Teror Baru




-Gambar courtesy KOMPAS--

Heboh UN tahun ini terasa lebih menakutkan dibanding tahun-tahun sebalumnya. Disamping dinaikkanya standar kelulusan juga ditambahnya mata kuliah penentu kelulusan yang membuat beban siswa semakin berat.
Yang lebih menghebohkan justru kejadian di SMA Negeri 2 Lubuk Pakam, Deli Serdang,. Belasan guru yang sedang mengganti jawaban ujian nasional Bahasa Inggris siswa-siswi di sekolah itu digerebek polisi. Tidak tanggung-tanggung, penggerebekan dilakukan oleh anggota Detasemen Khusus 88 Antiteror (Kompas, 26/4/2008).
Yang jadi pertanyaan, setahuku Densus 88 bukankah kelompok pasukan intelejen yang bertugas menaggap pelaku teroris di negeri ini? Sepertinya tim ini lagi sepi order sehingga “ngompreng” di jalur UN karena dana yang bergulir untuk event tahunan ini lumayan besar.
Disamping teror yang berwujud sebuah pasukan , kini memang masyarakat khususnya kaum siswa setiap akhir periode sekolah telah dihantui oleh sebuah teror bernama Ujian Nasional (UN).
Menurutku memang bukan sesuatu hal yang baru memang ujian akhir penentuan kelulusan. Dahulu di jaman aku sudah ada EBTA dan EBTANAS sebagai salah satu parameter kelulusan siswa. EBTA daan EBTANAS secara psikologis juga menimbulkan tekanan saat megahadapinya. Tetapi kala itu masih kuanggap tekanan positif untuk siswa sebelum memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi atau masuk dunia kerja.Sebuah keberhasilan memang perlu beberapa parameter penilaian kuantitatif. Lalu Apa bedanya UN sekarang?Disamping sebagai parameter yang absolud, UN sengaja dijadikan pemerintah sebagai jalan pintas mengupgrade kualitas pendidikan Nasional. Dalam kasus tertentu bisa jadi hal itu bernar adanya, tetapi jika berbicara masalah keberhasilan pendidikan tentu sangat dini. Pada titik UN dijadikan parameter kelulusan tentu tak akan menyanggahnya, tetapi jika melihat absolutisme pemerintah dalam pelaksanaannya tentu kita harus mengingatkan.

Kini Indonesia sedang memasuki masa teknokrasi absolut dalam pendidikan, demikina dikata Doni Koesoema di opini Kompas hari ini (30 April 2008). Dia menegaskan absolutisme terlihat dimana belajar mengajar hanya dinilai melalui angka-angka hasil ujian yang sama sekali abai terhadap kenyataan, kesulitan, dan kompleksitas persoalan pendidikan di lapangan.
Lebih lanjut dia berkata Data nilai UN sama sekali tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi di lapangan. Nilai itu tidak berbicara sama sekali tentang bagaimana hancurnya sarana-prasarana pendidikan yang ada. Nilai UN juga tidak berbicara sama sekali tentang kualitas guru di lapangan.
Para guru membantu muridnya membenarkan jawaban murid saat UN memang sebuah kejahatan Tetapi yang lebih penting adalah mempertanyakan bagaimana hal itu bisa terjadi sangat lebih penting. Karena itu akar masalah sebenarnya, sedangkan kita selalu saja meributkan bagaimana penyelesaian ekses negative dari sebuah kebijakan.
Aku mencoba berandai jadi guru yang terteror ;
>>Guru takut nilai muridnya tidak memenuhi standart UN, Padahal dia sudah bekerja keras mengajarkannya.
>>Guru takut sekolahnya tercoreng gara-gara muridnya banyak yang gagal di UN.
>>Guru takut menjadi momok pendidikan karena prestasi buruknya.
>>Guru takut dipecat dan kehilangan masa depan gara-gara semua ini..
Pada titik dimana dia berusaha untuk keluar dari semua teror ini, Dia malah “Diciduk” oleh Tim anti Teror.
Teror baru sepertinya bukan dari sekelompok nyleneh yang menafsirkan ajaran agama secara sepihak. Tetapi teror muncul dari tim anti teror yang meyakini sebuah kebenaran atas nama absolutisme kebijakan penguasa…Naif benar.