Sudah sinkronkah niatmu dengan perbuatanmu.
>Sudah sesuaikah Doa yang kau panjatkan dengan yang kau usahakan?
>Tak usah jauh-jauh, kau shalat lima waktu tapi sudahkan tingkahmu sesuai denganapa yang kau minta di lima waktumu itu.
Pertanyaan inilah yang sering terngiang dan sesungguhnya sudah tau akan jawabnya, Ya Allah ampuni hamba-Mu
Tersadar dan tak jarang terlupa kembali...
Kadang kita merasa selalu tak puas dengan keadaan kita. Mengeluh dengan keterbatasan dan tak sadar akan segala kelebihan dan segala karunia-Nya.
Semakin Manusia bertanya tentang ketidakpuasan, pertanyaan bodoh ini akan menyerang balik dia secara beruntun.
Aku Bosan ... (Kau sebenarnya yang membosankan...)
Aku Capek... (Kau sebenarnya yang bikin capek...)
Aku Gagal... (kau sendiri yang buat dirimu gagal...)
Bahagia dan bersyukur menerima apa yang kita terima adalah hal kecil. Kecil yang kadang terjepit dalam gulungan ketidakpuasan hidup kita. Berbahagialah selama kita masih diberi kesadaran, karena ujian akan datang menguji kesadaran kita..

Kalimat perubahan akan selalu sejajar dengan kondisi suatu masa yang tak menentu. Kata-kata berubah selalu disuarakan bila kita diliputi kejumudan dan stagnasi dalam segala bidang. Pertanyaaanya, sejauh mana perubahan itu harus disikapi.
T :“ menurut anda gimana kangmas? Sudah berubah belum ya negeri ini?
J :“Susah pakdhe mengungkapinya, sudah banyak sih yang mengatakan berubah, tapi kok kondisinya kaya gini terus.
Perubahan memang tak hanya sebuah jargon semata, ambil satu contoh kasus semboyan;
Jargon Pemerintah SBY-JK dia awal pemilu presiden “Bersama kita Bisa”.
Kata bersama berarti interdependen, saling memerlukan, saling ketergantungan, begitu kata Jakob Sumardjo. Sedangkan “Bisa” menurutku adalah dapat melakukan segala hal, apapun rintangannya. Bisa bila diucapkan dengan kata-kata lantang -seperti yang diucapkan SBY di puncak hari kebangkitan nasional di Gelora Bung Karno 20 Mei 2008- adalah sebuah wujud keyakinan, komitmen, dan terakhir frame bertindak kita mengatasi segala permasalahan.
Tetapi melihat kenyataan yang ada, itu semua masih sebatas semboyan, bukan paradigma atau cara kita berpikir dan bertindak.
Kembali ke Tema Perubahan, perubahan tak akan ada jika kita tak berubah juga. Kenyamanan, kemalasan, ketakutan, penindasan dan kemandegan berpikir adalah musuh dari perubahan.
T :“ Terus kenapa kita tidak bisa berubah, Kangmas??
J :”Berubah memang bukan di mulut saja kok Pakdhe, perlu kerja keras dan Komitmen. Bukan Semboyan belaka Pakdhe.
Pagi ini Rheinald Kasali pagi ini menulis tema perubahan lagi. Entah berapa kali dia menulis tema ini di buku dan esai-esainya. Dia berulang-ulang berkata pentingya “perubahan”. Selama belum terlihat perubahan di negeri ini, wacana seperti yang digaungkan RK ini akan selalu up-date.
“Perubahan memang belum tentu membawa sesuatu ke arah lebih baik, tetapi tanpa perubahan kita tak akan mampu mencapai pembaruan dan kemajuan”, demikian ungkap RK di Kompas pagi ini.
Perubahan akan selalu membawa harapan baru. Barack Obama maju sebagai calon presiden AS juga karena suara perubahan yang dia gaungkan. SBY-JK menang juga menang di Pilpres 2004 juga karena harapan perubahan yang dia usung.
Pertanyaan yang muncul, kenapa begitu banyak kata “perubahan” tetapi kondisi tidak berubah?. Untuk menjawab ini bisa seratus halaman menjelaskanya.
Tetapi yang paling penting kita perlu meneruskan semboyan “Berubah” menjadi paradigma bersama. Kita harus secepatnya berubah… menuju kemajuan.
T : Apanya yang kira-kira harus kita rubah , kangmas?
J : Banyak pakdhe. Pakde yang "banyak omong" itu juga harus dirubah menjadi “banyak kerja”.
Gubrak….!!! kata Intan Nuraini.
Hahaha….Ternyata saat semangat perubahan diucapkan, kita sendiri sejenak terlupa bahwa kita juga harus berubah..

Semalam sambil tetirah di malam yang gerah akau dapet tema menarik di MetroTV.
Bertajuk Metro10, dengan bahasan 10 film Indonesia paling berkesan di hati penonton. Metode responden (aku lupa tidak tau jumlahnya) diambil untuk dijadikan sample survey. Hasilnya 10 Film Indonesia paling berkesan adalah :
1. Ayat-ayat Cinta (2008)
2. Nagabonar (1987- release ulang 2008)
3. Ada Apa Dengan Cinta (2002)
4. Nagabonar Jadi 2 (2007)
5. Gie (2005)
6. Cut Nyak Dien (1988)
7. Denias, Senandung di Atas Awan (2006)
8. Pemberontakan G30S/PKI (1984)
9. Arisan (2006)
10. Get Married (2008)
Menarik juga urutan yang didapat. Terlepas bagaimana metode sampling yang didapat -berkaitan dengan umur, pendidikan dan daerah- karena tentuanya sangat berpengaruh pada hasil akhir. G30S PKI tentunya, kita mungkin bisa berpendapat berkesan dalam arti “sebuah karya propaganda politik” atau memang menarik murni dari segi “artistic”. Di setiap filmpun punya tema yang beragam, dan sangat bermacam –macam pula kondisi social kulturalnya.
Di akhir ulasan ada benang merah yang dikemukakan si empu survey;
Ternyata Film yang dibuat dengan Ideologi dan hati-lah yang memberi kesan pada penonton Film Indonesia.
Benar atau salah dan dari sudut mana disimpulkan kita tidak bisa menilai secara sepihak.Dan memang acara ini sepertinya acara cuma sebatas menyaring opini masyarakat di masa menghangatnya eforia “Kebangkitan Nasional” dan upaya reaktualisasi semangat “nasionalisme” .
Memang belum jelas juga mau dibawa kemana identitas negeri ini..
So…Gimana pendapat Anda??

Minggu ini tak hentinya berbagai media mem-blow-up tema Kebangkitan Nasional yang kita peringati ke-100 di tahun ini. Aku ikut eforia ini dengan membeli beberapa media seperti: TEMPO edisi khusus, Kompas edisi kusus, dan berbagai informasi di dunia maya.
Apa makna peringatan 100 tahun kebangkitan Indonesia?
Kebangkitan Nasional yang kali ini membawa makna penting bagi bangsa. Kita tahu bagaimana pada 20 Mei 1908 Dr. Sutomo, Dr Wahidin dan kawan-Kawan mendeklarasikan Budi Oetomo disemangati sebuah kesadaran. Kesadaran untuk bangkit dari ketertidasan, penjajahan dan ketertinggalan. Sebagaimana makna bangkit, pasti dimulai sebuah kesadaran. bangun dari tidur kita sadar bahwa kita harus segera beraktifitas dan berkegiatan. Bukan hanya terus menerus bermimpi tanpa adanya upaya mewujudkan mimpi.
Mimpi, Tersadar untuk Bangkit, Selanjutnya??
Aku sendiri berpendapat kebangkitan harus datang pada diri setiap insan.Kebangkitan tak bisa begitu saja berhenti pada tahap slogan bersama tanpa makna. perayaan seremonial adalah upaya hype aja. Yang terpenting adalah pencerahan di setiap pikiran kita. Anwar Gonggong, salah satu sejarawan yang kita miliki berucap "Kita banyak punya tokoh pintar, tapi tak banyak yang tercerahkan".Simple tetapi mengandung esensi yang dalam.
Jadi mari menjadi bagian yang tercerahkan itu dengan kesadaran ;
- Sadar bahwa kita tak boleh berhenti mencari ilmu dan berjuang.
- Sadar bahwa masih banyak yang harus kita benahi...
- Sadar untuk segera bangkit dan Berubah, Mengubah keterketinggalan kita menjadi sebuah jalan untuk segera lari menuju kemajuan.
Hidup bukan berhenti pada tahap kita tahu,
tetapi harus secepatnya sadar apa sebenarnya yang harus kita lakukan setelah mengetahui...
Bermimpi adalah sebuah keniscayaan hidup optimis,
tetapi yang lebih penting cepatlah bangun dari mimpi dan mewujudkan mimpi itu....

Tak banyak mungkin perbedaan antara dua kata ini, tetapi sebenarnya punya esensi yang saling berkebalikan. Memberi adalah ungkapan aktif dalam diri kita untuk melakukan sesuatu yang”berwujud”. Sedangkang menerima adalah perbuatan sebaliknya.
Dua kata ini secara tak sdar seperti menjadi inti dari kehidupan ini. Kehidupan ini adalah kumpulan kejadian memberi dan menerima. Suatu saat kita memberi kepada orang lain, saat yang lain kita menerimanya.Demikianpun kepada dan dari Sang Maha Memberi.
Permasalahan yang muncul adalah seberapa besar hasrat kita untuk memberi maupun menerima.. Suatu saat tak jarang kita selalu mengeluh dengan penerimaan kita yang kita anggap tak sebanding dengan yang kita lakukan (salah satunya perbuatan memberi). Suatu saat kita mengeluh, penghasilan kita kok jumlahnya sekian saja dan belum berubah. Padahal kita sudah merasa bekerja keras, bahkan mungkin sampai banting tulang istilahnya tetapi hasil yang kita terima seperti tak sebanding.
Secara tak sadar dalam detik itu kita telah memutar frekwensi pemikiran kita ke arah “Sang Peminta”, yang akan selalu terfokus dengan apa yang akan kita terima. Sisi penyeimbang dimana kita juga harus memberi seakan sejenak terlupa. Ketidakseimbangan adalah sebuah permasalahan dalam kehidupan.
Sebuah kejadian kecil menyentil diri ini untuk sejenak harus merenung tentang hakekat “memberi dan menerima”: Seorang pengamen Bis kota dengan suara yang lumayan untuk ukuranku berkata di akhir lagu “Seratus dua ratus tak berharga bagi Anda, tetapi akan sangat berarti dalam kehidupan kami”. Lupakah kita pada detik ini anak ini memberi jalan kita untuk sejenak memberi walau itu sebuah senyum saja.
Sebuah pemberian kecil kita secara ikhlas, akan menjadi bermakna . Kecil bukan tak berarti dan keberatian tak selalu harus berwujud dari jumlah yang banyak.
Marilah kita putar jarum frekuensi pikiran kita untuk memjadi sang pemberi untuk sekedar mengimbangi apa yang kita telah banyak terima.
Di dunia ini kita dilahirkan tak membawa apa-apa, jikalaupun kita perti tak membawa sesuatu –kecuali amal- sepertinya tak akan ada rugi dalam diri kita. Karena betapa sebanyak apapun kita memberi, tak akan bisa mengimbangi dengan apa yang selalu kita terima dari yang Maha Kuasa ; teman, keluarga, rejeki, kesehatan, jodoh dan lebih banyak lagi yang kita terima.
Hidup memang bukan persoalan “hitung-hitungan”,tak usahlah kita menghitung berapa besar yang telah kita berikan kepada sesama. Karena tak akan pernah sebanding dengan apa yang kita terima.. Sunggguh indah memang perbuatan memberi, karena ini adalah inti dari segala makna hidup. Cinta sekalipun yang menjadi batang kehidupan tak lepas dari memberi.
Akhirnya Salah satu ungkapan makna cinta sejati akan menutup tulisan ini;
“Cinta sebenarnya adalah anggap apa yang kau berikan (pada Sang Pecinta) itu sesuatu yang kecil walaupun itu besar jumlahnya,
Dan anggap apa yang kau terima adalah sesuatu yang besar walaupun itu sesuatu yang kecil”…itulah makna cinta sesungguhnya.