"Ritual Gunung Kemukus" di Gramedia Matraman

Mitos sepertinya menjadi satu sisi yang mengiringi realitas kehidupan masyarakat kita, entah dipercayai ataupun cukup berhenti pada posisi mitos belaka.
Sabtu kemarin sempet mengikuti Bedah Buku sebuah Novel berlatar Mitos (atau kenyataan sejarah?) dari penerbit medioker berjudul “Ritual Gunung Kemukus’ di Fuction Hall Gramedia Matraman lantai 2 Jakarta pusat. Dengan pembicara : Ahmad Sobary, Happy Salma dan F. Rahardi sebagai penulis, diskusi lumayan menarik diikuti. Tentu saja bercerita tentang mitos yang berkembang seputaran tempat wisata di sekitaran kampung halamanku di Sragen.
Ritual “srono” atau upaya meminta peningkatan kesejahteraan (kekayaan) dalam usaha mereka di Tempat Wisata Gunung kemukus ini sangat menarik diceritakan. Cerita tentang Pangeran (tokoh yang diziarahi) sendiri memang banyak sekali versi yang berkembang di masyarakat.
Cerita tentang Pangeran Samudra yang berkembang di masyarakat sendiri kurang lebih begini:
Pangeran Samudra sebagai anak Girindrawardhana atau Raja Brawijaya VI, dan Nyai Ontrowulan sebagai salah satu selir sang raja saling jatuh cinta. Sedangkan Prabu Brawijaya sendiri telah Moksa seiring dengan bubarnya majapahit. Mereke ke Demak untuk menikah, tetapi karena kecantikan Nyai ontrowulan, banyak petinggi Demak yang Jatuh cinta padanya dan mengejar-ngejar dia dan menggagalkan pernikahan mereka. Mereka Lari ke selatan untuk menyelamatkan diri. Di sebuah daerah hasrat keduanya tidak bisa ditahan lagi, sehingga mereka melakukanya di alam terbuka. Ketika itulah pasukan demak datang dan hubungan mereka terhenti. dan mereka dibunuh. Mereka dikubur dalam lubang yang sama. Tempat mereka erbunuh mengalir air yang jernih dan dinamai Sendang Ontrowulan. Dan Di makam mereka ada kukus (asap) dan adaa suara menggelegar; wahai Manusia, barangsiapa ma datang ke tempat ini dan bisa menyelesaikan hubungan suami istri kami yang belum selesai, sebanyak tujuh kali, maka segala permintaan kalian, akan dikabulkan oleh Dewa Bathara yang Maha Agung.
Berbeda dengan versi yang berkembang di masyarakat, Pemerintah lewat Pemda Sragen mengubah cerita dengan tujuan memperbaiki citra kawasan wisata; Cerita yang berkisah tentang seorang tokoh penyebar agama Islam di sekitar daerah bukit ini (kelak dinamakan Kemukus). Pangeran Samudra meninggal dalam dakwah kemudian dikubur di atas bukit di bawah pohon nagasari. Ibu tiri pangeran yang bernama Nyai Ontrowulan sangat bersedih atas kematianya sehingga menyusul ke daerah ini hingga meninggal. Nyai Ontrowulan dikubur di sebelah kuburan anak tirinya ini.
Sebagaimana di Novel ini, aku juga tak tahu pasti alasan pemerintah punya versi lain dengan versi berkembang turun-temurun di masyarakat.
Sudut pandang Pemerintah daerah jelas sangat ambigu sebagai upaya membersihkan kesan negatif tempat ini dengan tujuan pragmatis, meningkatkan jumlah pengunjung dan pemasukan PAD.
Sejak kapan cerita ini diyakini oleh masyarakat dan Sejak kapan pastinya tradisi ziarah dan wisata ini berlangsung, aku kurang bisa memastikan. Sejak aku kecil dan masih hidup di sekitar Gunung Kemukus sampai proyek Waduk Kedung Ombo yang memisahkan area ini dengan kampungku sekarang.
Mungkin bagi yang belum mendengar tentang tempat ini pasti tidak percaya masih ada kepercayaan di masyarakat tentang ritual "berbau prostitusi" ini. Memohon diberi kemudahan dalam berusaha di Gunung Kemukus melalui perantara Pangeran Samudro da Nyai Ontrowulan secara nalar ketauhidan (sudut pandang agama) jelas sebuah kesyirikan tingkat tinggi. Mitos tujuh kali melakukan hubungan suami istri dengan pasangan yang sama namun bukan dengan istri atau suami kita sepertinya kok memang sebuah pemikiran “yang tak masuk akal. Tetapi terlepas dari semua itu, inilah kenyataan dan ironi di masyarakat kita.
Wujud perlawanan ketidakadilan?
Satu bagian di Novel “Ritual Gunung Kemukus’ juga menyitir tentang adanya bentuk perlawanan dari ketidakadilan yang dialami masyarakat miskin. Dalam novel yang diwakili oleh tokoh Sarmin seorang Penjual Bakso yang terlilit beban ekonomi. Atas desakan istri juga dia menjalani "srono" ini untuk meminta usahanya laris. Pada akhirnya tokoh ini tersadar dengan sebuah realitas manusiawi usaha yang berhasil harus dengan jalan dan usaha yang benar, bukan dengan tujuh kali ke Gunung Kemukus menjalani "ritual melenceng" dengan istri orang lain. Tokoh ini digambarkan berjuang untuk keluar dari ketidakadilan. Jika seorang penguasa dengan bebasnya melalukan segalanya tanpa rasa bersalah, tak ada yang salah dengan usahanya demi eksistensi hidup anak istrinya.
Sampai pada titik ini aku kurang sepakat dengan alasan perlawanan ketidakadilan. Ketidakadilan bisa jadi tantangan kehidupan untuk kita belajar menuju keadilan. Meskipun begitu kita tak sepenuhnya bisa menghakimi orang yang percaya akan ritual mencari pesugihan ini. Pemaksaan kebenaran kepada sesama adalah wujud ketidakdilan juga kata M. Sobary menanggapi hal ini.
Yang menjadi kunci adalah kepercayaan di dalam diri kita masing-masing. Kita harus menanamkan fundamentalisme ketauhidan dalam diri kita sendiri. Kepercayaan spiritual seseorang datang dari proses yang tak akan bisa dipahami orang lain. Melakukan ritual ini di Gunung kemukus adalah untuk yang percaya dan kita tak bisa memaksa untuk tidak percaya.
Bedah Buku dan launching Buku " Ritual Gunung Kemukus" di Gramedia Matraman sabtu kemarin sepertinya memberikan satu kenyataan yang sebelumnya jauh dari sudut pandang kita.

18 komentar:

nita mengatakan...

novel berdasarkan mitos atau sejarah selalu menarik. seperti novel kolosal kayak mahabharata...seruu banget apalagi dibandingin chicklit sama roman2 percintaan...hahaha..jelas gak sebanding ya

Anthony Harman mengatakan...

Wah, bisa2 tempat itu dijadikan tempat berlomba2 melakukan hubungan seks tujuh kali donk

Anonim mengatakan...

Ow, ternyata "laku kanggo golek srono" di Kemukus itu gitu to..brarti di sekitar situ banyak joki ya..He2...

ifoell mengatakan...

wah.. mitos apaan nih ya..??

Budi mengatakan...

Indonesia memang banyak daerah yang memiliki sejarah dan budaya

Ani mengatakan...

Kayaknya menarik utk dibaca nih...

Bagus Pras mengatakan...

saya sudah membaca..., menarik sekali untuk dibahas, bukan saja dari sudut agama, sejarah maupun mitos. tetapi juga dari sudut ekonomi dan politik. Lengkap dah pokoke.

Dan suka atau tidak suka, itulah yang terjadi disana. tinemb

Bazoekie mengatakan...

@nita:
mungkin mitos lebih kuat di benak kita ya mbak
@anthony:
he2..jangan2 sudah kok kang:
@Anonim:
joki banyak kok mas.mau tipe apa?he2
@ifoel:
mitos yang nyrempet saru mas:
@budi:
termasuk budaya yang nyrempet2 ya mas.
@ani:
ayo mbak buruan beli bukunya
@bagus prast:
benang merahnya memang kepercayaan kok kang, tarikanya ya ke dasar agama juga.

uNieQ mengatakan...

waktu kuliah dulu,cc pernah ke sini, tp kesananya bukan pas tanggal orang banyak ziarah..jadi ga liad ritualnya gitu deyh..

tiap tahun niyh gunung rame banged,, buat orang2 yg percaya klo bisa kaya datang kesini..

'ritual melenceng' yg terjadi di gunung ini khan emang udah bertahun2 terjadi..malah khan 'ritual melenceng'nya itu di tempat umum khan???..

sayang, pas cc kuliah psikologi sosial, ngambil sampelnya ga kesini, tp kePATI, daerah penghasil prostitusi terbanyak, jadi cc juga masih kurang info tentang tempat ini, selain cerita dari dosen hehehe

prihandoko mengatakan...

sebuah cerita rakyat yang baru kudengar...tapi kok yo ritual ini diteruskan? ternyata memang budaya kita masih banyak yang mengandung cerita-cerita yg "ajaib"

ciwir mengatakan...

ahh.. itu semua cuman mitos dan melegenda...
menurutku sih apa yang dilakukan pemda sragen dengan mengubah dan mengkarang2 certita seperti itu adalah menodai kesucian ISLAM...

PEMDA SRAGEN HARUS MENGKLARIFIKASI !!

boging cah sarimulyo mengatakan...

ada beberapa pendapat tentang prlaksanaan ritual di gunung kemukus.
1. orang datang kegunung kemukus hanya untuk berziarah kemakam leluhur(seperti makam2 lain yang dikeramatkan)
2. orang datang dengan tujuan untuk ngalap berkah (mencari pesugihan) digunung kemukus. kebanyakan dari luar daerah, ada juga yang dari jakarta, jawa barat, jawa timur hanya untuk ngalap berkah di gunung kemukus.
3. kalau menurut saya :ada juga sebagian orang yang datang ke gunung kemukus bertujuan untuk sekedar mengkonsumsi seks saja, mereka mengartikan gunung kemukus sebagai tempat lokalisasi. artinya pelaksanaan ritual pesugihan di gunung kemukus hanya dijadikan KEDOK semata!!!!!
ingin lebih jelas?
baca juga skripsi saya ya???qiqiqiqi
ato hubungi saya lewat email m_yatano@yahoo.co.id
maturnuwun.........

kristanto mengatakan...

jadi pengen ke gunung kemukus

Anonim mengatakan...

iiiihhh naaaajjjjiiiisssssss.......

pess 2013 mengatakan...

Thank you so much for the very useful information for me

xavi mengatakan...

terimakasih atas sharenya, beginilah indahnya saling berbagi satu sama lain

obat herbal kencing manis mengatakan...

jadi ini tidak benar atau gimana ya?

Raga Sukma mengatakan...

Benar itu,tapi syarat sebenarnya yg manjur adalah berhubungan badan dgn selingkuhan sebanyak Tujuh kali tanpa lepas Anunya lho.. Jadi Tujuh kali keluar tanpa copott!!!
Dijamin dech bisa kaya!!!

Tapi kaya apa yaa????????????hahahahahaa