Akhir sebuah Perjalanan



Selesai sudah event sepakbola terbesar kedua-setelah Piala Dunia- di Swiss dan Austria tahun 2008 ini. Spanyol menutup segala kemungkinan, prasangka, dan  mitos yang berkembang dengan sebuah hasil yang sempurna. Juara setelah 44 tahun menunggu dengan predikat Juara sejati selama Euro 2008 digelar hampir sebulan lamanya.
Tim ini tak pernah mengalami kekalahan ataupun seri sekaligus. Menang telak 4-1 atas rusia, 2-1 atas swedia, dan 2-1 atas juara bertahan Yunani di penyisihan. Selanjutnya berturut-turut menang 4-2 lewat adu penalti atas Juara Dunia 2006 Italia di Perempat Final. Perjuangan terasa lengkap dengan menang gemilang 3-0 melawan Rusia dan 1-0 dengan jerman di parati puncak.
Spanyol memang seperti datang menjadi tim yang favorit sejak menghajar 4-1 Rusia di laga pertama. Selanjutnya konsistensi yang kekompakan kumpulan generasi emas didikan Liga Eropa menunjukkan janji Aragones yang awalnya banyak mendapat cibiran karena tak membawa pemain yang  dianggap layak. Raul yang jadi pangeran di negerinya secara mengejetkan tidak dibawa sang Opa Aragones.
Sepakbola  dan Universalitas.
Selain gempita Euro 2008 yang sudah berakhir, banyak pesan yang secara langsung ataupun tidak dapat kita ambil bersama. Secara jamak dapat dimaklumi Sepabola adalah bahasa paling universal untuk menarik emosi semua manusia di bumi ini. Ekstrim-nya kita dapat mengatakan sepakbola dapat menjadi simpul dari kompleksnya persoalan global yang semakin rumit dengan satu rasa dalam sepakbola. Bundarnya bola yang bergulir akan menyatukan tatapan manusia di seluruh penjuru bumi. Luapan Kegembiraan gol yang tercipta akan sekejap saja memecah rasa senang dan sedih. Selanjutnya rasa berikutnya adalah wujud asli penyatuan rasa dari sebuah sportifitas. Juara sejati adalah pemenang dari sebuah perjuangan. Selamat "El Matador "

[+/-] Selengkapnya...

Menanti Sang Jawara




Jawara sesungguhnya Euro 2008 di Swiss dan Austria tinggal menunggu waktu. Senin 30 Juni 2008 nanti Jerman akan menghadapi Spanyol di duel final. Secara kualitas keduanya mempunyai kemampuan yang merata di berbagai lini.
Kita lihat saja siapa yang akan menjadi juara?

[+/-] Selengkapnya...

Rahasia Meede




Membaca Novel ini, kita pasti akan teringat dengan "Da Vinci Code"nya Dan Brown. Menggebu-gebu, penuh dengan ambisi pembuktian pengetahuan sejarah sang pengarang. Sebuah contoh keseriusan sebuah karya sastra anak bangsa.

Cerita bermula  dari ditemukannya sebuah terowongan rahasia di bawah perut bumi  Jakarta oleh tiga orang peneliti berkebangsaan Belanda. Jika dalam prolog cerita disinggung setting dan kejadian dimana KMB di Denhaag yang berisi tentang pengaukan kedaulatan pemerintad Belanda atas NKRI aku anggap itu sebagai point entry pembaca tentang inti cerita.
Selanjutnya silih berganti kita akan dipakasa secara acak mengikuti cerita dengan berbagai kejadian dan penokohan. Mungkin sempat bingung juga menebak kemana alur cerita akan dibawa.
Pembunuhan beberapa tokoh penting di kota berawalan huruf B dan adanya sebuah pesan "Tujuh Dosa Sosial "-nya Gandhi adalah sebuah kredit point kecerdasan penulis untuk mengangkat citarasa cerita menjadi setengah novel sejarah. Walaupun seratus persen Fiksi, tetapi fakta-fakta sejarah yang ada -mungkin terlupakan oleh kita- sangat lancar diceritakan penulis muda ini.
Jika ada kelemahan hanyalah penceritaan yang tak stabil di awal sampai akhir cerita. Penceritaan yang sangat memforsir tenaga di awal dan tengah cerita terlihat menurun di akhir cerita. Tokoh cerita yang sangat banyak dan rumit, justru agak membuat bosan begitu memasuki akhir cerita. Jawaban atas segala teka-teki cerita terasa kurang "boom" dalam porsi pengadegan-nya.
Terlepas dari segala kekurangan. Novel ini sekan meloncat jauh dari segi genre dan selera novel asli Indonesia pada umumnya. Keluar pakem, berani dan sangat mengusik kemampuan daya ingat kita tentang sejarah bangsa Indonesia patut mendapat apresiasi bersama. Selamat berkarya kembali bang ES Ito. Kutunggu karay fantastis selanjutnya.

[+/-] Selengkapnya...

Viva Oranje...

 

Pemain belanda Giovanni van Bronckhorst yang juga berdarah Ambon merayakan gol ketiga Belanda.  Indonesia juga sepertinya ikut senang atas prestasinya  (courtesy uero2008.com)

Kemenangan besar Belanda atas Italia 3-0 membuat gairahku terhadap Euro 2008 jadi meletup. Bisa dibilang kali ini aku kurang greget menyambut event empat tahunan ini. Banyak hal juga sih yang menyebabkan, disamping pekerjaan yang menyita waktu. Kemenangan besar ini mengusik aku sedikit menilik konsep era “Total Football” di masa Rinus Michles dengan Trio Belanda -nya, puncaknya saat juara Eropa 1988. Saat itu racikan pelatih Rinus seakan menjadi tren sepakbola modern saat itu, Menyerang adalah pertahanan terbaik. Tetapi pasca itu Belanda seakan pudar. Tak banyak bicara di kancah Eropa dan Dunia. Digantikan Era Jerman, Perancis dan Italia untukkawasan Eropa .
Agresifitas  dan Kedisiplinan
Kini setelah dua puluh tahun berlalu –setelah juara Eropa di tahun 1988- Belanda seakan kembali, walau memang terlalu dini mengatakan ini. Tapi setidaknya kemenaagan penting ini menghembuskan keoptimisan bagi tim oranye.Dengan konsep penyempurnaan “Total Football” istilah Ricky Jo di saaat jeda pertandingan. Agresifitas pemain-pemain muda Belanda nampak rancak, rapi dan terkesan powerfull dalam 90 menit. Penampilan pemain Italia yang terkesan kurang greget dan semangat –mungkin karena absenya sang kapten Cannavaro -menjadi faktor tambahan berkembangnya permainan Belanda. Belanda nyaris menguasai lapangan tengah, terlebih di babak pertama.
Mungkin seakan sudah bukan jamanya mempertentangkan konsep “total Football” lagi atau Cattenacio yang sepertinya juga mulai ditinggalkan pasukan Donadoni. Setidaknya itu terlihat di pertandingan malam ini yang sangat terbuka. Sepakbola saat ini adalah kolektifitas + kualitas individu, sebagai wujud penyatuan konsep Sepakbola Eropa yang kompetitif dan dinamis. Eropa adalah satu karena kompetisi modern yang berkembang di sana diwarnai semangat yang sama, yakni Stretegi komposisi pemain dari Pelatih. Bukankah kebesaran tim-tim Liga Eropa banyak terjadi pada pelatih yang cerdas dan terkesan keras kepala dalam meramu pemain??Satu kasuss begitu pentingya sosok Mourinho yang sangat membuat Massimo Moratti sangat terobsesi dengan kewibawaanya untuk mengukuhkan Dominasi “Neraazzuri” musim depan di lega Calcio.
Siklus 20 Tahun
Van Basten adalah sang Arsitek yang mampu meramu potensi pemain mudanya. Dua puluh tahun bukan waktu yang pendek dalam perjalanan sebuah tim.”Total Football adalah jargon penyemangat tim, tetapi bukan harga mati sebuah konsep dan perlu penyempurnaan seiring waktu. Tim Belanda kini adalah “Neo Total Football” (istilah gue). Semangat Total Football dari Rinus Michles yang disempurnakan oleh sang penerus, Marco Van Basten. Sepakbola Belanda Era ini adalah Agresifitas,Kedisiplinan dan kekuatan. Mungkin terlalu dini mengatakan ini terbaik, karena masih panjang jalan yang harus ditempuh.Tetapi ibarat langkah kaki, satu kaki telah melangkah dengan sempurna, tinggal menarik kaki yang satu dengan keoptimisan. Harapan Siklus juara tiap 20 tahun bukanlah sebuah angan.
Viva Oranje…


[+/-] Selengkapnya...

Perubahan



Kalimat perubahan akan selalu sejajar dengan kondisi suatu masa yang tak menentu. Kata-kata berubah selalu disuarakan bila kita diliputi kejumudan dan stagnasi dalam segala bidang. Pertanyaaanya, sejauh mana perubahan itu harus disikapi.

T :“ menurut anda gimana kangmas? Sudah berubah belum ya negeri ini?
J :“Susah pakdhe mengungkapinya, sudah banyak sih yang mengatakan berubah, tapi kok kondisinya kaya gini terus.


Perubahan memang tak hanya sebuah jargon semata, ambil satu contoh kasus semboyan;
Jargon Pemerintah SBY-JK dia awal pemilu presiden “Bersama kita Bisa”.
Kata bersama berarti interdependen, saling memerlukan, saling ketergantungan, begitu kata Jakob Sumardjo. Sedangkan “Bisa” menurutku adalah dapat melakukan segala hal, apapun rintangannya. Bisa bila diucapkan dengan kata-kata lantang -seperti yang diucapkan SBY di puncak hari kebangkitan nasional di Gelora Bung Karno 20 Mei 2008- adalah sebuah wujud keyakinan, komitmen, dan terakhir frame bertindak kita mengatasi segala permasalahan.
Tetapi melihat kenyataan yang ada, itu semua masih sebatas semboyan, bukan paradigma atau cara kita berpikir dan bertindak.

Kembali ke Tema Perubahan, perubahan tak akan ada jika kita tak berubah juga. Kenyamanan, kemalasan, ketakutan, penindasan dan kemandegan berpikir adalah musuh dari perubahan.

T :“ Terus kenapa kita tidak bisa berubah, Kangmas??
J :”Berubah memang bukan di mulut saja kok Pakdhe, perlu kerja keras dan Komitmen. Bukan Semboyan belaka Pakdhe
.

Pagi ini Rheinald Kasali pagi ini menulis tema perubahan lagi. Entah berapa kali dia menulis tema ini di buku dan esai-esainya. Dia berulang-ulang berkata pentingya “perubahan”. Selama belum terlihat perubahan di negeri ini, wacana seperti yang digaungkan RK ini akan selalu up-date.
“Perubahan memang belum tentu membawa sesuatu ke arah lebih baik, tetapi tanpa perubahan kita tak akan mampu mencapai pembaruan dan kemajuan”, demikian ungkap RK di Kompas pagi ini.
Perubahan akan selalu membawa harapan baru. Barack Obama maju sebagai calon presiden AS juga karena suara perubahan yang dia gaungkan. SBY-JK menang juga menang di Pilpres 2004 juga karena harapan perubahan yang dia usung.
Pertanyaan yang muncul, kenapa begitu banyak kata “perubahan” tetapi kondisi tidak berubah?. Untuk menjawab ini bisa seratus halaman menjelaskanya.
Tetapi yang paling penting kita perlu meneruskan semboyan “Berubah” menjadi paradigma bersama. Kita harus secepatnya berubah… menuju kemajuan.

T : Apanya yang kira-kira harus kita rubah , kangmas?
J : Banyak pakdhe. Pakde yang "banyak omong" itu juga harus dirubah menjadi “banyak kerja”.

Gubrak….!!!  kata Intan Nuraini.

Hahaha….Ternyata saat semangat perubahan diucapkan, kita sendiri sejenak terlupa bahwa kita juga harus berubah..

[+/-] Selengkapnya...

Berlibur ke Anyer



Antara Anyer dan Jakarta
kita jatuh Cinta...

Antara Anyer dan Jakarta
Kisah cinta tiga malam
Kan kuingat selamanya
Antara Anyer dan Jakarta


Bait lagu ini sekan aktual di akhir minggu ini. Walaupun tak sedang jatuh cinta. Tetapi aku jatuh cinta dengan keindahan Anyer.

Weekend di akhir Mei lalu diisi dengan berlibur ke Pantai Anyer, Banten. Selain merayakan hari ulang tahun bos, juga sebagai acara refreshing bersama staff dan karyawan. Selama dua hari dan semalam, kita sekantor menikmati kesejukan pantai Anyer di sela kepenatan aktifitas kerja. Bertempat di samping Wisma Tubagus (letaknya di samping Sol Elite Marbella) kita menghabiskan hari dengan keceriaan.

Suasana Penginapan yang Hijau dan Segar...


Meloncat...

Berenang, main pasir, main ombak dan bercanda-ria. Mungkin sejenak tetapi setidaknya kita perlu refreshing untuk mengurangi beban pikiran kita yang telah menumpuk.
Anyer I love U...

[+/-] Selengkapnya...

10 Film Indonesia Paling Berkesan



Semalam sambil tetirah di malam yang gerah akau dapet tema menarik di MetroTV.
Bertajuk Metro10, dengan bahasan 10 film Indonesia paling berkesan di hati penonton. Metode responden (aku lupa tidak tau jumlahnya) diambil untuk dijadikan sample survey. Hasilnya 10 Film Indonesia paling berkesan adalah :
1. Ayat-ayat Cinta (2008)
2. Nagabonar (1987- release ulang 2008)
3. Ada Apa Dengan Cinta (2002)
4. Nagabonar Jadi 2 (2007)
5. Gie (2005)
6. Cut Nyak Dien (1988)
7. Denias, Senandung di Atas Awan (2006)
8. Pemberontakan G30S/PKI (1984)
9. Arisan (2006)
10. Get Married (2008)

Menarik juga urutan yang didapat. Terlepas bagaimana metode sampling yang didapat -berkaitan dengan umur, pendidikan dan daerah- karena tentuanya sangat berpengaruh pada hasil akhir. G30S PKI tentunya, kita mungkin bisa berpendapat berkesan dalam arti “sebuah karya propaganda politik” atau memang menarik murni dari segi “artistic”. Di setiap filmpun punya tema yang beragam, dan sangat bermacam –macam pula kondisi social kulturalnya.
Di akhir ulasan ada benang merah yang dikemukakan si empu survey;
Ternyata Film yang dibuat dengan Ideologi dan hati-lah yang memberi kesan pada penonton Film Indonesia.
Benar atau salah dan dari sudut mana disimpulkan kita tidak bisa menilai secara sepihak.Dan memang acara ini sepertinya acara cuma sebatas menyaring opini masyarakat di masa menghangatnya eforia “Kebangkitan Nasional” dan upaya reaktualisasi semangat “nasionalisme” .
Memang belum jelas juga mau dibawa kemana identitas negeri ini..
So…Gimana pendapat Anda??

[+/-] Selengkapnya...

Kontroversi Kenaikan BBM Menghabiskan Energi Kita



Kenaikan BBM yang akhirnya diambil pemerintah di akhir Mei ini sepertinya tak akan membawa solusi jangka pendek yang baik buat rakyat, khususnya rakyat golongan terbawah. Berbagai alasan yang dikemukakan pemerintah dalam hal ini seakan belum memberi jawaban pertanyaan rakyat . Demo besar sepertinya akan terus menghiasi berbagai sudut jalan di berbagai kota.
Ironisnya, Kebijakan Pemerintah sepertinya belum beranjak untuk memihak kepada rakyat kecil. Permasalahan yang menjadikan tarik ulur di kalangan elit dan pengamat sekitar “penghapusan subsidi BBM” semakin melenceng dan cenderung melupakan esensi penderitaan rakyat. Subsidi di Negara berkembang memang masih diperlukan, tetapi memang harus tepat sasaran. Di sinilah letak persoalan itu. Pemerintah belum mampu menyelesaikan masalahnya; birokrat yang korup, dan “trust” yang semakin rendah dari rakyat membuat pemerintah semakin terjepit.
Bantuan Langsung Tunai Plus(BLT Plus) yang menjadi senjata pemerintah untuk mengalihkan subsidi ke tangan yang tepat memang pantas diragukan. Melihat reputasinya (BLT tahun 2005 terbukti tak efektif) keraguan kita memang cukup logis.. Disamping membuat rakyat semakin bermental peminta, efek yang lebih besar yang langsung dirasakan rakyat kurang menjadi kajian pemerintah.
Disamping itu alasan penyelamatan APBN juga sangat gampang dibantah dengan hitung-hitungan kasar berbagai pengamat. Lagi-lagi persoalan manajemen pemerintah dalam mengelola potensi Negara. Manajemen energi yang amburadul, energi cadangan dan alternative tak juga kita jadikan wacana untuk mengubah paradigma energi kita bersama. Sampai kapan kita akan selalu bersikap seperti ini.
Momentum krisis energi seharusnya benar-benar merevolusi sikap kita dalam mengkonsumsi energi. Energi alternative selain bahan baker fosil harus segera mengubah pola konsumsi kita, karena memang jumlahnya semakin menipis. Kita kaya akan sumber energi dari alam, tetapi tak pintar memanfaatkanya.
Persoaalan Subsidi adalah persoalan saat ini,cukup kecil jika kita bandingkan dengan masa depan negeri ini. Jangan kita habiskan energi kita dalam masalah ini. Masa depan masih panjang dan butuh keseriusan untuk mengubah nasib kita. “Perubahan” adalah sebuah keniscayaan bagi siapa yang berkeinginan mengubah nasib.

[+/-] Selengkapnya...

Uneg-uneg 100 tahun Kebangkitan Nasional


Minggu ini tak hentinya berbagai media mem-blow-up tema Kebangkitan Nasional yang kita peringati ke-100 di tahun ini. Aku ikut eforia ini dengan membeli beberapa media seperti: TEMPO edisi khusus, Kompas edisi kusus, dan berbagai informasi di dunia maya.
Apa makna  peringatan 100 tahun kebangkitan Indonesia?
Kebangkitan Nasional yang kali ini membawa makna penting bagi bangsa. Kita tahu bagaimana pada 20 Mei 1908 Dr. Sutomo, Dr Wahidin dan kawan-Kawan mendeklarasikan Budi Oetomo disemangati sebuah kesadaran. Kesadaran untuk bangkit dari ketertidasan, penjajahan dan ketertinggalan. Sebagaimana makna bangkit, pasti dimulai sebuah kesadaran. bangun dari tidur kita sadar bahwa kita harus segera beraktifitas dan berkegiatan. Bukan hanya terus menerus bermimpi tanpa adanya upaya mewujudkan mimpi.

Mimpi, Tersadar untuk Bangkit, Selanjutnya??
Aku sendiri berpendapat kebangkitan harus datang pada diri setiap insan.Kebangkitan tak bisa begitu saja berhenti pada tahap slogan bersama tanpa makna. perayaan seremonial adalah upaya hype aja. Yang terpenting adalah pencerahan di setiap pikiran kita. Anwar Gonggong, salah satu sejarawan yang kita miliki berucap "Kita banyak punya tokoh pintar, tapi tak banyak yang tercerahkan".Simple tetapi mengandung  esensi yang dalam.
Jadi mari menjadi bagian yang tercerahkan itu dengan kesadaran ;
- Sadar bahwa kita tak boleh berhenti mencari ilmu dan berjuang.
- Sadar bahwa masih banyak yang harus kita benahi...
- Sadar untuk segera bangkit dan Berubah, Mengubah keterketinggalan kita menjadi sebuah jalan untuk segera lari menuju kemajuan.

Hidup bukan berhenti pada tahap kita tahu,
tetapi harus secepatnya sadar apa sebenarnya yang harus kita lakukan setelah mengetahui...
Bermimpi adalah sebuah keniscayaan hidup optimis,
tetapi yang lebih penting cepatlah bangun dari mimpi dan mewujudkan mimpi itu....

[+/-] Selengkapnya...

Dilematisnya Kenaikan BBM



Minggu ini kita tak akan lepas dari berita rencana Kenaikan BBM. Hal ini Sepertinya akan pasti menjadi kenyataan, dan sesegera mungkin akan semakin mencekik beban hidup rakyat Indonesia. Kenaikan harga minyak dunia yang pelan tetapi pasti sepertinya sudah memaksa Tim Ekonomi SBY mengibarkan bendera putih dalam mengeluarkan sumsidi. Harga minyak menyentuh angka 120 dolar per barel (diperkirakan sampai 200 dolar di akhir tahun) membuat beban anggaran menyentuh 20% dari total adomestik bruto (PDB)
Mati atau tersiksa...? sekarat atau tamat?. Mungkin ironi yang kini dipikul tim Ekonomi SBY.
Minggu kemarin tim ini membuat tak kurang 64 skenario menghadapi situasi ini. Kembali sifat bimbang SBY dalam menghadapi situasi dilematis ini. Apa yang sebanarnya di benak SBY dan timnya, patut kita cermati bersama.
Tak kurang beberapa ekonom sudah memberi masukan, tak mungkin lagi pemerintah bertahan dan bergeming dengan memberi mimpi manis pada rakyat. Subsidi BBM harus segera dipangkas untuk mengamankan keuangan dan masa depan perekonomian.

Pengalihan Subsidi, bukan Kenaikan BBM.

Kenaikan BBM kali ini menurutku perlu dilakukan pemerintah dalam porsi yang seimbang . Salah satu alasan, ternyata subsidi BBM ternyata lebih dinikmati oleh kalangan menengah ke atas. Kasus nyata adalah beralihnya hampir 50% penggunaan BBM mobil pribadi dari pertamax -BBM tak bersubsidi- ke premium. Sehingga pemerintah harus berupaya keras membentuk opini di masayarakat bahwa kenaikan ini adalah upaya pengalihan subsidi ke kalangan yang lebih berhak. Menurut Faisal Basri subsidi BBM yang sekarang diberikan ternyata 25 s/d 30%-nya dinikmati oleh 10% orang terkaya di Indonesia, dan 10% orang termiskin hanya menikmati 1% subsidi BBM. Artinya semakin pemerintah membiarkan harga BBM dengan harga sekarang, akan terjadi banyak penyimpangan aggaran yang dikeluarkan pemerintah.

Mengubah Pisau kebijakan.
Selama ini memang terjadi gejala ketidakadilan pemerintah dalam mengelola kebijakan. Mungkin memang tak ada memang rumus ekonomi liberal yang memihak ke kalangan kecil. Kebijakan pemerintah ibarat mata pisau, tajam ke bawah tumpul ke atas. Ambil contoh kebijakan pemerintah yang tak pernah ada ‘niat” untuk menyelesaikan pengemplang dana BLBI yang notabene kelompok kakap negeri ini. 
Di satu sisi misalnya, pemerintah terlalu membabi buta dan sangat tak sabar dalam program konversi minyak tanah ke Elpiji. Padahal rakyat benar-benar belum sepenuhnya siap, perlu proses untuk penyesuaian.
Moment kali ini harusnya dimanfaatkan SBY untuk secepatnya mengubah pola kebijakan yang lebih memihak ke rakyat kecil. Janganlah terlalu lama berpikir dan hanya meminta rakyat bersabar dengan kondisi yang semakin susah. Solusi lain semacam smart card dan program pengalihan lain yang melibatkan birokrat berulang kali tak pernah efektif.

Pertanyaan selanjutnya kemana program pengalihan subsidi diarahkan? Banyak langkah yang bisa ditempuh oleh pemerintah yang nyata-nyata harus cepat dilakukan. Pembenahan Insfrastruktur dengan program padat karya adalah contoh kecil. Program lain yang sifatnya memberi kail kepada rakyat -setidaknya menyambung nafas rakyat – jauh lebih bermanfaat daripada mekanisme lain yang ujung-ujungya hanya pepesan kosong harus. 
Rakyat kecil sebenarnya bukan tak punya daya tetapi butuh aktualisasi diri untuk eksis. Rakyat butuh kail bukan disuapi. Masih ada jiwa kemandirian dari rakyat, pemerintah-lah yang mefasilitasi. Butuh kesungguhan memang, tetapi bisa bila ada kemauan dari pemerintah.
Pemerintah harus segera berhenti menjual senyum, seperti seorang penyanyi menghibur audience-nya.
Seperti judul lagu pak presiden “Rinduku Padamu” memang judul indah, tetapi lebih indah bila liriknya lebih mengayomi ;
Aku rindu padamu… wahai rakyatku.
Ingin kutemani dirimu dalam keceriaan dan kesedihanmu..
Sebagai wujud aku selalu di sisimu.
Dalam suka maupun duka...
Weleh-weleh…maaf ya Pak.

[+/-] Selengkapnya...

Memberi dan Menerima



Tak banyak mungkin perbedaan antara dua kata ini, tetapi sebenarnya punya esensi yang saling berkebalikan. Memberi adalah ungkapan aktif dalam diri kita untuk melakukan sesuatu yang”berwujud”. Sedangkang menerima adalah perbuatan sebaliknya.
Dua kata ini secara tak sdar seperti menjadi inti dari kehidupan ini. Kehidupan ini adalah kumpulan kejadian memberi dan menerima. Suatu saat kita memberi kepada orang lain, saat yang lain kita menerimanya.Demikianpun kepada dan dari Sang Maha Memberi.
Permasalahan yang muncul adalah seberapa besar hasrat kita untuk memberi maupun menerima.. Suatu saat tak jarang kita selalu mengeluh dengan penerimaan kita yang kita anggap tak sebanding dengan yang kita lakukan (salah satunya perbuatan memberi). Suatu saat kita mengeluh, penghasilan kita kok jumlahnya sekian saja dan belum berubah. Padahal kita sudah merasa bekerja keras, bahkan mungkin sampai banting tulang istilahnya tetapi hasil yang kita terima seperti tak sebanding.
Secara tak sadar dalam detik itu kita telah memutar frekwensi pemikiran kita ke arah “Sang Peminta”, yang akan selalu terfokus dengan apa yang akan kita terima. Sisi penyeimbang dimana kita juga harus memberi seakan sejenak terlupa. Ketidakseimbangan adalah sebuah permasalahan dalam kehidupan.
Sebuah kejadian kecil menyentil diri ini untuk sejenak harus merenung tentang hakekat “memberi dan menerima”: Seorang pengamen Bis kota dengan suara yang lumayan untuk ukuranku berkata di akhir lagu “Seratus dua ratus tak berharga bagi Anda, tetapi akan sangat berarti dalam kehidupan kami”. Lupakah kita pada detik ini anak ini memberi jalan kita untuk sejenak memberi walau itu sebuah senyum saja.
Sebuah pemberian kecil kita secara ikhlas, akan menjadi bermakna . Kecil bukan tak berarti dan keberatian tak selalu harus berwujud dari jumlah yang banyak.
Marilah kita putar jarum frekuensi pikiran kita untuk memjadi sang pemberi untuk sekedar mengimbangi apa yang kita telah banyak terima.
Di dunia ini kita dilahirkan tak membawa apa-apa, jikalaupun kita perti tak membawa sesuatu –kecuali amal- sepertinya tak akan ada rugi dalam diri kita. Karena betapa sebanyak apapun kita memberi, tak akan bisa mengimbangi dengan apa yang selalu kita terima dari yang Maha Kuasa ; teman, keluarga, rejeki, kesehatan, jodoh dan lebih banyak lagi yang kita terima.
Hidup memang bukan persoalan “hitung-hitungan”,tak usahlah kita menghitung berapa besar yang telah kita berikan kepada sesama. Karena tak akan pernah sebanding dengan apa yang kita terima.. Sunggguh indah memang perbuatan memberi, karena ini adalah inti dari segala makna hidup. Cinta sekalipun yang menjadi batang kehidupan tak lepas dari memberi.
Akhirnya Salah satu ungkapan makna cinta sejati akan menutup tulisan ini;
“Cinta sebenarnya adalah anggap apa yang kau berikan (pada Sang Pecinta) itu sesuatu yang kecil walaupun itu besar jumlahnya,
Dan anggap apa yang kau terima adalah sesuatu yang besar walaupun itu sesuatu yang kecil”…itulah makna cinta sesungguhnya.

[+/-] Selengkapnya...

Teror Baru




-Gambar courtesy KOMPAS--

Heboh UN tahun ini terasa lebih menakutkan dibanding tahun-tahun sebalumnya. Disamping dinaikkanya standar kelulusan juga ditambahnya mata kuliah penentu kelulusan yang membuat beban siswa semakin berat.
Yang lebih menghebohkan justru kejadian di SMA Negeri 2 Lubuk Pakam, Deli Serdang,. Belasan guru yang sedang mengganti jawaban ujian nasional Bahasa Inggris siswa-siswi di sekolah itu digerebek polisi. Tidak tanggung-tanggung, penggerebekan dilakukan oleh anggota Detasemen Khusus 88 Antiteror (Kompas, 26/4/2008).
Yang jadi pertanyaan, setahuku Densus 88 bukankah kelompok pasukan intelejen yang bertugas menaggap pelaku teroris di negeri ini? Sepertinya tim ini lagi sepi order sehingga “ngompreng” di jalur UN karena dana yang bergulir untuk event tahunan ini lumayan besar.
Disamping teror yang berwujud sebuah pasukan , kini memang masyarakat khususnya kaum siswa setiap akhir periode sekolah telah dihantui oleh sebuah teror bernama Ujian Nasional (UN).
Menurutku memang bukan sesuatu hal yang baru memang ujian akhir penentuan kelulusan. Dahulu di jaman aku sudah ada EBTA dan EBTANAS sebagai salah satu parameter kelulusan siswa. EBTA daan EBTANAS secara psikologis juga menimbulkan tekanan saat megahadapinya. Tetapi kala itu masih kuanggap tekanan positif untuk siswa sebelum memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi atau masuk dunia kerja.Sebuah keberhasilan memang perlu beberapa parameter penilaian kuantitatif. Lalu Apa bedanya UN sekarang?Disamping sebagai parameter yang absolud, UN sengaja dijadikan pemerintah sebagai jalan pintas mengupgrade kualitas pendidikan Nasional. Dalam kasus tertentu bisa jadi hal itu bernar adanya, tetapi jika berbicara masalah keberhasilan pendidikan tentu sangat dini. Pada titik UN dijadikan parameter kelulusan tentu tak akan menyanggahnya, tetapi jika melihat absolutisme pemerintah dalam pelaksanaannya tentu kita harus mengingatkan.

Kini Indonesia sedang memasuki masa teknokrasi absolut dalam pendidikan, demikina dikata Doni Koesoema di opini Kompas hari ini (30 April 2008). Dia menegaskan absolutisme terlihat dimana belajar mengajar hanya dinilai melalui angka-angka hasil ujian yang sama sekali abai terhadap kenyataan, kesulitan, dan kompleksitas persoalan pendidikan di lapangan.
Lebih lanjut dia berkata Data nilai UN sama sekali tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi di lapangan. Nilai itu tidak berbicara sama sekali tentang bagaimana hancurnya sarana-prasarana pendidikan yang ada. Nilai UN juga tidak berbicara sama sekali tentang kualitas guru di lapangan.
Para guru membantu muridnya membenarkan jawaban murid saat UN memang sebuah kejahatan Tetapi yang lebih penting adalah mempertanyakan bagaimana hal itu bisa terjadi sangat lebih penting. Karena itu akar masalah sebenarnya, sedangkan kita selalu saja meributkan bagaimana penyelesaian ekses negative dari sebuah kebijakan.
Aku mencoba berandai jadi guru yang terteror ;
>>Guru takut nilai muridnya tidak memenuhi standart UN, Padahal dia sudah bekerja keras mengajarkannya.
>>Guru takut sekolahnya tercoreng gara-gara muridnya banyak yang gagal di UN.
>>Guru takut menjadi momok pendidikan karena prestasi buruknya.
>>Guru takut dipecat dan kehilangan masa depan gara-gara semua ini..
Pada titik dimana dia berusaha untuk keluar dari semua teror ini, Dia malah “Diciduk” oleh Tim anti Teror.
Teror baru sepertinya bukan dari sekelompok nyleneh yang menafsirkan ajaran agama secara sepihak. Tetapi teror muncul dari tim anti teror yang meyakini sebuah kebenaran atas nama absolutisme kebijakan penguasa…Naif benar.

[+/-] Selengkapnya...