Menanti Fenomena Kedua "Ayat-ayat Cinta"


Selain beberapa film lokal yang akan beredar dalam waktu dekat ini, aku begitu sangat menunggu film ini yang begitu membuat penasaran. Ayat-ayat Cinta, sebuah film Produksi MD Entertainment yang mempercayakan penyutradaraannya kepada sosok Hanung Bramantyo memang layak dinantikan.Tak hanya ide cerita yang baru untuk ukuran film Indonesia karena memang novelnya yang laku keras bak kacang telor dijual murah,tetapi juga respon pasar yang begitu menunggu film ini (menurut aku sih antusias) yang bisa jadi anti klimaks dibanding dengan novelnya.

Dalam beberapa wawancara di beberapa majalah, sang sutradara berkeyakinan dengan idealis dia adalah sebuah ekspresi yang terserah mau dikomentari seperti apa oleh penonton.Dalam wancaranya dengan majalah "Cinemagz" misalnya dia berkata pasti penonton akan kecewa karena penggambaran tokoh utama yang akan jauh dari apa yang kita kira.Tetapi itulah yang akan dia lemparkan kepada pecinta seni khususnya film yang diangkat dari sastra tulis.

"Ayat-Ayat Cinta" karya Kang Abik -nama panggilan Habiburrahma el Sirazhy-sendiri dalam bentuk novel bercerita tentang Tokoh Fahry sebagai sosok yang begitu ideal dalam pandangan umum; ganteng,cerdas dan alim -karena rajin ikut Tallaqi untuk menjaga hafalan tiap juz Al-Qur'an-. Mungkin salah satu kelemahan dia karena dia lahir dan dibesarkan dalam keluarga pas-pasan di Jawa.Fahry kuliah di Universitas Al-Azhar Kairo bertetangga dengan Maria sebagai wanita dari Kristen Koptik yang toleran.Dalam sebuah perjalanan di Trem tak senganja dipertemukan dengan Aishah sebagai seorang muslim Jerman ber-cadar. Singkat cerita berbagai cerita dan kejadian akhirnya keduanya dipertemukan dalam sebuah pernikahan. Disamping pertemuan dan jalan cerita yang terlihat selalu kebetulan,apalagi jika bukan karena sang tokoh yang banyak digandrungi para wanita. Begitu ideal emang tetapi itulah yang akan ditawarkan sebagai novel psikologi pembangkit jiwa, lalu bagaimana dengan filmnya?.

Dalam wawancaranya dengan majalah Islam "Az-Zikra" Hanung berpendapat film itu adalah hasil kompromi -dalam bahasaku- antara Idealis Syar'i penulis dengan idealis pasar+kekinian yang diwakili dirinya . Dalam pandangan Hanung tidak akan mungkin dia memvisualisasikan sosok Fahry sebagai sosok yang melangit. Sekarang bukannya jaman sosok pemuda "Catatan Si Boy" lagi yang alim, kaya, ganteng lagi. Farry harus digambarkan sebagai sosok manusia biasa.

Dalam sebuah kejadian yang dalam pandangan Hanung sebagai sebuah makna Religiusitas adalah saat Fahry dipenjara, kemuadian dia mengeluh pada Allah "Ya Allah aku sudah patuh pada Qu'an dan SunnahMu, kenapa aku masih dipenjara?'' . Saat Proses Kesadaran Fahry bahwa manusia adalah tempanya khilaf dan menjadikan kejadian tersebut sebagai ujian kenaikan derajat manusia adalah sebuah makna yang sangat religius bagi Hanung.

Terlepas suka atau tidak suka kita terhadap Film yang berbau menggurui, Film ini menurutku layak ditunggu karena bisa menjadi jalan tengah (atau jalan ketiga jiak agak meluas seperti ungkapan Anthony Giddens?) antara film percintaan yang terkesan didominasi unsur syahwati dengan film yang menuntun kita menuju insan yang punya tuntunan.

Akhirnya, bila dalam bahasa Dedi Mizwar kita jangan hanya memberi tontonan tetapi juga harus memeberi tuntunan kepada masyarakat, maka dalam pendapatku film bagus dan tidak bagus adalah jika kita masuk bioskop kemudian menonton dan dapat satu hikmah atau setidaknya mengubah paradigma kita tentang suatu masalahatau persoalan ,maka film itu berhasil. Kita tunggu saja, karean saat aku tulis ini film itu baru diputer di Palsa Senayan XXI.Berharap datangnya Lembayung langit senja yang indah tampaknya memang menyenagkan walau pada akhirnya sore ini datang dengan hujan dan petir. Salam pecinta film bermakna.
Bravo Kang Abik, Bravo Hanung...Ciayo