Jakarta, 21 Februari 2012 (J-21022012)

Tanggal ini sekitar tiga puluh delapan bulan lagi, akan terjadi sebuah kejadian yang tak akan dilupakan oleh warga kota ini;
Hari ini tanggal 21 Februari 2012 -hari yang unik secara kalender- Jam menunjukkan pukul 13.13 WIB. Entah kebetulan atau tidak seluruh kendaraan di kota ini mengalami macet total di hampir seluruh kota Jabodetabek sampi ke gang kecil sekalipun. Kejadian berawal dari pemadaman listrik kota Jakarta dan sekitarnya (biasa kan pemadaman bergilir). Semua aktifitas kantor dan kegiatan lain berhenti dan karyawan terpaksa pulang berbarengan. Berbarengan dengan pemadaman listrik, sistem Traffick manajemen Lalu lintas secara tiba-tiba mengalami kerusakan hampir menyeluruh di penjuru kota. Kemacetan benar-benar menunjukkan titik puncak dari "Keadaan stagnasi" Lalu lintas Kota Jakarta.
Siang ini adalah siang tersial dari warga kota. Secara kebetulan Cuaca menunjukkan titik kulminasi tertinggi walau Februari masih dalam hitungan musim penghujan. Anomali iklim membuat cuaca benar-benar panas sampai hampir menyentuh angka 40 derajat Celcius. AC kendaraan tidak banyak menolong suasana panas pengendara. Suasana sangat membuat kesal bahkan berlangsung sangat lama hingga berjam-jam.
Suasana yang sangat kacau ini berpuncak pada satu kejadian : Seluruh pengendara tanpa kecuali keluar dari mobil (untuk yang bermobil) dan meninggalkannya di tengah jalan menuju tempat lebih nyaman (Mall tentunya). Bagi pengendara motor menaruh seketika sepeda motornya di tengah kemacetan. Secara spontan mereka mengumpat terhadap kotanya
"Oh Benar-Benar Kota Yang Memuakkan"...(maaf sekedar Ilustrasi saja)....
Tentunya Kejadian ini memang khayalan dan rekaanku belaka. Tanggal rekaan biar keren, keadaan rekaan(dan serba kebetulan ) biar tambah ilmiah. Spontan saja punya ide cerita gila ini. Di tengah banyaknya prediksi kejadian di masa datang, tema stagnasi lalu lintas jakarta menjadi tema yang selalu menarik. Benang kusut lalu lintas Jakarta sangat menujukkan kegagapan pemegang kebijakan kota ini membuat lebih baik. Isu teranyar adalah usulan kenaikan tarif parkir. Di tengah masih acak-acakanya perpakiran Jakarta, tampaknya usulan ini dianggap upaya tangan panjang oknum menambah setoran (baca; premanisme) yang justru digaungkan oleh Kapolri Baru.
Pembenahan Pola Transportasi Makro (PTM) Jakarta bukan tanpa upaya solusi serius dari Pemerintah. Simak saja program ke depan Pemerintah:
1.Transjakarta ( TiJe atau Busway)
Dimulai oleh Transjakarta (dikenal dengan Busway) sebagai moda angkut massal dengan memakai sebagaian badan Jalan untuk jalur khusus Bus berdaya angkut besar. Hasilnya bisa kita lihat setelah diluncurkan empat-lima tahun silam nampaknya sebagian masyarakat berpendapat Dengan jumlah saat ini sekitar 10 koridor (rencananya 15 koridor, Kompas 17-11-08) Transjakarta justru menambah kemacetan dimana-mana. Keberhasilan Transmilenio sebagai proyek acuan TiJe di Bogota Kolombia nampaknya sangat beda karakter lalu lintas maupun habit bertrasportasi warga Indonesia dan Kolombia.
2.Waterway.
Proyek selajutnya yang lebih dibilang kurang terencana (baca :gagal) adalah Waterway. Proyek yang hanya bertahan seumur jagung terkendali elevasi sungai di Jakarta yang tak mundukung.

Yang direncanakan
Proyek trasportasi massal selanjutnya memang menunjukkan langkah lebih serius. Moda yang lebih modern dan dengan daya angkut massal seperti;
1.Proyek Monorail
Proyek yang direncakan untuk angkutan Massal di lingkar District Bisnis dan sudetan arus tengah kota memang berpotensi mengurangi beban jalan oleh kendaraan umum. Bila Proyek ini macet, lebih karena kurang cakapnya skenario pemerintah bekerjasama dengan pihak Investor sebagai proyek yang menguntungkan.
2.Proyek Mass Rapid Transit (MRT)
Proyek angkutan Mahal ini direncanakan memotong jalur lewat bawah tanah dari daerah pinggiran ke tengah kota. Direncanakan proyek awalnya adalah Lebak Bulus sampai Dukuh atas (Jl. Sudirman) Proyek ini yang paling potensial sekaligu super mahal. Jika ini terlaksana Jakarta akan jadi kota super modern dan lebih bergerak cepat.
3.Kereta Api Bandara
Kereta ini sebagai pintu penjemput penumpang Pesawat di tengah kota. Dengan sistem City Check In di stasiun keberangkatan akan mengurangi "waktu sia-sia" kita menunggu Pesawat di Bandara. Rencananya Kereta ini mengurangi penumpukan kendaraan di satu-satunya jalur (Jalan Tol) yang banjir besar tahunlalu.
Disamping proyek utama dari PTM tersebut masih ada proyek pendukung lainnya yang menurutku lebih murah untuk difokuskan di awal. Jalur Kereta Api Jabotabek sangat potensial dikembangkan lebih bagus (sekarang?, mungkin lumayan saja). Jalur kereta dari Hinterland Jakarta semacam Double Track Serpong, Bekasi dan Bogor sangat menunjukkan moda yang potensial mengurai penumpukan kendaraan pribadi di jalan raya. Selain adanya kereta reguler sebagai moda trasportasi murah. Jalur ini sangat minim resiko gesekan kepentingan masyarakat bila dikembangkan lebih intensif.
Bila program PTM ini berjalan seperti rencana kejadian ilustrasi di awal tulisan kemungkinan besar tak terjadi. Melihat keadaan sekarang kita diberi dua kaca mata melihatnya. Kacamata buram yang selalu melihat keadaan serba tak menentu atau kacamata Baca yang jernih yang melihat segala sesuatu dengan optimisme.
J-21022012 adalah angka yang indah, namun akan menjadi angka sial sejarah kota ini. Ayo kita dukung dari hal yang paling kecil. Semampunya kita berapresiasi saja.Nuwun....

NB:
Gambar Diambil dari sini
Ditulis karena Saat timku lagi pusing dengan Proyek Sayembara "Stasiun Kereta Api Interchange Dukuh Atas" Jakarta.

[+/-] Selengkapnya...

Weekend Ngerjain PR yang Menumpuk...

Wah saking pusingnya mikir kerjaan (sok sibuk ceritanya). Aku numpuk beberapa PR dari beberapa teman. PR ini terdiri tiga, inilah rapelan PR yang numpuk itu.
A.Tentang Latar Belakang Arti Blog "Ruang Tetirah"
Ini PR dari kang addienk tentang latar belakang dan arti dari blog ini. Begini ceritanya;
1. Latar Belakang Ngeblog, ya ingin supaya lebih pinter dan tidak gaptek. Informasi jadi lebih kaya lagi yang masuk ke otak. Mikir juga jadi lebih bisa ter-struktur.
2.
Tentang Blog ini. Mulainya baru April 2008 ini. Ya mumpung ada waktu dan fasilitas di kantor dimanfaatin untuk Hal Positif.
3.
Arti nama "Ruang Tetirah", menurutku tempat beristirahat dan "ongkang-ongkang" di sela kesibukan dan Rutinitas. Harapanya tempat ini sebagai tempat untuk sejenak melepas kepenatan. Nulis apa aja dan Apa adanya (yang sering ngawur).Tujuan sederhanya mencoba memahami hidup ini dan "Menyederhanakan Kompleksitas Hidup"seperti tagline judul blog.
B.10 Kalau Aku Jadi, maka
PR Kalau 10 Hal aku menjadi dari Kang Blogger Addicter ini juga lumayan Pusing. Tapi tidak usah dibikin pusing.Dikasih kesempatan berandai yaharus dimanfaatin to?
Inilah 10 Hal Kalau aku jadi :
1. Kalau aku jadi Arsitek dan Konsultan Sendiri, aku akan pilih-pilih Job yang sesaui idealisku (duitnya lumayan tapi). Yang tidak sesuai idealisku mikir-mikir dulu duitnya gede tidak?? (he-he sama saja ya).
2. Kalau aku
Jadi Punya Rumah Sendiri. RTH (ruang terbuka hijaunya harus 60 % dari lahan. wuih alangkah ijonya pekaranganya
3. Kalau aku
jadi Penulis sebagai selingan hidup,aku ingin seperti Gede Prama yang bisa selalu Ngikutin "Lentera Hati"-ku
4. Kalau aku
jadi Pengusaha, aku pengen buka usaha "warung angkringan (warung hik)" untuk tempat sosialisasi warga dan tempat yang paling egaliter di dunia.
5. Kalau aku
jadi Presiden.Wakilku adalah wanita. Partner yang cantik adalah Inspirasi...
6. Kalau aku
jadi wartawan saya pengen jadi wartawan Politik Internasional yang bisa keliling dunia, terutama Timur Tengah dan Eropa
7. Kalau aku
jadi pemain bola ,aku pengen main di Inter berpasangan dengan Ibrahimovic.
8. Kalau saya
jadi direktur suatu perusahaan saya pengen buat program CSR yang terbuka untuk siapapun.
9. Kalau saya
jadi Cendekiawan, sayaakan buka sebuah Learning center. amin...
10. Kalau saya
jadi orang sukses di bidang apapun, saya tidak akan sombong.Dunia ini fana...halah...
Namanya juga jikalau, jadi ya kudu yang baik dan diniatkan dengan ikhlas.Kesempatan Narsis kali
C. What "Arif Rahmat Basuki" Means....
PR tentang "Arti dari Nama"dari mBak Noeqiah. Hasilnya arti namaku silahkan diartikan sendiri:

What Arifrahmatbasuki Means
You are usually the best at everything ... you strive for perfection.
You are confident, authoritative, and aggressive.
You have the classic “Type A” personality.

You are wild, crazy, and a huge rebel. You're always up to something.
You have a ton of energy, and most people can't handle you. You're very intense.

You definitely are a handful, and you're likely to get in trouble. But your kind of trouble is a lot of fun.
You tend to be pretty tightly wound. It's easy to get you excited... which can be a good or bad thing.

You have a lot of enthusiasm, but it fades rather quickly. You don't stick with any one thing for very long.
You have the drive to accomplish a lot in a short amount of time. Your biggest problem is making sure you finish the projects you start.

You are loving, compassionate, and ruled by your feelings.
You are able to be a foundation for other people... but you still know how to have fun.

Sometimes your emotions weigh you down, but you generally feel free from them.
You are truly an original person. You have amazing ideas, and the power to carry them out.

Success comes rather easily for you... especially in business and academia.
Some people find you to be selfish and a bit overbearing. You're a strong person.

You are confident, self assured, and capable. You are not easily intimidated.
You master any and all skills easily. You don't have to work hard for what you want.
You make your life out to be exactly how you want it. And you'll knock down anyone who gets in your way!

You are a seeker. You often find yourself restless - and you have a lot of questions about life.
You tend to travel often, to fairly random locations. You're most comfortable when you're far away from home.
You are quite passionate and easily tempted. Your impulses sometimes get you into trouble.

You are full of energy. You are spirited and boisterous.
You are bold and daring. You are willing to do some pretty outrageous things.
Your high energy sometimes gets you in trouble. You can have a pretty bad temper at times.

You are the total package - suave, sexy, smart, and strong.
You have the whole world under your spell, and you can influence almost everyone you know.
You don't always resist your urges to crush the weak. Just remember, they don't have as much going for them as you do.

You are a very lucky person. Things just always seem to go your way.
And because you're so lucky, you don't really have a lot of worries. You just hope for the best in life.

You're sometimes a little guilty of being greedy. Spread your luck around a little to people who need it.
You are a seeker of knowledge, and you have learned many things in your life.

You are also a keeper of knowledge - meaning you don't spill secrets or spread gossip.
People sometimes think you're snobby or aloof, but you're just too deep in thought to pay attention to them.


Selesai juga tugas PR ini. Untuk PR kali ini untuk diriku saja ah.Selain numpuk dan banyak Mau ngasih ke Teman kok masih malu nanti jadi ngrepotin. lain Kali Aku akan bikin PR untuk teman-teman juga.
Salam...

[+/-] Selengkapnya...

Sembilan Belas Tahun lalu...

Rentang sembilan belas tahun bukan waktu yang sebentar. Memori akan sebuah tanah kelahiran selalu memjadikan cerita indah untuk masa depan kita. Di tempat sama dalam waktu berbeda kucoba rangkai sebuah memori masa lalu. Kisah yang tak akan terhapus hanya oleh sebuah kebijakan tangan besi penguasa kala itu. Penguasa bisa menghapus sebuah peta , tapi tak bisa menghapus sebuah memori yang selalu mendasari impian kita.
Cerita ini seharusnya aku tulis sebagai cerita mudik lebaran lalu. Karena kesibukan dan ritunitas baru kali ini bisa kurangkai cerita ini. Bermula untuk mengenang kisah masa lalu, aku datang ke bekas desa masa laluku yang kini menjadi sabuk hijau genangan “Waduk Kedung Ombo”. Di sudut jembatan indah yang membentang di sungai desa, terlukis ingatan masa kecil. Masih seperti dulu, begitulah wujud jembatan ini. Masih kokoh walau terlihat kusam karena silih berganti terendam air waduk di tiap pergantian musim. Masa kecil saat mandi di kali sebagai wujud kebahagiaan anak-anak desa. Menangkap udang dan ikan dan beragam jenis mainan yang lahir dari penghargaan alam warga desa.
Sampai saat inipun, disela obrolan masa lalu dengan kerabat masih berandai bahagianya jika masih bisa berkumpul di desa kita yang sangat guyup dan makmur. Bukan tidak mungkin kita tak terimbas budaya “urbanisasi”. Kesadaran untuk berani menyatakan kata “cukup” saat itu membuat warga merasa tentram dan rukun. Esensi kemakmuran yang mustahil kita dapatkan saat ini. Aku lahir di rumah kakek-nenekku, masa kecilku juga sempat merasakan keindahan itu sampai kita pindah ke daerah lebih tinggi yang bebas dari genangan waduk (tidak jauh dari dusun kita yang tergenang). Segalanya seperti berjalan apa adanya, sebelum Sebuah Proyek Raksasa mengubah jalan hidup kita semua. Ribuan Desa tergusur Proyek Waduk Kedung Ombo. Warga yang semula terikat dalam satu dusun yang nyaman harus bepisah membuat berpuluh dusun baru karena jadi korban gusuran. Meski sebagian besar warga pindah ke daerah yang tak begitu jauh, tetap saja mengubah cerita bersama. Meskipun tak lebih dari 6 tahun aku melewati masa itu, setidaknya aku merasakan sisa memori itu.
Saat ini bisa jadi aku merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang tua sebelum aku apa artinya mempertahankan tanah kelahiran. Bagaimana penolakan dianggap sebagai tindakan pembangkangan Negara kala itu. Masih aku ingat saat pagi buta harus bersembunyi-sembunyi menghindaari intimidasi aparat desa untuk sekedar berkeluh kesah ke Gedung DPR di ibukota berjarak tak kurang 600 km. Aku mewakili satu generasi yang tak tahu menahu masalah utama kala itu. Generasi yang lebih beruntung dari adik dan keponakanku kini yang hanya bisa melihat sisa itu tanpa melihat cerita di balik itu.

Insya Allah Bersambung……

NB: Cerita Ini sempat tertahan di USB-ku beberapa minggu.
Tak pede dengan dengan isinya yang sentimentil. Akhirnya ku-posting setelah Kudapatkan Novel tentang "Ritual Gunung Kemukus" yang aku temukan di Indonesia Book Fair 2008 di JCC, Jakarta. Mencoba untuk menjadikan cerita dari awal dari rangkaian cerita.

[+/-] Selengkapnya...

Super OBAMA


Dunia bersorak bersama menyambut Kemenangan Barrack Obama.Seorang keturunan Afro-Amerika pertama akhirnya terpilih menjadi Presiden Amerika ke -44. "Perubahan Telah datang", satu inti kata yang diucapkannya  dalam pidato kemenangan dia. Ucapan yang akan ditunggu-tunggu oleh publik dunia di empat tahun ke depan.
Obama telah membawa harapan baru bagi Amerika dan dunia, dan ketinggalan Indonesia menjadi bagian eforia itu. Tiga tahun pernah tinggal di Indonesia (sekolah di SD Menteng 01), banyak membawa perasaan sentimentil kita tentang kenangan sosok Barry kecil hingga sekarang menggapai impian terbesarnya. Teman dan juga orang terdekat Obama mendadak menjadi orang penting karena media antri menanyakan serba-serbi sosok si Barry. Cerita Anak Menteng yang menembus Gedung Putih menjadi berita yang sangat renyah bagi media. Andai Obama memakai nama belakang bapak tirinya; Lolo Sutoro di belakang nama Barrack menjadi Barrack Sutoro , alangkah semakin sentimentilnya kita berkata bahwa : Obama mesti wong Jowo..., hahaha...

Menunggu Kiprah "Super OBAMA"
Terlepas sentimentil semua eforia kemenangan Obama. Beban dia sebagai penerus Amerika sangat berat. Kebrobokan dunia sudah sangat parah akibat ulah Presiden Bush. Krisis Timur Tengah dan paling anyar Krisis Finansial sebagai wujud meletusnya gelembung kosong pertumbuhan ekonomi Amerika adalah sederet tugas Obama ke depan.
Tetapi langkah dunia telah bergerak bersama menyambut harapan baru. Satu kata untuk mengatakan Percaya Obama akan membawa perubahan itu. Obama mungkin bukan Superman, tetapi Obamamempunyai kesempatan besar mengubah masa depan dunia. Satu tangan Obama telah menenteng satu keranjang berisi "Harapan Dunia" kemudian satu tangan lagi adalah kuasa Obama untuk melakukannya.
Selamat buat Obama yang benar-benar  menghipnotis dunia.
Semoga Menjadi benar-benar "Super Obama" bagi dunia.

NB:Gambar diambil dari sini

[+/-] Selengkapnya...

Dendam Max Payne


Film yang diangkat dari game rupanya masih punya tempat di hati pecinta film. Salah satunya Film yang dibintangi bintang-bintang terkenal semacam Mark Wahlberg (sebagai Max Payne) Chris O’Donnel sebagai bos istri Max dan ada juga debut penyanyi cantik Nelly Furtado sebagai teman Max. Diharapkan film ini mengikuti jejak sukses game yang diangkat ke layar lebar sebelumnya seperti Resident Evil dan Hitman.
Kekuatan cerita film ini lebih terfokus pada kekuatan balas dendam seorang polisi yang kehilangan secara tragis istri dan anak tercinta. Kemampuan menembak dari Max dan kelamnya suasana setting kota menjadi kekuatan tambahan, yang sepertinya tak mau kalah dengan versi game itu sendiri. Dendam mencari pembunuh orang-orang tercinta membawa ke peristiwa dan masalah yang tak terduga.
Ketidaksabaran Max mencari pembunuh istri dan anaknya membawa sedikit demi sedikit permasalahan yang selama ini kabur. Istrinya Michelle yang bekerja untuk perusahaan Aesir ternyata punya peran penting dalam sebuah proyek rahasia yakni Serum kekebalan untuk Pasukan Militer yang akhirnya gagal dan menimbulkan masalah bagi pemakai. Kekuatan pemakai yang berlipat ternyata berefek samping timbulnya halusinasi (semacam kerasukan kekuatan iblis) yang bersifat jahat.
Cerita Tanggung
Sebagai film thriller action, garapan John Moore (sebelumnya menggarap film Behind Enemy Lines) terbilang cukup seru. Gambar kelam yang merujuk pada suasana asal game dikemas cukup rapi dalam efek visual CGI. Adegan tembak-tembakan sepanjang film juga sangat memanjakan penonton. Sayangnya cerita yang sudah jamak diangkat di layar lebar terlihat biasa dan kurang menunjukkan sebuah inovasi baru. Efek slow motion gerakan Max dalam menembak dan ledakan seru di setiap adegan seakan kurang didasari sebuah alasan yang kuat. Bisa jadi muncul pikiran di benak penonton; Penting tidak sih adegan ini? Bila Slow Motion ala film Trilogi Matrix menjadi bagian tak terpisahkan tokoh utama, gerakan Max Payne seakan terlihat sebagai sekedar adegan seru- seruan yang tak mengagetkan lagi –bila tak ingin dikatakan sangat biasa-.
Kerumitan cerita juga sebenarnya bisa dikatakan cukup tanggung. Terlepas harus dalam koridor cerita dasar versi game, kenapa tidak membuat cerita yang melibatkan intrik tingkat tinggi. Aku sendiri sangat kurang mengikuti perkembangan Game sehingga kurang kompeten membicarakan gamenya. Dalam cerita film, kasus yang mengakibatkan Istri Max dibunuh seakan terlalu simpel karena terlihat sebagai kasus mafia tingkat perusahaan saja. Film sekelas ini seharusnya tak takut lagi menyangkutkan masalah dengan konspirasi dengan pemerintah atau militer utama sebagai tambahan daya tarik cerita.
Terlepas dari kelebihan dan kekurangan film ini, setidaknya sedikit memberi warna lain diantara menjamurnya film lokal yang sebagian besar kurang pantas untuk diapresiasi. Akhir-akhir ini film kelas Hollywood memang sedang jarang nongol di sejumlah bioskop karena kepungan film lokal. Bisa menonton film ini setidaknya menjadi pengganti film “Body of Lies” yang ternyata udah turun layar di sebagian besar jaringan bioskop utama. Dendam ala Payne ternyata bisa juga diartikan balas dendam membunuh kejenuhan kita terhadap film lokal yang tak bermutu.

[+/-] Selengkapnya...

Titah Raja Jawa & Fenomena Demokrasi Kita.


”Dengan mohon petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Esa dan dengan niat yang tulus memenuhi panggilan kepada Ibu Pertiwi, dengan ini saya menyatakan siap maju menjadi Presiden 2009”
Ucapan singkat Sang Sultan (Sri Hamengku Buwana X) yang serta merta diikuti gemuruh ratusan ribu warga Jogja dan sekitarnya. Perhelatan Pisowanan agung sebagai wujud demokratisasai warga dan wujud uniknya demokrasi Indonesia. Pisowanan Agung bisa jadi wujud peninggalan budaya jaman Feodalisme -yang masih kuat di dalam hati rakyat.

Pisowanan Agung yang berasal dari budaya “Tapa Pepe” sebagian rakyat untuk berkeluh kesah kepada rajanya untuk meminta petunjuk solusi (lebih lengkapnya lihat disini). Seiring berjalan jaman Tapa pepe berkembang menjadi pisowanan agung sebagai wujud demokrasi rakyat. Sesuatu yang tak bisa kita pungkiri sebagai satu wujud demokratisasi rakyat yang simpel dan tanpa berbelit-belit.
“Kesengsem pada Sultan” demikian ungkapan Pengamat politik Ikrar Nusa Bhakti di Kompas (01/11/08) sebagai wujud eforia warga Jawa (Jogja khususnya) mendamba datangnya pemimpin baru bangsa ini. Tak mudah memang menebak gerak gerik Sultan beberapa bulan ini menghadapi dilema sang Raja Jawa yang tesisa ini (sekarang satu-satunya raja yang punya kuasa di struktur pemerintah). Posisi dilematis yang justru dilihat langkah politik yang “Malu-Malu Mau” oleh berbagai kalangan. Dilematisnya posis dia bile kelak jadi presiden. Tak mungkin di jaman demokrasi yang sedang dibangun bangsa ini merangkap tiga posisi sekaligus; Presiden, Raja dan Gubernur DIY. Meskipun kasus ini juga dialami ayahanda beliau. di Jaman Orde baru. Tetapi sekarang tak mudah membiaskan demokrasi disaat rakyat tau segala bias sang pemimpin mereka. Kegagapan Negara menghadapi dilema ini ditambah oleh ungkapan abadi perpolitikan;” Tak ada lawan atau kawan yang abadi, yang abadi adalah kepentingan". Sultan datang ancaman datang. Partai Golkar sebagai payung Sultan dalam berpolitik terlihat gugup melihat gejala ini. Terbaca sebagai Kemunduran berdemokrasi saat Jurus “Konvensi Partai” yang ditiadakan adalah rabaan yang sah menurutku terhadap gerak partai beringin ini. Ketakutan tokoh sentral yang sangat ambisius akan munculnya kuda hitam di partai ini diupayakan dibendung sejak awal oleh tokoh-tokoh ini. Ini adalah gejala ketakutan menghadapi kenyataan demokrasi.

Satrio Piningit dan Kerinduan Datangnya Pemimpin Sejati
Kembali ke persoalan Sultan, di luar permasalahan Sultan yang akhirnya “naik gunung” untuk meramaikan bursa Capres. Kasus Sultan sangat unik, di luar dia sebagai raja dan gubernuh daerah Istimewa. Apakah ini wujud demokrasi kita gagal? Bisa ya bisa jadi tidak. Eforia dukungan kepada Sultan bisa jadi menggelinding, tetapi bisa juga akan surut oleh sistem demokrasi yang pelan-pelan “dinikmati” juga oleh rakyat. Raja Jawa kembali adalah wujud kerinduan sosok pemimpin yang tak kunjung datang. Demokrasi tanggung dan instant yang diterapkan para birokrat saat ini pelan tapi pasti mengikis roh demokrasi yang justru mau kita tuju. Jawaban Feodalisme datang atau belum hilang bisa jadi adalah justifikasi yang prematur. Tetapi aku yakin Sebuah tesis akan selalu muncul antitesisnya. Sepertinya kerinduan akan “Satrio Piningit” yang datang untuk menyelamatkan rakyat tetap menghiasi mimpi-mimpi kita. Di saat sistem demokrasi yang kita gadang justru terseok menuju senjakala. Sang Raja siap bertitah menjadi kesatria penyelamat. Ironi demokrasi yang selalu menghiasi keunikan bangsa ini.

NB:Gambar diambil dari sini

[+/-] Selengkapnya...

Sumpah "Pemuda", Udah Basi?



Sumpah tulisan ini agak basi, tapi biar tidak basi mohon sejenak membaca.Jika kita masih merasa basi, Berusahalah untuk memperbaiki diri dan bergerak cepat untuk tidak semakin basi.
Saat ini Bangsa kita tak butuh sumpah , hanya butuh kita tak jadi "generasi basi" untuk memajukan bangsa ini. Bangsa kita akan semakin bete bila kita semakin basi...
Sumpah, basi banget ya kita....?


Sebenarnya Tulisan ini kutulis tiga hari lalu saat negeri ini memperingati 80 tahun ikrar pemuda dari berbagai penjuru nusantara. Mungkin basi membicarakan tema ini saat begitu cepatnya berita silih berganti . Saking basinya aku coba untuk "Ngeles" tema ini menjadi sebuah opini tentang peran Pemuda Indonesia. Terlepas ini  masih berhubungan dengan Sumpah Pemuda atau tidak.
Sumpah 80 tahun lalu wujud integritas pemuda terhadap bangsanya waktu itu. Pertanyaan selanjutnya, apa wujud integritas saat ini secara nyata? Berbagai kalangan memandang semangat kaum muda terhadap nilai-nila kebangsaan mulai luntur. Berbagai kenakalan yang timbul oleh Pemuda bisa dijadikan contoh. Tawuran pelajar dan mahasiswa, meningkatnya kasus narkoba dan berbagai stigma miring lengkap melekat di baju pemuda.
Dalam sebuah kolom opini di sebuah surat kabar disebutkan;
Apakah bisa pemuda saat mengambil posisi dan berperan seperti generasi muda tahun 1908, 1928, 1945, 1966, 1978, dan 1997. Tantangan itu didasari kenyataan bahwa di permukaan generasi muda saat ini kelihatan santai dan lebih memilih nongkrong di kafe atau pinggir jalan daripada serius memikirkan bangsa.
Wajar saja sih, di saat gempuran budaya global saat ini justru pemuda mempunyai tugas ganda. Satu sisi sebagai individu dan satu sisi dituntut peran sosialnya terhadap masyarakat dan bangsa. Mungkin tantangan ini tak sebesar masa tahun-tahun di atas tadi. Permasalahan saat ini pemuda kebanyakan kehilangan panutan. Panutan yang lebih menonjol justru bukan lahir dari mainstream kebutuhan pokok bangsa. Artis lebih terkenal dari tokoh masyarakat, penyanyi lebih didengar dari pada pemimpin masyarakat. Akhirnya orientasi pemuda seakan kabur, dan semakin lama terbentuk mental yang pragmatis di antara kaum muda.
Di Satu sisi Perubahan Bangsa menjadi sebuah deadline perjalanan bangsa. Kepemimpinan Nasional diragukan, kehausan tokoh pembaharu demikian besar. Saat demam "Saatnya Yang Muda Memimpin", gerak tokoh muda yang melatar dan membumi  seakan kering. Disilah letak kosongnya peran Pemuda satu dasawarsa ini.
Seperti apa Peran Pemuda saat ini?
Pertanyaan yang cukup luas. Tapi aku berpikir tak ada beda Muda atau Tua. Muda lebih pada harapan yang panjang untuk kelanjutan negeri ini. Bila Pemuda Tahun 1928 bersumpah untuk: Bertanah Satu,Berbangsa Satu, dan Berbahasa satu, seperti apa Aktualisasi peran itu saat ini?
Kembali ke tema basi di awal. Peran terbaik adalah melakukan hal terbaik yang kita jalani saat ini. Pelajar tekunlah belajar, Pekerja tekunlah bekerja. Pejabat tunjukkan pengabdian sebagai abdi bangsa. Saat satu sisi telah berjalan pada jalur yang benar, bangsa ini akan kembali ke jalur yang benar.
Gampang amat solusinya?
Siapa bilang susah. Bila kita menganggap susah berarti tanda-tanda kita menuju ke'basi"-an ada dalam diri kita. Ah basi bangetpostingan-ku kali ini. Yah Setidaknya masih berusaha untuk tidak selalu basi.....

NB :Gambar diambil dari pemuda masa kini

[+/-] Selengkapnya...

Selamat Hari Blogger Nasional 2008



Ternyata hari ini adalah hari Blogger Nasional.
Meskipun aku termasuk Newbi dan kacangan dalam urusan nge-blog tak apalah aku ikut menyemarakkan ruang sosialita yang semakin menyebar di masyarakat dunia maya ini. Budaya Nge-Blog sendiri di Indonesia jika tak salah telah berkembang di awal tahun 2000an. Sekarang menurut Wicaksono sebagai Chairman Pestablogger 2008, saat ini blogger di Indonesia berjumlah tak kurang dari 500.000 pe-blogger.

Hari Blogger Nasional
Hari Bolgger Nasional sendiri dedeklarasikan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Mohammad Nuh tanggal 27 Oktober 2007. Deklarasi bersamaan dengan penyelenggaraan acara Pesta Blogger 2007 di Blitz Megaplex Grand Indonesia, Jakarta.
Pesta Blogger 2007 sendiri adalah sebuah acara gathering para blogger Indonesia yang dihadiri hampir 500 orang perwakilan dari banyak komunitas blogger Indonesia. Acara tahun pertama itu mengusung tema “Suara Baru Indonesia” dan didukung oleh Departmen Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia.
Pesta Blogger 2008 sendiri akan bertema “Blogging for Society” yang rencananya akan digelar pada hari Sabtu, 22 November 2008, di Gedung BPPT II, Lantai 3, Jl. MH Thamrin no. 8, Jakarta (seberang Hotel Sari Pan Pacific). Acara Ini diperkirakan dihadiri sekitar 1000 blogger se-Indonesia.
Akhirnya Selamat Hari Blogger Nsional  untuk semua Blogger di Indonesia.
Semoga membuat Indonesia lebih semarak lagi . Salam Hangat...

NB: Bagi yang ingin berpatisipasi di Pesta Blogger 2008
Bisa melihat Info lengkap Pesta Blogger 2008 ada di : pestablogger.com

[+/-] Selengkapnya...

Memilih "Kaca Mata" dalam Melihat Krisis



Kehidupan bukan soal kepada peristiwa apa yang sedang terjadi, tetapi soal bagaimana kita menghadapi peristiwa itu. Atau lebih jauh mengutip Randy Pausch ( Last Lecture); “Kita tidak bisa mengubah kartu-kartu yang dibagikan kepada kita, kecuali bagaimana cara kita memainkannya”. Perlu kacamata yang tepat untuk melihat segala peristiwa yang terjadi. dalam bahasa lebih awam cara pandang kita. Terus kacamata apa yang tepat untuk melihat kondisi  krisis global saat ini?

Krisis global yang bermula dari macetnya kredit perumahan Subprime Mortgage di Amerika. Rontoknya lembaga keuangan raksasa Lehman Brother disusul anjloknya pasar bursa dikhawatirkan akan menjadi resesi dunia berkepanjangan. Rontoknya Imperium Ekonomi Amerika membuat banyak analisis berpendapat ini pertanda akhir Ekonomi Liberal Kapitalis. Setauku ekonomi Amerika dan kebanyakan Negara maju banyak disokong oleh sektor keuangan (dengan segala macam pembiayaan) yang biasa disebut “ekonomi lipstick”. Ekonomi didasarkan pada “optimisme berlebih”, sehingga menimbulkan gelembung kosong pertumbuhan yang akan meledak suatu waktu.
Melihat Posisi Ekonomi Indonesia.
Sebagai salah satu anggota ekonomi global, pastilah Indonesia kena getahnya. Indeks Bursa anjlok, Rupiah melemah dan akhirnya kepanikan yang tak perlu dimanfaatkan pihak tak bertanggung jawab (baca para spekulan).
Sebenarnya kita harus melihat krisis ini dengan kacamata yang berbeda. Secara riil bursa saham di Indonesia masih sedikit kontribusinya dalam ekonomi dalam negeri.Menurut para ekonom cuma sekitar 5% saja. Ekonomi kita banyak bergerak di sektor riil dan terbukti lebih tahan krisis seperti usaha di bidang UKM. Memang dampak krisis keuangan di AS menjadikan efek domino kepada kita. Kepanikan para investor –yang kebanyakan asing- banyak menjual saham yang berakibat turunnya indeks. Para investor asing mengalihkan dananya ke luar yang berakibat nilai Dolar AS naik. Ironisnya ekonomi kita memakai kondisi psikologis yang didasarkan nilai Dolar. Dolar naik ekonomi panik ditandai harga yang semua naik karena kita telah kebanyakan barang import.
Singkatnya kita harus melihat kondisi sekarang dari sudut padang peluang. Mengambil hikmah dari “Gelas Setengan Isi atau setengah kosong”, ini adalah turning point kita untuk bangkit. Contoh sederhana adalah:
1. Kita harus menguatkan kekuatan ekonomi dalam negeri dalam bentuk: “ Kemandirian”.
Simpel tetapi susah karena kita sudah masuk dalam pusaran kapitalisme global.
Satu contoh ; Ekonomi riil nonformal adalah wujud kemandirian rakyat. Sudah saatnya fokus kita adalah menguatkan pertumbuhan sektor ini dengan semakin memudahkan kredit UMKM.
2. “Cinta Produk dalam negeri” sudah saaatnya bukan sebatas slogan tetapi menjadi kebutuhan bersama.
Iklan Politik Prabowo mungkin agak relevan dengan kasus ini, produk kita tidak kalah dengan luar negeri dan sudah saatnya porsi konsumsi -bentuk maupun cara - dalam negeri kita tingkatkan. Kalau bukan kita, siapa lagi?
3. Produk Ekspor berbahan baku lokal haruslah punya “Added Value”
Pengolahan hasil pertanian atau sumber daya alam lainnya akan membuka lapangan kerja dalam negeri dengan adanya industri pengolahanya. Sekali lagi kemandirian
4. Percaya kepada Kebijakan Pemerintah .
Kepanikan yang terjadi selama ini karena ekonomi fundamental Indonesia kurang kuat dan sering termakan oleh isu tak bertanggung jawab, bukan percaya sepenuhnya pada kebijakan dan advice dari pemerintah.

Melihat peristiwa memang harus jelas dan tau posisi kita sebenarnya. Bila kita kurang jelas melihatnya, ambillah "kaca mata" yang tepat untuk membantu dengan jelas melihat. Salah Kaca mata akan berakibat salah baca yang berujung salah keputusan.

NB: Gambar ilustrasi diambil dari  sini dan diolah seperlunya

[+/-] Selengkapnya...

Dari Laskar Pelangi untuk Kita…



Setelah beberapa kali gagal mendapatkan tiket “Laskar Pelangi”, sabtu kemarin kesampaian juga menonton film ini. Sejenak mengikuti santainya para birokrat kita melupakan hantu krisis yang menghantui dunia ini. Bila dunia sedang membuka aib “kebobrokan” Ekonomi Amerika karena keserakahanya. Film ini sederhana saja membantu menemukan satu hal yang hilang dari negeri ini. Kesejanakan yang menghibur dan menginspirasi…


Secara teknik pratis film ini memang di atas rata-rata kualitas film Indonesia. Gambar yang indah yang menggambarkan Belitong yang memang indah. Kasting pemain yang dikhawatirkan banyak pengamat justru dijungkirbalikkan. Akting ke sepuluh anak sangat alami, karena mereka sepeti melakoni keseharian mereka. Logat melayu belitong yang khas menambah film ini terasa enak untuk diikuti.
Plot cerita yang setia dengan novel membuat setiap adegan mencoba menjawab imajinasi kita akan cerita dalam novel.Memang sih pasti ada yang belum sepenuhnya terjawab karena memang visulaisai tak akan menjawab 100 persen imajinasi kita.
Memori semangat masa kecil dan pentingnya kita mempunyai mimpi masa depan menjadi tema yang ditegaskan oleh Riri Riza. Ironi sebuah sekolah dasar Muhammadiyah yang berhasrat eksis untuk sebuah tujuan mulia; mengajarkan nilai pendidikan secara utuh. Dalam sebuah adegan Pak Harfan menegaskan bahwa sekolah ini bukan bertujuan menilai kepandaian anak-nakanya hanya dengan nilai-nilai, tetapi kecerdasan dan kepribadian yang berasal dari hati. Akhlakul karimah, bisa jadi satu kata untuk menjelaskan tujuan itu atau dalam istilah umum “manusia unggul”. Terselip juga pesan kehidupan tentang makna memberi sebanyak-banyaknya bukan menerima sebanyak-banyaknya. Jadi ingat postingan beberapa bulan lalu tentang memberi dan menerima. Kembali ke Ironi pendidikan, ini memang jamak kita temui di seluruh negeri ini, bahkan di pelosok pulau jawa pun saat ini masih saja terjadi.Semangat mengajar “pahlawan tanpa tanda jasa” tak diimbangi hasrat besar penguasa dalam kebijakan.
Kekuatan mimpi dengan tantanganya, mau tidak mau mengingatkan kita semua akan sesuatu yang hilang dalam bangsa ini. Inilah Indonesia yang sesungguhnya kata Presiden SBY setelah menonton film ini. Tokoh Lintang yang justru terlihat lebih dominan dibanding Ikal menunjukkan semangat itu. Sayang adegan akhir dari ironi ini menurutku kurang tergarap lebih dramatis oleh Riri Reza.
Sebagai sedikit kritikanku; mungkin banyak adegan yang tak dieksekusi secara tuntas. Mungkin saking banyaknya adegan penting dan terimajinasi kuat di benak penonton - tentunya bagi yang sudah baca novelnya- dia harus relistis memilahnya.
Setidaknya, tema dan pesan yang akan disampaikan telah tercapai oleh film ini. Secara sederhana film ini sekedar merenung sejenak akan ;
Satu kepastian diantara berbagai ketidakpastian negeri ini
Satu optimisme diantara berbagai ketidakoptimisme negeri ini.
Dan mengingatkan satu yang hilang diantara banyak yang hilang dari negeri ini…


NB:gambar diambil dari sini

[+/-] Selengkapnya...

Satu Tahun dalam Satu Episode Kartun



Bisa jadi ini hal yang tak terlalu penting, bahkan terkesan remeh-temeh. Tetapi sindiran yang agak menggelitik, tak ada salahnya aku comot dari kartun si Beny n Mice Kompas minggu lalu sebagai bahan renungan kita.
Pertama kita akan pasti tertawa melihat cerita dalam adegan ini.
Tetapi sejenak kemudian pasti kita terhenti, bukankah kita menertawakan diri kita sendiri?

Rutinitas kaum urban yang mencari penghidupan di kota. Kerja keras dan rutinitas dalam keseharian, bisa jadi tanpa jeda. Di hari lebaran kita berhasrat merayakan perjuangan kita di kampung halaman. Bagi-bagi kebahagiaan dengan sesama, dan ini mungkin kebahagiaan tertinggi manusia ; “berbagi”. Puncak dari upaya menunjukkan pencapaian kita. Pada akhirnya jeda itu selesai dan kembali ke ritme semula, dan mulai dari nol..
Sesimple itukan hidup kita (khususnya kaum urban)? Saking simplenya hanya cukup diwakilkan dalam sebuah episode kartun.
Nyatanya hidup itu memang simple, kita saja yang membuat hidup ini rumit…

NB; Gambar diambil dari Kompas edisi e-paper

[+/-] Selengkapnya...

Akhirnya Kembali (lagi)..



Bila kehidupan punya jeda, Lebaran adalah satu dari jeda itu...
Bila kehidupan perlu Perayaan, Lebaranlah puncak perayaan itu.
Bila Kehidupan perlu Silaturahmi, lebaran-lah puncak selebrasi silaturahmi.
Bila Kehidupan adalah perjalanan menuju kampung akherat. Lebaran adalah pulang ke kampung halaman.
Bila Kehidupan perlu makan enak, Lebaranlah waktu makanan enak muncul bersamaan...(
mak nyuss)...
Lebaran adalah kehidupan, dan juga Perayaan kehidupan…
.


Tradisi mudik tahunan untuk merayakan lebaran tak lekang oleh waktu, bahkan semakin menunjukkan sebagai "tradisi abadi" bangsa ini. Toh di tengah semakin mudahnya orang bersilaturahmi dan bersapa dengan semakin luasnya jaringan informasi, belum afdol jika belum mudik bertemu sanak saudara.
Lebaran mempunyai banyak arti bagi banyak orang. Setelah satu bulan berpuasa, satu tahun beraktifitas (bisa jadi tanpa jeda). Bila dalam konteks agama puasa adalah menuju manusia bertaqwa , maka dalam konteks masyarakat lebaran merupakan akhir dari proses manusia yang “eling lan waspadha”. Selalu ingat dan waspada, adalah arti taqwa secara sederhana. Lebaran selalu saja mengingatkan segalanya.
Merayakan Kehidupan ?
Bila sebuah kehidupan layak dirayakan, kapan saat tepat merayakanya? Bagi sebagian orang (baca kaum urban) lebaran-lah waktu yang tepat. Kerja setahun tanpa henti, tanpa jeda, demi mendapatkan kehidupan layak. Lebaran waktu yang layak untuk menunjukkan keberhasilana pencapaian itu. Proses ini telah ter-Komodifikasi dalam bentuk pencapaian material. Seseorang yang berhasil maerantau dengan membawa capaian keberhasilan dalam bentuk-bentuk berwujud material. Kendaraan yang mewah, dandanan modern, kantong tebal, adalah beberapa contoh diantara parameter keberhasilan.
Bagiku lebaran adalah rehat sejenak dari rutinitas untuk kemudian berevaluasi menata kembali rencana masa depan. Bila orang beresolusi di awal tahun, aku berusaha punya resolusi di lebaran ini untuk minimal satu tahun ke depan untuk mewujudkan rencana yang belum tercapai. Banyak dan tak akan selesai tertulis dalam satu lebar kertas folio.
Mendadak Filosofis nih...
Akhirnya jeda itu berakhir juga…
Akhirnya kembali lagi menjejaki Jakarta dengan hiruk pikuknya....
Merayakan kehidupan sehari-hari yang sebenarnya…
"Ke Jakarta aku akan Kembali " kata Koes Plus....

[+/-] Selengkapnya...