Perubahan



Kalimat perubahan akan selalu sejajar dengan kondisi suatu masa yang tak menentu. Kata-kata berubah selalu disuarakan bila kita diliputi kejumudan dan stagnasi dalam segala bidang. Pertanyaaanya, sejauh mana perubahan itu harus disikapi.

T :“ menurut anda gimana kangmas? Sudah berubah belum ya negeri ini?
J :“Susah pakdhe mengungkapinya, sudah banyak sih yang mengatakan berubah, tapi kok kondisinya kaya gini terus.


Perubahan memang tak hanya sebuah jargon semata, ambil satu contoh kasus semboyan;
Jargon Pemerintah SBY-JK dia awal pemilu presiden “Bersama kita Bisa”.
Kata bersama berarti interdependen, saling memerlukan, saling ketergantungan, begitu kata Jakob Sumardjo. Sedangkan “Bisa” menurutku adalah dapat melakukan segala hal, apapun rintangannya. Bisa bila diucapkan dengan kata-kata lantang -seperti yang diucapkan SBY di puncak hari kebangkitan nasional di Gelora Bung Karno 20 Mei 2008- adalah sebuah wujud keyakinan, komitmen, dan terakhir frame bertindak kita mengatasi segala permasalahan.
Tetapi melihat kenyataan yang ada, itu semua masih sebatas semboyan, bukan paradigma atau cara kita berpikir dan bertindak.

Kembali ke Tema Perubahan, perubahan tak akan ada jika kita tak berubah juga. Kenyamanan, kemalasan, ketakutan, penindasan dan kemandegan berpikir adalah musuh dari perubahan.

T :“ Terus kenapa kita tidak bisa berubah, Kangmas??
J :”Berubah memang bukan di mulut saja kok Pakdhe, perlu kerja keras dan Komitmen. Bukan Semboyan belaka Pakdhe
.

Pagi ini Rheinald Kasali pagi ini menulis tema perubahan lagi. Entah berapa kali dia menulis tema ini di buku dan esai-esainya. Dia berulang-ulang berkata pentingya “perubahan”. Selama belum terlihat perubahan di negeri ini, wacana seperti yang digaungkan RK ini akan selalu up-date.
“Perubahan memang belum tentu membawa sesuatu ke arah lebih baik, tetapi tanpa perubahan kita tak akan mampu mencapai pembaruan dan kemajuan”, demikian ungkap RK di Kompas pagi ini.
Perubahan akan selalu membawa harapan baru. Barack Obama maju sebagai calon presiden AS juga karena suara perubahan yang dia gaungkan. SBY-JK menang juga menang di Pilpres 2004 juga karena harapan perubahan yang dia usung.
Pertanyaan yang muncul, kenapa begitu banyak kata “perubahan” tetapi kondisi tidak berubah?. Untuk menjawab ini bisa seratus halaman menjelaskanya.
Tetapi yang paling penting kita perlu meneruskan semboyan “Berubah” menjadi paradigma bersama. Kita harus secepatnya berubah… menuju kemajuan.

T : Apanya yang kira-kira harus kita rubah , kangmas?
J : Banyak pakdhe. Pakde yang "banyak omong" itu juga harus dirubah menjadi “banyak kerja”.

Gubrak….!!!  kata Intan Nuraini.

Hahaha….Ternyata saat semangat perubahan diucapkan, kita sendiri sejenak terlupa bahwa kita juga harus berubah..